Kaltim.akurasi.id, Bontang – Jika berbicara mengenai wisata alam Kalimantan Timur, Pulau Sangalaki merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Pulau kecil yang berada di Kabupaten Berau ini terkenal sebagai habitat utama penyu hijau dan pari manta, sekaligus menjadi bagian dari kawasan konservasi Kepulauan Derawan yang telah dikenal hingga mancanegara.
Keindahan Pulau Sangalaki tidak hanya terletak pada hamparan pasir putih dan laut birunya. Pulau ini juga memiliki ekosistem pesisir dan bawah laut yang sangat kaya sehingga menjadi tujuan favorit penyelam, fotografer bawah air, peneliti, hingga wisatawan yang ingin menyaksikan kehidupan satwa liar secara langsung.
Pulau Sangalaki berada di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Derawan bersama Pulau Derawan, Maratua, dan Kakaban.
Luas daratan Pulau Sangalaki hanya sekitar 15 hektare, namun kawasan laut yang mengelilinginya memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi. Pulau ini dapat dicapai menggunakan speedboat dari Pulau Derawan dengan waktu perjalanan sekitar 45–60 menit, tergantung kondisi cuaca.
Karena menjadi kawasan konservasi, aktivitas wisata di Pulau Sangalaki diatur agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada.
Pulau Sangalaki dikenal sebagai salah satu lokasi pendaratan penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia. Hampir setiap malam sepanjang tahun, terutama pada musim bertelur, penyu dewasa naik ke pantai untuk membuat sarang dan meletakkan telur.
Selain penyu hijau, pulau ini juga menjadi habitat penyu sisik (Eretmochelys imbricata), meskipun jumlahnya lebih sedikit.
Data konservasi menunjukkan bahwa setiap tahun ribuan penyu datang ke Pulau Sangalaki untuk bertelur. Populasi penyu terus dipantau oleh petugas konservasi karena satwa ini berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Pengunjung yang datang berkesempatan menyaksikan proses penyu bertelur maupun pelepasan tukik ke laut, namun seluruh aktivitas dilakukan di bawah pengawasan petugas agar tidak mengganggu satwa.
Selain penyu, Pulau Sangalaki terkenal sebagai salah satu lokasi terbaik di Indonesia untuk melihat pari manta karang (Mobula alfredi). Satwa berukuran besar ini sering terlihat berenang di sekitar cleaning station, yaitu lokasi tempat ikan-ikan kecil membersihkan tubuh manta dari parasit.
Bentang bawah laut Pulau Sangalaki juga dihuni lebih dari 800 spesies ikan karang dan sekitar 450 spesies terumbu karang yang merupakan bagian dari kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Beberapa biota laut yang sering dijumpai antara lain hiu karang sirip putih (Triaenodon obesus), hiu karang sirip hitam (Carcharhinus melanopterus), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), barakuda, gurita, nudibranch, hingga berbagai jenis kuda laut.
Pulau Sangalaki menawarkan berbagai aktivitas wisata alam yang ramah lingkungan. Snorkeling dan diving menjadi kegiatan paling populer karena kejernihan air laut mencapai visibilitas lebih dari 20 meter pada musim kemarau.
Wisatawan juga dapat berjalan menyusuri pantai pasir putih sambil mengamati burung laut, menikmati matahari terbit, atau mengikuti edukasi konservasi penyu yang diselenggarakan oleh pengelola kawasan.
Bagi fotografer bawah laut, Pulau Sangalaki merupakan salah satu lokasi terbaik untuk mengabadikan pari manta yang berenang bebas di habitat alaminya.
Meskipun berukuran kecil, Pulau Sangalaki memiliki vegetasi pantai yang cukup beragam. Pohon kelapa, ketapang (Terminalia catappa), pandan laut (Pandanus tectorius), hingga semak pesisir tumbuh di sepanjang garis pantai.
Vegetasi tersebut berfungsi menjaga kestabilan pasir sekaligus menjadi tempat berlindung berbagai jenis burung laut dan reptil kecil. Di perairan sekitarnya juga terdapat padang lamun yang menjadi sumber makanan utama bagi penyu hijau.
Pulau Sangalaki merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian ekosistem, mulai dari patroli terhadap perburuan telur penyu, rehabilitasi habitat, hingga pembatasan jumlah wisatawan di beberapa titik.
Pengunjung juga diwajibkan mematuhi aturan konservasi, seperti tidak menyentuh penyu atau pari manta, tidak menginjak terumbu karang, serta tidak membuang sampah ke laut. Pulau Sangalaki menjadi bukti bahwa Kalimantan Timur memiliki kekayaan alam kelas dunia. Perpaduan antara pantai berpasir putih, laut yang jernih, habitat penyu hijau, serta kemunculan pari manta menjadikan pulau ini sebagai salah satu ikon wisata alam Kalimantan Timur. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi