Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami kenaikan harga dalam sepekan terakhir. Pedagang menyebut meningkatnya biaya distribusi setelah kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga beberapa bahan pokok.
Salah seorang pedagang sayur di Pasar Induk Nenang, Ina (48), mengatakan perubahan harga cukup fluktuatif pada sejumlah komoditas. Namun, tidak semua bahan pangan mengalami kenaikan.
Untuk komoditas cabai, misalnya, harga justru mengalami penurunan. Ina mengaku lebih memilih mengambil pasokan dari Sulawesi karena harganya lebih murah dibandingkan cabai lokal.
“Sekarang harganya Rp42 ribu per kilogram, sebelumnya Rp45 ribu. Kalau dari petani lokal bisa sampai Rp70 ribu per kilogram, bahkan di tingkat eceran bisa Rp80 ribu. Kalau dari Sulawesi saya jual sekitar Rp60 ribu per kilogram,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Berbeda dengan cabai, harga kentang mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga beli dari pengepul naik dari Rp12 ribu menjadi Rp14.500 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual menjadi sekitar Rp18 ribu per kilogram, bahkan bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram di tingkat eceran.
“Kalau ambil yang sudah bersih dari pengepul harganya sekitar Rp16 ribu per kilogram. Kalau dijual terlalu murah, keuntungannya tidak seberapa,” kata Ina.
Menurutnya, kenaikan biaya distribusi turut memengaruhi harga jual sejumlah komoditas.
Sementara itu, harga bawang merah justru mengalami sedikit penurunan. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram, kini berada di kisaran Rp55 ribu per kilogram. Adapun harga beli dari pengepul sekitar Rp45 ribu per kilogram.
Meski demikian, Ina menyebut masih ada pedagang yang menjual bawang merah hingga Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kilogram.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada bawang putih. Jika sebelumnya ia membeli satu karung berisi 20 kilogram dengan harga sekitar Rp400 ribu, kini harganya mencapai Rp630 ribu per karung.
“Kalau bawang putih sekarang harga jualnya sekitar Rp40 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram. Padahal harga beli dari pengepul sudah Rp35 ribu per kilogram,” terangnya.
Menurut Ina, lonjakan harga bawang putih mulai terasa sejak setelah Iduladha 2026.
Untuk produk olahan kedelai seperti tempe, harga jual masih relatif stabil. Namun, ukuran tempe yang dijual saat ini cenderung lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
“Harganya masih sama, cuma ukurannya yang lebih kecil karena harga kedelai juga naik,” katanya.
Ina mengakui kenaikan harga sejumlah komoditas turut memengaruhi modal usaha para pedagang. Meski demikian, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga karena khawatir pelanggan beralih ke tempat lain.
“Mau tidak mau harus mengikuti harga pasar. Tapi kalau menaikkan harga juga tidak bisa langsung karena harus mempertimbangkan pelanggan,” jelasnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id