Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Setiap hari sekitar 200 tongkang batu bara melintasi Sungai Mahakam membawa kekayaan alam Kalimantan Timur ke pasar nasional dan internasional. Nilai ekonomi yang mengalir melalui jalur air tersebut diperkirakan mencapai Rp2,4 triliun per hari atau sekitar Rp864 triliun dalam setahun.
Namun dari angka fantastis itu, hanya sekitar satu persen atau Rp8,56 triliun yang kembali ke Kalimantan Timur melalui mekanisme dana bagi hasil sumber daya alam pada 2024.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, menilai angka tersebut menggambarkan ketimpangan besar dalam tata kelola sumber daya alam di daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia tersebut.
Menurutnya, Kalimantan Timur selama puluhan tahun menjadi tulang punggung energi nasional sekaligus penyumbang devisa negara, tetapi manfaat ekonomi yang diterima daerah masih jauh dari nilai kekayaan alam yang keluar dari wilayah ini setiap tahunnya.
“Kurang lebih ada sekitar 200 tongkang batu bara yang melintas di Sungai Mahakam setiap hari. Nilai ekonominya mencapai sekitar Rp2,4 triliun per hari atau sekitar Rp864 triliun per tahun. Tetapi yang kembali ke Kalimantan Timur melalui dana bagi hasil hanya sekitar Rp8,56 triliun,” kata Dicky.
Dana yang Kembali ke Kaltim Diperkirakan Hanya 1 Persen
Jika dibandingkan, dana yang kembali ke daerah bahkan hanya sekitar satu persen dari total nilai ekonomi batu bara yang diangkut keluar melalui Sungai Mahakam. Di sisi lain, kata Dicky, berbagai dampak lingkungan dan sosial justru tetap berada di Kalimantan Timur.
Mulai dari kerusakan lingkungan, hilangnya kawasan hutan, pencemaran air, konflik lahan, hingga lubang tambang yang belum direklamasi menjadi beban yang harus ditanggung masyarakat dan pemerintah daerah.
Data yang dipaparkan Yayasan Mitra Hijau menunjukkan, terdapat antara 1.700 hingga lebih dari 2.700 lubang tambang yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Timur dan belum direklamasi secara optimal.
Sejak 2011, sedikitnya 51 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di lubang bekas tambang, sebagian besar merupakan anak-anak.
Tidak hanya itu, lalu lintas tongkang batu bara yang padat di Sungai Mahakam juga memberikan tekanan besar terhadap ekosistem sungai, termasuk terhadap populasi Pesut Mahakam yang kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 hingga 66 ekor di alam liar.
Kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Kalimantan Timur untuk mulai memikirkan transformasi ekonomi menuju sektor yang lebih berkelanjutan.
YMH Dorong Transisi Energi Berkeadilan
Ia menegaskan bahwa transisi energi berkeadilan bukan berarti menghentikan industri batu bara secara mendadak. Melainkan mempersiapkan daerah agar tidak mengalami guncangan ekonomi ketika permintaan batu bara dunia mulai menurun akibat kebijakan pengurangan emisi karbon global.
“Kita harus mulai bertanya, apakah model pembangunan seperti ini akan terus dipertahankan? Kekayaan alam keluar dari daerah dalam jumlah sangat besar, sementara kerusakan lingkungannya tetap tinggal di sini,” imbuhnya.
Dicky menilai Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui sektor energi terbarukan, jasa lingkungan, perdagangan karbon, rehabilitasi lahan, pertanian berkelanjutan, hingga pekerjaan hijau atau green jobs.
Dia menyebut, masa depan ekonomi Kalimantan Timur tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada batu bara.
Untuk itu, transisi menuju ekonomi hijau harus dimulai sejak sekarang agar masyarakat, pekerja tambang, maupun pemerintah daerah memiliki cukup waktu untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi global yang semakin mengarah pada energi bersih dan rendah karbon.
“Batu bara telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Indonesia. Tetapi Kalimantan Timur juga berhak mendapatkan masa depan yang berkelanjutan dan adil bagi masyarakatnya,” tutupnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari