Rudy Mas’ud Soroti Dampak Pencemaran Batu Bara Terhadap Tingginya Kasus Penyakit Jantung di Kaltim

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud ingatkan masyarakat mengenai dampak pencemaran yang ditimbulkan sektor energi berbasis batu bara. Hal inipun dikaitkan dengan tingginya penyakit jantung di kawasan ini.
Devi Nila Sari
1.9k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyoroti dampak pencemaran lingkungan dari aktivitas pertambangan batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Menurutnya, tingginya kasus penyakit jantung di Kalimantan Timur berkaitan dengan persoalan pencemaran yang ditimbulkan sektor energi berbasis batu bara.

Ia mengungkapkan hal tersebut, saat menghadiri kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kemudian, menyinggung peresmian Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan yang mulai beroperasi tahun ini. Rudy mengatakan, penyakit jantung menjadi salah satu kasus kesehatan yang paling banyak ditemukan di Kalimantan Timur.

“Jadi, jangan dekat-dekatlah dengan PLTU,” ungkapnya dalam sambutan tersebut, Rabu (23/06/2026).

Saat dimintai penjelasan lebih lanjut oleh wartawan terkait pernyataannya mengenai batu bara, Rudy menegaskan, bahwa yang menjadi perhatian adalah dampak pencemaran lingkungan.

“Kalau batu bara hanya berkaitan dengan tingkat pencemaran. Saya menyampaikan adalah berkaitan dengan FABA,” kata Rudy.

FABA merupakan singkatan dari fly ash dan bottom ash, yaitu residu hasil pembakaran batu bara yang dihasilkan PLTU maupun industri yang menggunakan batubara sebagai sumber energi.

“FABA ini adalah fly ash, bottom ash. Yang tadinya adalah limbah B3 menjadi limbah biasa,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kaltim ini menegaskan, upaya pencegahan terhadap dampak pencemaran harus terus dilakukan. Saat ditanya apakah pemerintah mulai melakukan langkah-langkah pencegahan, ia menjawab singkat, “Iya. Harus,” Singkatnya.

Prevalensi Penyakit Jantung di Kaltim Tertinggi di Pulau Kalimantan

Pernyataan Rudy muncul di tengah tingginya beban penyakit jantung di Kalimantan Timur. Data Dinas Kesehatan Kaltim menunjukkan prevalensi penyakit jantung di provinsi ini mencapai 1,08 persen, tertinggi di Pulau Kalimantan dan berada di peringkat lima nasional. Pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir juga terus memperkuat layanan kardiovaskular, termasuk pembangunan Gedung Jantung Terpadu di RSKD Balikpapan.

Saat meninjau kesiapan Gedung Jantung Terpadu pada Maret 2026, Rudy juga menyebut penyakit jantung merupakan kasus terbanyak yang ditemui di sejumlah fasilitas kesehatan di Kalimantan Timur. Gedung tersebut dibangun dengan kapasitas hingga 100 tempat tidur untuk memperkuat layanan jantung bagi masyarakat Kaltim.

Meski demikian, hubungan langsung antara paparan pencemaran dari aktivitas pertambangan maupun PLTU dengan tingginya kasus penyakit jantung di Kalimantan Timur masih memerlukan kajian epidemiologis yang lebih spesifik.

Sejumlah penelitian kesehatan menunjukkan penyakit jantung dipengaruhi banyak faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, pola makan, merokok, hingga kualitas lingkungan dan paparan polusi udara. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana