Kalimat itu tetap berada di layar bahkan setelah Fira menguncinya kembali.
Ia tidak segera membalas.
Telepon genggam diletakkan di meja makan, tepat di samping cangkir yang masih meninggalkan lingkaran air. Layar padam. Namun, kalimat tadi seperti tetap menyala di dalam kepalanya.
Mirip kejadian tahun lalu.
Tahun lalu.
Fira mengulang dua kata itu tanpa suara.
Seperti seseorang sedang mencoba mengingat alamat rumah yang pernah ditinggali semasa kecil.
***
Pukul empat lewat sepuluh.
Ia sudah duduk di beranda.
Belum mandi.
Belum mengganti pakaian tidur.
Di depan rumah, jalan raya masih lengang. Hanya sesekali truk pengangkut bahan baku melintas menuju kawasan industri. Rodanya meninggalkan bunyi berderak pada sambungan beton.
Setelah truk terakhir lewat, debu tipis turun perlahan.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk mengubah warna daun lidah mertua di halaman menjadi sedikit lebih kusam.
Fira mengusap salah satunya dengan ibu jari.
Hijau tua muncul dari balik lapisan abu.
Beberapa detik kemudian, angin datang.
Debu baru kembali menempel.
Ia membiarkan jarinya tetap berada di sana.
***
Di kantor, meja resepsionis masih kosong.
Mesin pembuat kopi baru dinyalakan.
Bau biji kopi yang baru digiling sempat memenuhi ruangan beberapa saat sebelum akhirnya dikalahkan oleh aroma pendingin ruangan dan debu kertas.
Fira membuka komputer.
Monitor membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk menyala.
Pantulan wajahnya muncul lebih dulu daripada sistem operasi.
Ia memperhatikan dirinya sendiri.
Ada satu helai rambut putih di dekat pelipis.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali bercermin cukup lama untuk menyadarinya.
***
“Fir.”
Suara Rendi, reporter senior.
“Ada waktu sebentar?”
Ia mengangguk.
Rendi membawa dua map.
Yang satu berwarna cokelat baru.
Yang satu lagi sudah mulai kusut pada sudut-sudutnya.
“Aku lagi cari arsip kecelakaan tahun lalu.”
Ia meletakkan map lama di meja.
“Kayaknya dulu kamu yang edit.”
Fira melihat labelnya.
Kecelakaan Plant 3.
Tanggalnya tertulis di pojok kanan.
Ia berhenti bernapas beberapa saat.
Tanggal itu sama persis dengan kalender yang masih tergantung di dapur rumah.
Kalender yang tidak pernah diganti.
Baca Juga: Jelaga (Bagian I)
Baca Juga: Jelaga (Bagian II)
Baca Juga: Jelaga (Bagian III)
***
“Masih ingat?”
Rendi bertanya sambil membuka halaman pertama.
Fira menggeleng pelan.
“Banyak banget revisinya waktu itu.”
Rendi tertawa kecil.
“Padahal beritanya cuma enam ratus kata.”
Ia membalik halaman demi halaman.
Ada foto lokasi.
Ada sketsa proyek.
Ada kronologi.
Ada daftar korban.
Lalu berhenti.
“Kok…”
Rendi mengernyit.
“Fotonya hilang satu.”
“Hilang?”
“Iya.”
“Foto korban.”
Fira menatap bekas penjepit kertas di sudut map.
Benar.
Ada ruang kosong.
Seseorang pernah mengambil satu lembar dari sana.
Entah kapan.
***
Sepanjang pagi ia tidak berhasil menyunting satu berita pun.
Kalimat demi kalimat terasa seperti pasir.
Sudah dibaca.
Sudah diperbaiki.
Ketika dibaca ulang, semuanya kembali asing.
Ia mulai menuliskan catatan kecil di kertas tempel.
Sudah kirim headline.
Sudah edit ekonomi.
Telepon narasumber jam dua.
Kertas-kertas itu memenuhi pinggir monitor.
Menjelang siang ia menemukan secarik catatan lain yang tulisannya mulai pudar.
Minum obat.
Ia memandanginya cukup lama.
Tidak ada yang mengingatkan.
Tidak ada yang menanyakan.
Ia membuka laci.
Di dalamnya ada satu strip obat.
Tersisa tiga tablet.
Tanggal kedaluwarsanya masih lama.
Ia tidak ingat dokter mana yang meresepkannya.
***
Saat makan siang, kantor lebih sunyi daripada biasanya.
Ruang redaksi selalu menjadi tempat orang-orang makan terburu-buru.
Suara sendok mengenai kotak makan.
Bunyi plastik dibuka.
Lalu kembali mengetik.
Rendi duduk di depan Fira.
“Fir.”
“Hm?”
“Kamu masih tinggal di rumah yang lama?”
“Iya.”
“Sendiri?”
Fira tidak langsung menjawab.
Sendoknya berhenti di atas nasi.
Rendi seperti baru menyadari pertanyaannya sendiri.
“Wah… maaf.”
Maaf.
Kata itu jatuh pelan.
Sederhana.
Tetapi membuat suara lain muncul dari tempat yang jauh.
***
“Maaf, Bu.”
Lelaki berseragam biru tua berdiri di ruang tunggu rumah sakit.
Tangannya memegang sebuah kantong plastik bening.
Di dalamnya terdapat dompet kulit.
Jam tangan.
Cincin.
Telepon genggam yang kacanya retak.
Fira menerima kantong itu dengan kedua tangan.
Ringan sekali.
Ia mengingat betapa sering Arga pulang membawa tas perkakas yang berat.
Obeng.
Kunci pas.
Tang.
Bor.
Kini seluruh hidupnya dapat dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik.
“Korban…”
Suara lelaki itu terus berbicara.
Fira melihat bibirnya bergerak.
Namun tak ada suara yang sampai.
Yang terdengar justru dengungan pendingin ruangan rumah sakit.
Dan langkah-langkah sepatu karet para perawat di lorong.
Ingatan itu berhenti di sana.
Seperti gulungan film yang putus sebelum adegan terakhir.
***
“Fir?”
Suara Rendi mengembalikannya.
Kotak makan siangnya masih utuh.
Nasi belum berkurang.
“Enggak enak badan?”
Fira menggeleng.
“Lupa lapar.”
Rendi tersenyum kecil.
“Lupa lapar itu gimana?”
Fira ikut tersenyum.
Tipis sekali.
Seolah senyum itu dipinjam dari orang lain.
***
Sore hari hujan turun.
Jarang sekali hujan datang ketika musim debu sedang panjang.
Air pertama yang menyentuh aspal langsung berubah kehitaman.
Selokan mengalirkan air berwarna abu.
Mobil-mobil yang diparkir di halaman kantor perlahan memperlihatkan warna aslinya setelah diguyur beberapa menit.
Fira berdiri di depan jendela.
Ia melihat hujan membersihkan kota.
Atau barangkali hanya memindahkan jelaga ke tempat lain.
Di kaca jendela, tetesan air membentuk jalur-jalur panjang.
Ia mengingat sesuatu.
Arga pernah berdiri di tempat yang sama.
Menggambar wajah tersenyum pada embun kaca dengan telunjuknya.
Lalu menambahkan dua titik hitam di bawah hidung gambar itu.
“Supaya benar-benar orang sini.”
Ia tertawa.
Fira ikut tertawa.
Suara tawa itu kini terdengar jauh.
Seperti berasal dari ruangan yang pintunya sudah lama ditutup.
***
Menjelang pulang, Rendi kembali datang membawa map lama.
“Aku nemu ini.”
Ia menyelipkan selembar foto yang tadi hilang.
“Nyangkut di belakang lemari arsip.”
Fira menerimanya.
Foto itu bukan gambar lokasi.
Bukan pula foto korban.
Melainkan dokumentasi ketika keluarga korban datang ke rumah sakit.
Orang-orang memenuhi lorong.
Seorang perempuan duduk di bangku plastik biru.
Menunduk.
Memegang kantong bening berisi dompet, jam tangan, telepon genggam, dan cincin.
Wajah perempuan itu tertutup sebagian oleh rambut.
Namun Fira mengenali sweter abu-abu yang dikenakannya.
Sweter itu masih tergantung di rumah.
Belum pernah dicuci lagi.
Di pojok kanan foto, hampir tak terlihat, seorang petugas sedang membawa helm putih yang penyok.
Fira menatap foto itu sangat lama.
Sampai ia sadar bahwa yang selama ini hilang bukanlah ingatannya sepenuhnya.
Melainkan satu hari.
Satu hari yang tubuhnya tampaknya memilih untuk kubur sendiri, sedalam jelaga yang setiap pagi ia keluarkan dari hidungnya.
(Bersambung ke Bagian V – Penutup)
Fajri Sunaryo; Jurnalis Akurasi.id