Kaltim.akurasi.id, Bontang – Sungai Kedang Pahu, yang juga dikenal dengan nama Sungai Pahu, Soengai Pahoe, atau Soengai Kedang Pahoe, merupakan salah satu anak sungai penting dari Sungai Mahakam di Provinsi Kalimantan Timur. Sungai ini mengalir di wilayah Kabupaten Kutai Barat dan memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik sebagai jalur transportasi maupun sumber daya alam.
Dengan panjang sekitar 150 kilometer, Sungai Kedang Pahu bermuara di Kecamatan Muara Pahu sebelum bergabung dengan Sungai Mahakam. Alirannya melewati tiga kecamatan utama, yaitu Damai, Muara Lawa, dan Muara Pahu. Koordinat perkiraannya berada di sekitar 0°20′ Lintang Selatan dan 116°04′ Bujur Timur. Sungai ini menjadi bagian integral dari sistem hidrologi daerah aliran sungai Mahakam yang luas.
Beberapa anak sungai yang menyuplai air ke Kedang Pahu antara lain Sungai Lawa yang mengalir melalui Kecamatan Bentian Besar, Sungai Nyuatan atau Nyuwatan di Kecamatan Nyuatan, serta Sungai Beloan, Jelau, Idatn, Nyahing, dan Perak. Keberadaan anak-anak sungai ini memperkaya ekosistem perairan dan mendukung aktivitas perikanan serta pertanian di sepanjang bantarannya.
Dari segi navigasi, sungai ini masih menjadi jalur transportasi penting bagi warga. Kapal motor dapat berlayar hingga Kampung Damai di Kecamatan Damai ketika ketinggian air normal. Namun, keberadaan Jembatan Lambing di Kampung Lambing yang merupakan bagian dari rute Trans Kalimantan Wilayah Tengah membuat kapal sungai lebih sering bersandar di Kecamatan Muara Lawa. Selain itu, terdapat Jembatan Banpu yang dibangun oleh PT TCM Banpu sebagai jalur hauling bagi kegiatan pertambangan.
Meskipun memiliki nilai strategis, Sungai Kedang Pahu pernah menghadapi tantangan lingkungan. Pada tahun 2021, aliran sungai di wilayah Kecamatan Damai diduga tercemar. Air berubah menjadi keruh dan berlumpur, sehingga memicu kekhawatiran warga. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat kemudian turun tangan dengan mengambil sampel air untuk analisis lebih lanjut.
Keberadaan Sungai Kedang Pahu tidak hanya sekadar aliran air, tetapi juga menjadi urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Dayak serta penduduk setempat. Di masa lalu, sungai ini menjadi jalur utama sebelum infrastruktur darat berkembang. Hingga kini, meskipun jalan darat semakin terbuka, sungai tetap menjadi pilihan penting bagi pergerakan orang dan barang di daerah pedalaman.
Melestarikan kualitas air dan menjaga kelestarian ekosistem Sungai Kedang Pahu menjadi tanggung jawab bersama. Upaya pengawasan terhadap kegiatan di sepanjang aliran sungai, termasuk pertambangan dan pertanian, perlu terus ditingkatkan agar sungai ini tetap bermanfaat bagi generasi mendatang. Sebagai bagian dari sistem Sungai Mahakam yang legendaris, Kedang Pahu menyimpan potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, baik sebagai jalur transportasi, objek wisata alam, maupun sumber kehidupan masyarakat Kutai Barat. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi