Suara Unik dari Uding, Alat Musik Tradisional Kalimantan Timur yang Mulai Langka

Keberadaan Uding menjadi bukti bahwa kreativitas masyarakat Kalimantan Timur mampu menghasilkan karya seni dari bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Alat musik ini menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya lokal.
Ocha Ocha
9 Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kalimantan Timur memiliki beragam kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat. Selain tari tradisional dan berbagai upacara adat, daerah ini juga memiliki alat musik tradisional dengan bentuk sederhana namun memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah Uding, alat musik tradisional Kalimantan Timur yang menghasilkan suara melalui getaran pada rongga mulut pemainnya.

 

Uding merupakan alat musik tradisional yang banyak dikenal dalam budaya masyarakat Kalimantan. Bentuknya cukup kecil dan sederhana jika dibandingkan dengan alat musik tradisional lainnya. Uding biasanya memiliki diameter sekitar 2 hingga 3 sentimeter dengan panjang kurang lebih 20 sentimeter. Meskipun ukurannya kecil, alat musik ini mampu menghasilkan bunyi khas yang menjadi bagian dari kekayaan seni musik tradisional daerah.

 

Secara bentuk, Uding menyerupai bilah kecil seperti mata pisau. Alat musik ini umumnya dibuat dari bahan alami seperti enai atau bambu yang dipilih karena memiliki tingkat kelenturan tertentu. Pada bagian ujungnya terdapat rongga yang berisi bagian kayu kecil yang berfungsi menghasilkan getaran ketika dimainkan.

 

Cara memainkan Uding tergolong unik dan berbeda dari alat musik tradisional lainnya. Pemain memegang alat musik ini menggunakan dua jari, kemudian meletakkannya secara melintang di depan mulut. Mulut pemain dibuka seperti mengucapkan huruf “a”, lalu bagian ujung Uding dipetik menggunakan jari tangan lainnya. Getaran yang muncul kemudian diperkuat oleh rongga mulut sehingga menghasilkan bunyi khas.

 

Suara yang dihasilkan Uding sangat bergantung pada kemampuan pemain dalam mengatur rongga mulut dan teknik petikan. Karena itu, diperlukan latihan agar pemain dapat menghasilkan nada yang indah dan stabil. Setiap perubahan bentuk mulut maupun tekanan petikan dapat memengaruhi suara yang keluar dari alat musik tersebut.

 

Nama Uding sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan cara penggunaannya. Istilah tersebut dipercaya berasal dari arti getaran dalam mulut, sesuai dengan sistem kerja alat musik ini yang mengandalkan resonansi dari rongga mulut pemain. Di beberapa daerah, Uding juga memiliki penyebutan berbeda seperti Ketong, Krinding, dan Tong.

 

Berbeda dengan beberapa alat musik tradisional yang sering digunakan untuk mengiringi tarian atau pertunjukan besar, Uding biasanya dimainkan secara tunggal. Alat musik ini lebih sering digunakan sebagai media hiburan pribadi atau dimainkan sebagai pertunjukan musik sederhana. Meski begitu, Uding juga dapat dimainkan dalam bentuk ansambel apabila dikombinasikan dengan beberapa pemain lain.

 

Persebaran Uding dipercaya berkaitan dengan perpindahan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karena itu, alat musik ini tidak hanya ditemukan di satu kelompok masyarakat saja. Namun, Uding lebih jarang dijumpai pada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir atau dekat dengan laut.

 

Keberadaan Uding menjadi bukti bahwa kreativitas masyarakat Kalimantan Timur mampu menghasilkan karya seni dari bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Alat musik ini menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya lokal. (*)

Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi

 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana