Orangutan Kalimantan, Hewan Khas Kalimantan Timur yang Menjadi Penjaga Hutan Hujan Tropis

Sebagai salah satu hewan khas Kalimantan Timur, orangutan bukan hanya simbol kekayaan alam Indonesia, tetapi juga penentu kesehatan ekosistem hutan hujan tropis.
Rosi
By
164 Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Di antara berbagai hewan khas Kalimantan Timur, orangutan Kalimantan menjadi salah satu satwa paling ikonik sekaligus paling terancam. Primata besar ini dikenal memiliki tingkat kecerdasan tinggi, perilaku yang kompleks, serta peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Bahkan, orangutan sering dijuluki sebagai “penjaga hutan” karena membantu menyebarkan biji berbagai jenis pohon melalui makanan yang dikonsumsinya.

Orangutan Kalimantan memiliki nama ilmiah Pongo pygmaeus dan merupakan satu dari tiga spesies orangutan yang masih bertahan di dunia. Selain di Kalimantan, kerabat dekatnya hanya ditemukan di Sumatra dan Tapanuli. Karena hanya hidup secara alami di Pulau Kalimantan, satwa ini menjadi salah satu kekayaan hayati Indonesia yang mendapat perhatian dunia.

Orangutan Kalimantan memiliki tubuh besar yang diselimuti bulu berwarna cokelat kemerahan. Lengan mereka sangat panjang, bahkan dapat mencapai bentangan sekitar dua meter, jauh melebihi panjang tubuhnya. Adaptasi ini memungkinkan orangutan berpindah dari satu pohon ke pohon lain tanpa harus turun ke tanah.

Pejantan dewasa memiliki tinggi sekitar 1,2 hingga 1,5 meter dengan berat mencapai 50–100 kilogram, sedangkan betina umumnya berbobot 30–50 kilogram. Pejantan yang telah matang juga memiliki bantalan pipi lebar atau flange serta kantong suara di leher yang digunakan untuk mengeluarkan panggilan jarak jauh. Berbeda dengan primata lain, orangutan lebih banyak hidup menyendiri. Mereka hanya berkumpul saat musim kawin atau ketika induk merawat anaknya.

Habitat utama orangutan adalah hutan hujan tropis dataran rendah, hutan rawa gambut, hingga hutan perbukitan. Di Kalimantan Timur, satwa ini masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan konservasi seperti Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Wehea, kawasan konservasi di Kutai Timur, serta beberapa bentang hutan di wilayah Berau dan Mahakam Ulu.

Orangutan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Setiap sore mereka membuat sarang baru dari ranting dan daun untuk tidur, kemudian meninggalkannya keesokan pagi saat mencari makan.

Orangutan termasuk satwa omnivora yang lebih banyak mengonsumsi tumbuhan. Sekitar 60–70 persen makanannya berupa buah-buahan hutan, terutama buah ara (Ficus) dan durian hutan. Selain itu, mereka juga memakan daun muda, bunga, kulit kayu, madu, biji-bijian, hingga serangga. Kemampuan mengingat lokasi pohon yang sedang berbuah menjadi salah satu kecerdasan luar biasa orangutan. Mereka dapat menempuh perjalanan beberapa kilometer setiap hari untuk mencari sumber makanan terbaik.

Selain itu, orangutan dikenal sebagai salah satu hewan paling cerdas di dunia. Penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu menggunakan ranting sebagai alat untuk mengambil makanan, membuka buah berduri, bahkan memanfaatkan daun sebagai pelindung saat hujan.

Populasi orangutan Kalimantan mengalami penurunan drastis dalam beberapa dekade terakhir akibat hilangnya habitat, kebakaran hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Pongo pygmaeus berstatus Critically Endangered (Kritis). Berbagai penelitian memperkirakan populasi orangutan Kalimantan yang masih bertahan di alam liar berada pada kisaran sekitar 100.000 individu, tersebar di Indonesia dan Malaysia. Namun, jumlah tersebut terus mengalami penurunan apabila habitatnya tidak terlindungi secara berkelanjutan.

Di Indonesia, orangutan juga termasuk satwa yang dilindungi penuh sehingga dilarang diperdagangkan maupun dipelihara tanpa izin.

Orangutan memiliki peran penting sebagai penyebar biji alami di hutan tropis. Setelah mengonsumsi buah, bijinya akan tersebar melalui kotoran di berbagai lokasi sehingga membantu pertumbuhan pohon-pohon baru. Karena kemampuannya menyebarkan ratusan jenis tumbuhan, orangutan sering disebut sebagai “petani hutan”. Tanpa keberadaan mereka, regenerasi hutan hujan tropis dapat terganggu dan keanekaragaman hayati ikut menurun.

Berbagai upaya konservasi terus dilakukan untuk menjaga kelestarian orangutan Kalimantan. Program tersebut meliputi perlindungan kawasan hutan, rehabilitasi orangutan hasil penyelamatan, patroli pencegahan perburuan, hingga pelepasliaran individu yang telah siap kembali ke habitatnya. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan menjadi faktor penting. Mengurangi deforestasi, mencegah kebakaran lahan, dan mendukung produk yang ramah lingkungan merupakan langkah nyata untuk melindungi satwa ini.

Sebagai salah satu hewan khas Kalimantan Timur, orangutan bukan hanya simbol kekayaan alam Indonesia, tetapi juga penentu kesehatan ekosistem hutan hujan tropis. Selama hutan Kalimantan tetap lestari, orangutan akan terus memainkan perannya sebagai penjaga keseimbangan alam dan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. (*)

 

Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana