Bekantan Kalimantan, Hewan Khas Kalimantan Timur yang Terkenal dengan Hidung Panjangnya

Bekantan termasuk satwa herbivora yang lebih banyak mengonsumsi daun muda, pucuk tanaman, buah-buahan yang belum terlalu matang, bunga, serta biji-bijian. Sistem pencernaannya cukup unik karena memiliki lambung beruang banyak yang dihuni bakteri khusus untuk membantu mencerna daun yang berserat tinggi.
Rosi
By
269 Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Bekantan merupakan salah satu hewan khas Kalimantan Timur yang paling mudah dikenali karena memiliki hidung panjang dan besar, terutama pada individu jantan. Satwa dengan nama latin Nasalis larvatus ini hanya ditemukan di Pulau Kalimantan, sehingga termasuk satwa endemik yang menjadi kebanggaan Indonesia. Selain dikenal sebagai primata unik, bekantan juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan rawa dan mangrove yang menjadi habitat alaminya.

Sebagai anggota famili Cercopithecidae, bekantan hidup secara berkelompok dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Keberadaannya menjadi indikator penting bahwa suatu kawasan hutan masih memiliki kondisi lingkungan yang baik.

Ciri paling mencolok dari bekantan adalah hidung panjang yang menggantung pada pejantan dewasa. Hidung tersebut dipercaya berfungsi untuk menarik perhatian betina sekaligus memperkuat suara saat berkomunikasi dengan kelompoknya. Bekantan jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina. Panjang tubuhnya berkisar antara 66 hingga 76 sentimeter dengan berat mencapai 16–24 kilogram. Sementara betina memiliki panjang tubuh sekitar 53–62 sentimeter dengan berat rata-rata 7–12 kilogram.

Tubuh bekantan diselimuti bulu berwarna cokelat kemerahan pada bagian punggung dan lengan, sedangkan bagian perut didominasi warna putih keabu-abuan. Ekornya cukup panjang, bahkan bisa melebihi panjang tubuhnya, sehingga membantu menjaga keseimbangan ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Keunikan lain dari bekantan adalah kemampuannya berenang. Primata ini memiliki selaput tipis di antara jari tangan dan kakinya yang membuatnya sangat mahir menyeberangi sungai atau berpindah habitat melalui jalur perairan.

Habitat utama bekantan adalah hutan mangrove, hutan rawa air tawar, hutan riparian, serta kawasan hutan yang berada di sepanjang aliran sungai. Di Kalimantan Timur, bekantan dapat dijumpai di beberapa kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Kutai, kawasan mangrove di Delta Mahakam, serta sejumlah hutan lindung yang masih terjaga. Bekantan sangat bergantung pada keberadaan sungai. Selain menjadi sumber air dan makanan, sungai juga dimanfaatkan sebagai jalur berpindah antarkelompok sekaligus tempat berlindung dari predator.

Bekantan termasuk satwa herbivora yang lebih banyak mengonsumsi daun muda, pucuk tanaman, buah-buahan yang belum terlalu matang, bunga, serta biji-bijian. Sistem pencernaannya cukup unik karena memiliki lambung beruang banyak yang dihuni bakteri khusus untuk membantu mencerna daun yang berserat tinggi.

Bekantan hidup dalam kelompok yang terdiri atas satu pejantan dewasa bersama beberapa betina dan anak-anaknya. Dalam satu kelompok biasanya terdapat 10 hingga 30 individu, meski terkadang beberapa kelompok kecil berkumpul membentuk koloni yang lebih besar. Primata ini aktif pada pagi dan sore hari, sedangkan malam harinya dihabiskan untuk beristirahat di pohon-pohon besar yang berada di tepi sungai.

Bekantan menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat alami. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertambangan, pembangunan permukiman, serta kebakaran hutan menyebabkan populasi satwa ini terus menurun. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Nasalis larvatus berstatus Endangered (Terancam Punah). Organisasi tersebut memperkirakan populasi bekantan dewasa di alam liar hanya berkisar sekitar 9.000–11.000 individu, dengan tren populasi yang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir. Di Indonesia, bekantan juga termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan sehingga dilarang untuk diburu, diperdagangkan, maupun dipelihara tanpa izin.

Bekantan memiliki peran penting sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan hutan. Buah yang dimakannya akan menyebarkan biji ke berbagai lokasi melalui kotoran, sehingga membantu regenerasi vegetasi alami. Selain itu, keberadaan bekantan menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan mangrove dan rawa. Jika populasi bekantan tetap stabil, kondisi habitatnya umumnya juga masih terjaga dengan baik. (*)

 

Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana