Malam itu Fira tidak langsung pulang.
Ia memutar arah mobil melewati jalan yang selama hampir setahun selalu dihindarinya. Jalan menuju gerbang timur kawasan industri.
Di kiri-kanan jalan, lampu natrium memantulkan warna jingga pada debu yang menggantung. Truk-truk besar bergerak lambat. Dari kejauhan, cerobong masih mengirimkan asap tanpa jeda. Kepulannya tampak lebih jelas ketika diterpa cahaya lampu, seperti kain panjang yang tak pernah selesai dikibaskan.
Pos keamanan masih berdiri di tempat yang sama.
Cat putih pada palangnya mulai mengelupas.
Seorang satpam muda keluar dari pos.
“Mau ke mana, Bu?”
Fira membuka kaca jendela.
Ia tidak segera menjawab.
Matanya tertuju pada papan nama perusahaan yang sebagian hurufnya mulai berkarat.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Aku…” Fira berhenti. “Aku dulu pernah ke sini.”
Satpam itu mengangguk sopan.
“Hampir semua orang di kota ini pernah ke sini.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti jawaban. Lebih seperti sesuatu yang sudah berkali-kali ia ucapkan kepada orang lain.
Fira memundurkan mobil beberapa meter.
Ia memarkirkannya di bahu jalan.
***
Di seberang gerbang terdapat warung kopi yang masih buka.
Mejanya terbuat dari papan bekas peti kemas. Permukaannya dipenuhi goresan kecil dan lingkaran-lingkaran bekas gelas panas.
Penjualnya seorang perempuan tua.
Ia meletakkan segelas teh tanpa ditanya.
“Biasanya suamimu minum kopi.”
Fira mengangkat wajah.
Perempuan itu juga berhenti.
Barangkali baru menyadari kepada siapa ia sedang berbicara.
“Maaf.”
Lagi-lagi kata itu.
Perempuan tua itu buru-buru mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih.
Tangannya bergerak terus.
Kain lapnya semakin hitam.
“Tidak apa-apa,” ujar Fira.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Perempuan tua itu masuk ke dapur kecil di belakang warung.
Tak ada lagi percakapan.
Di sudut meja, sebuah asbak aluminium dipenuhi puntung rokok yang telah berubah menjadi abu. Angin sesekali datang, mengangkat sebagian abu itu, lalu menjatuhkannya kembali beberapa sentimeter dari tempat semula.
Tak ada yang benar-benar pergi.
***
Ketika teh tinggal setengah gelas, hujan turun.
Pelan.
Gerimis tipis.
Cerobong masih mengepulkan asap.
Asap dan hujan saling melewati tanpa saling menghapus.
Fira memandanginya cukup lama.
Ia teringat sesuatu yang sangat kecil.
Arga pernah pulang sambil menunjuk bulu hidungnya sendiri.
“Lihat.”
Fira mendekat.
Ada serbuk hitam.
“Mandi tiga kali juga tetap keluar.”
Lalu Arga tertawa.
“Tandanya aku masih pulang.”
Saat itu Fira ikut tertawa.
Ia bahkan sempat mengomel karena wastafel selalu dipenuhi bercak hitam bekas Arga mencuci muka.
Bercak itu cepat hanyut bersama air.
Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti ia akan mencari-cari bercak yang sama setiap pagi.
***
Jam hampir menunjukkan sembilan malam ketika Fira tiba di rumah.
Ia membuka pintu.
Lampu ruang tamu menyala sejak pagi.
Ia lupa mematikannya.
Atau mungkin memang sengaja dibiarkan menyala.
Ia tak lagi yakin.
Rumah itu tidak berubah.
Kursi makan masih sedikit bergeser.
Jam tangan di atas nakas masih berhenti.
Cangkir retak masih berada di rak paling depan.
Ia mengambil cangkir itu.
Mencucinya perlahan.
Mengeringkannya.
Lalu menyimpannya di rak paling belakang.
Bukan disembunyikan.
Hanya dipindahkan.
Untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Jelaga (Bagian I)
Baca Juga: Jelaga (Bagian II)
Baca Juga: Jelaga (Bagian III)
Baca Juga: Jelaga (Bagian IV)
***
Di dalam gudang, masih ada satu kardus bertuliskan Peralatan Arga.
Lakbannya telah mengering.
Fira membukanya.
Bau besi, minyak pelumas, dan kain kerja yang lama terlipat keluar perlahan.
Di dalamnya ada helm.
Sepatu.
Rompi reflektif.
Senter kepala.
Sarung tangan.
Semuanya masih membawa debu yang sama.
Ia mengangkat helm putih itu.
Bagian dalamnya terdapat tulisan nama dengan spidol permanen.
ARGA PRATAMA
Huruf-hurufnya mulai memudar.
Fira membalik helm itu.
Pada bagian belakang terselip secarik kertas kecil yang dilipat empat.
Barangkali sudah lama di sana.
Ia membuka lipatannya dengan hati-hati.
Bukan surat.
Hanya daftar belanja.
Beras.
Sabun.
Gula.
Bohlam.
Di bagian bawah tertulis satu kalimat kecil.
Kalau lupa, telepon Fira. Dia pasti ingat.
Tangannya berhenti.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Huruf-huruf sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada seluruh isi kardus.
Selama ini ia mengira yang hilang dari hidupnya adalah kemampuan mengingat.
Padahal yang hilang terlebih dahulu adalah seseorang yang biasa mengingatkan.
***
Esok paginya, alarm berbunyi pukul enam.
Fira menuju kamar mandi.
Membuka keran.
Membasuh wajah.
Ketika mengusap hidung dengan handuk putih, kembali muncul noda hitam kecil.
Ia memandanginya beberapa saat.
Lalu, tanpa sadar, tersenyum tipis.
Bukan karena jelaga itu akhirnya hilang.
Melainkan karena ia berhenti berharap bahwa suatu hari nanti kota itu akan benar-benar bersih.
Ia membuka jendela.
Asap dari cerobong masih naik.
Sama seperti kemarin.
Sama seperti tahun lalu.
Barangkali akan tetap sama bertahun-tahun lagi.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, Fira tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang mengejarnya.
Asap itu tetap datang.
Tetap menempel pada daun, kaca, jemuran, bulu hidung, dan ambang jendela.
Tetapi ia juga membawa sesuatu yang lain.
Sebuah bukti bahwa setiap orang yang pernah bekerja di bawah cerobong-cerobong itu meninggalkan sedikit bagian dirinya di kota ini.
Pada pakaian.
Pada meja makan.
Pada gagang cangkir.
Pada retakan jam tangan.
Pada benda-benda yang diam-diam menyimpan kehidupan jauh lebih lama daripada ingatan manusia.
Fira mengambil tas kerjanya.
Sebelum menutup pintu, ia kembali melihat ke arah meja makan.
Hanya ada satu cangkir.
Tidak lagi terasa kurang.
Tidak juga terasa penuh.
Ia mematikan lampu.
Mengunci pintu.
Ketika melangkah ke halaman, angin pagi berembus pelan.
Di udara masih tercium bau logam yang hangat.
Fira menarik napas panjang.
Jelaga itu kembali masuk ke dalam tubuhnya.
Ia tahu, besok pagi jelaga itu akan kembali ia temukan di ujung jarinya.
Seperti biasa.
Seperti sesuatu yang tidak datang untuk mengotori, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada kehilangan-kehilangan yang tidak pernah selesai dibersihkan. Mereka hanya berpindah tempat: dari langit ke daun, dari daun ke meja, dari meja ke telapak tangan, lalu diam-diam mengendap di dalam diri seseorang, sampai suatu hari ia cukup berani menyentuhnya tanpa lagi berpaling.
TAMAT
Fajri Sunaryo; Jurnalis Akurasi.id