Dulu Bisa Menabung Rp500 Ribu, Kini Tinggal Rp50 Ribu: Kisah Pedagang Bubur Ayam di PPU

Seporsi bubur ayam seharga Rp15 ribu tampak biasa bagi pelanggan. Namun di balik semangkuk sarapan itu tersimpan kisah bertahan hidup seorang pedagang kecil yang harus menghadapi kenaikan harga plastik hingga 100 persen.
Fajri
By
2.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara — Pagi itu, semangkuk bubur ayam hangat tersaji di atas meja. Sekilas, tidak ada yang berbeda. Potongan ayam, kerupuk, kuah kaldu, sambal, dan kecap masih melengkapi sajian sederhana yang menjadi pilihan sarapan banyak orang.

Namun di balik semangkuk bubur ayam tersebut, tersimpan cerita tentang tekanan ekonomi yang perlahan dirasakan pelaku usaha kecil di daerah.

Kebijakan pemotongan fiskal dari pemerintah pusat, ditambah gejolak ekonomi global yang dipengaruhi ketegangan Amerika Serikat dengan sejumlah negara mitra dagangnya, menjadi kombinasi yang menciptakan ketidakpastian ekonomi hingga ke tingkat paling bawah. Indonesia yang masih bergantung pada impor berbagai bahan baku turut merasakan dampaknya, salah satunya melalui kenaikan harga plastik yang digunakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Bagi sebagian orang, plastik mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap. Namun bagi pedagang bubur ayam, plastik adalah bagian penting dari setiap porsi yang dijual.

Wadah styrofoam, plastik pembungkus kuah, kantong kerupuk, tempat sambal dan kecap, hingga plastik pembungkus keseluruhan pesanan menjadi komponen yang tak terpisahkan dari aktivitas berjualan sehari-hari.

Usai menyantap seporsi bubur ayam di salah satu sudut Penajam Paser Utara, tim Akurasi berbincang dengan penjualnya. Sebut saja Sari, nama yang disamarkan.

Perempuan itu bercerita pelan. Matanya tampak berkaca ketika mengingat bagaimana pendapatannya terus menurun dalam beberapa bulan terakhir.

“Saya biasanya bisa nyimpan uang Rp200 ribu sampai Rp500 ribu, cukup buat bayar cicilan rumah dan kebutuhan hidup,” ujarnya.

Menurut Sari, kondisi mulai terasa berat sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri 2026. Penghasilan yang biasa ia sisihkan perlahan berkurang. Setelah Iduladha, situasinya semakin sulit.

Jika sebelumnya masih bisa menyisakan sekitar Rp100 ribu per hari, kini keuntungan yang diperoleh sering kali hanya sekitar Rp50 ribu.

Di saat pendapatan menurun, biaya operasional justru meningkat.

“Plastik yang bungkus ukuran 21 itu, biasanya saya beli harga Rp11 ribu. Sekarang saya beli di pasar harga Rp22 ribu,” ungkapnya.

Kenaikan serupa juga terjadi pada plastik pembungkus kuah. Harga yang sebelumnya Rp7 ribu kini mencapai Rp14 ribu. Plastik untuk kerupuk yang lebih tipis dan kecil pun ikut melonjak dari Rp6 ribu menjadi Rp12 ribu.

Hampir seluruh jenis plastik yang digunakan dalam usahanya mengalami kenaikan hingga 100 persen.

Meski demikian, Sari memilih bertahan.

Ia sadar kenaikan biaya produksi seharusnya diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Namun pengalaman beberapa tahun lalu masih membekas dalam ingatannya.

“Saya pernah naikkan harga beberapa tahun lalu, dari Rp12 ribu ke Rp13 ribu. Saya ingat banget, saya sudah bungkusin orang. Pas saya kasih tahu harganya naik, buburnya ditinggal. Sedih saya. Jadi saya tidak berani naikkan harga. Ini sudah jalan enam tahun di Rp15 ribu,” tuturnya.

Karena itulah, hingga hari ini harga satu porsi bubur ayam yang dijualnya tetap Rp15 ribu.

Keputusan itu memang membuat pelanggan tetap datang, tetapi keuntungan yang diterima semakin menipis. Sari hanya berharap masih ada sedikit uang yang bisa ditabung untuk membayar cicilan rumah dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Selain kenaikan biaya operasional, ia juga merasakan perubahan perilaku konsumen sepanjang 2026.

Menurutnya, pembeli tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar memilih membeli untuk dibawa pulang. Padahal, jika pelanggan makan di tempat, masih ada tambahan pemasukan dari penjualan minuman.

“Ditambah sekarang kebanyakan orang bungkus. Kalau makan di tempat kan biasanya beli minuman juga,” katanya.

Bagi Sari, berbagai angka statistik tentang ekonomi mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-harinya. Namun dampaknya hadir nyata dalam bentuk harga plastik yang melonjak, keuntungan yang menyusut, dan kekhawatiran tentang hari esok.

Di tengah semangkuk bubur ayam yang tetap dijual Rp15 ribu, ada cerita tentang usaha kecil yang terus bertahan menghadapi perubahan zaman dan tekanan ekonomi yang tak selalu mudah dipahami.

“Saya nggak tahu sampai kapan, tapi memang terasa sekali perubahannya,” jelas Sari. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana