Kaltim.akurasi.id, Penajam – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat laju inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) tertinggi di Kalimantan Timur hingga Juni 2026. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS), inflasi kumulatif PPU sejak Desember 2025 mencapai 2,71 persen, melampaui Kota Samarinda, Balikpapan, maupun Kabupaten Berau.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah PPU, Krisna Aditama, mengatakan capaian tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pengendalian inflasi.
“Jika kita melihat data kumulatif dari Desember 2025 hingga Juni 2026, akumulasi laju inflasi di PPU memang yang tercepat dengan angka 2,71 persen, mengungguli wilayah lain di Kaltim seperti KSamarinda 2,63 persen, Balikpapan 2,24 persen, dan Berau 1,53 persen,” kata Krisna, Senin (6/7/2026).
Meski mencatat inflasi tertinggi, Krisna menjelaskan, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) PPU pada Juni 2026 masih berada pada level 0,39 persen.
Angka tersebut lebih rendah disbanding Balikpapan yang mencapai 0,86 persen dan Samarinda sebesar 0,72 persen, namun lebih tinggi dari Berau yang tercatat 0,27 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) PPU pada Juni 2026 sebesar 2,96 persen. Angka tersebut berada di bawah Samarinda yang mencapai 3,53 persen dan Berau sebesar 3,35 persen, namun sedikit lebih tinggi dibanding Kota Balikpapan yang sebesar 2,80 persen.
Kenaikan Harga Bensin jadi Penyebab Utama Inflasi
Krisna mengungkapkan, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di PPU dengan andil 0,23 persen. Selain itu, kenaikan harga bawang merah, minyak goreng, cabai rawit, dan bahan bakar rumah tangga turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
“Komoditas utama penyumbang inflasi m-to-m di PPU pada Juni ini dipicu oleh kenaikan harga bensin dengan andil inflasi sebesar 0,23 persen. Disusul bawang merah 0,09 persen, minyak goreng 0,08 persen, cabai rawit 0,08 persen, serta bahan bakar rumah tangga 0,08 persen,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar yakni daging ayam ras sebesar minus 0,17 persen, diikuti semangka minus 0,09 persen, serta sawi hijau, ikan tongkol, dan tomat yang masing-masing menyumbang minus 0,05 persen.
Menurut Krisna, Pemkab PPU bersama TPID akan terus memperkuat upaya pengendalian inflasi, terutama melalui pemantauan harga dan pasokan komoditas pangan serta energi.
“Dengan akselerasi inflasi tahun kalender yang memimpin di Kaltim, kami akan mengintensifkan operasi pasar murah, pemantauan stok di tingkat distributor, serta memastikan kelancaran jalur pasokan bahan pokok agar daya beli masyarakat PPU tetap terjaga,” tutupnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari