Kaltim.akurasi.id, Bontang – PT Kaltim Daya Mandiri (KDM) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menggelar program Prolansia Sehat dengan mengangkat tema Latihan Penguatan Otot Lansia. Kegiatan berlangsung di Hotel Grand Equator, Kamis (3/9/2026).
Program ini diikuti 50 lansia dari Kelurahan Guntung dan Loktuan yang merupakan buffer zone KDM. Program tersebut terlaksana melalui kerja sama KDM dengan Puskesmas Bontang Utara 2.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan edukasi kesehatan dari dr. Hanif Abror, Sp.KO dari RS Pertamina Balikpapan serta dr. Andhika Kusuma Hamdany, Sp.PD dari RS Pupuk Kaltim Bontang.
Dalam sambutannya, Sekretaris Perusahaan (Sekper) KDM, Sukardi, mengatakan program Prolansia Sehat merupakan kegiatan rutin bagi masyarakat lanjut usia di wilayah buffer zone perusahaan.
Menurutnya, memasuki usia lanjut memang menyebabkan berbagai fungsi organ tubuh mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan bagi lansia untuk berhenti melakukan aktivitas fisik.
“Memasuki usia lansia kita memang mengalami banyak penurunan fungsi organ. Tapi jangan sampai hal itu membuat kita malas bergerak,” ujarnya.
Sukardi mengatakan, salah satu hal yang perlu mendapat perhatian yakni menurunnya fungsi dan kekuatan otot pada lansia. Karena itu, program Prolansia Sehat kali ini secara khusus mengangkat tema latihan penguatan otot. Dia berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan selama mengikuti kegiatan.
“Kami harap para peserta ini juga dapat melanjutkan latihan penguatan otot secara mandiri di rumah,” ucapnya.
Program TJSL tersebut, lanjut Sukardi, menjadi bentuk kepedulian KDM terhadap kesehatan masyarakat di Bontang, khususnya kelompok lansia, agar tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi diharapkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peserta. Kami berharap kegiatan ini dapat menambah gairah dan semangat para lansia untuk tetap aktif dan sehat,” katanya.
Mewakili manajemen KDM, Sukardi turut menyampaikan terima kasih kepada para narasumber, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Kesehatan Bontang, Puskesmas Bontang Utara 2, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program TJSL tersebut.
“Kami juga mengapresiasi para peserta yang telah hadir dan berpartisipasi sehingga program dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bontang, dr. Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan menjadi tua merupakan sesuatu yang pasti. Namun, menjadi lansia yang sehat dan produktif merupakan pilihan yang dapat diupayakan melalui pola hidup sehat.
“Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi tua yang sehat dan produktif adalah suatu pilihan yang bisa kita usahakan,” ujarnya.
Menurutnya, latihan penguatan otot menjadi salah satu upaya penting agar lansia tetap sehat, mandiri, dan mampu menjalankan aktivitas serta produktivitas sehari-hari.
Ia juga mengajak para lansia agar tidak takut untuk berolahraga karena aktivitas fisik memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan, salah satunya membantu tubuh mengelola kadar gula darah sehingga dapat menekan risiko penyakit diabetes.
Selain berolahraga, Toetoek juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Saat ini, pelayanan posyandu tidak hanya diperuntukkan bagi bayi dan anak-anak, tetapi juga tersedia bagi kelompok lansia sebagai bagian dari upaya deteksi dini berbagai masalah kesehatan.
Mewakili Pemkot Bontang, Toetoek menyampaikan apresiasi kepada KDM atas dukungan dan komitmennya terhadap peningkatan kesehatan masyarakat melalui program Prolansia Sehat.
Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh peserta menyuarakan jargon bersama. “Lansia sehat? Sehat, bugar, produktif!” jawab peserta dengan semangat.
Dalam sesi materi, dr. Andhika Kusuma Hamdany, Sp.PD menjelaskan bahwa setiap orang pada akhirnya akan memasuki fase usia lanjut. Karena itu, masyarakat perlu mempersiapkan kualitas hidup yang baik sejak dini.
Ia menyebut seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas dikategorikan sebagai lansia. Pada fase tersebut, terjadi berbagai perubahan baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.
Fungsi organ tubuh mulai mengalami penurunan dan kondisi fisik tidak lagi seprima saat usia muda. Lansia juga dapat mengalami berbagai persoalan seperti mudah lupa, demensia, kecemasan hingga depresi.
Selain itu, keterbatasan fisik dan kekhawatiran dalam melakukan aktivitas dapat memengaruhi kehidupan sosial lansia.
Hal tersebut menjadi perhatian penting karena angka harapan hidup masyarakat terus meningkat. Dengan bertambahnya jumlah penduduk usia lanjut, perhatian terhadap kesehatan dan kualitas hidup lansia menjadi semakin penting.
“Tujuannya agar lansia dapat menjalani masa tua dengan sehat, mandiri, dan tetap sejahtera,” jelasnya.
Andhika juga memaparkan sejumlah kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai pada usia lanjut, salah satunya hipertensi.
Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh, termasuk pembuluh darah, dapat mengalami penurunan. Pembuluh darah yang sebelumnya elastis dapat mengalami pengerasan atau aterosklerosis sehingga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Salah satu kondisi yang kerap ditemukan pada lansia yaitu hipertensi sistolik terisolasi. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat berkurangnya elastisitas pembuluh darah.
Selain faktor fisik, kondisi psikologis seperti kecemasan dan depresi juga dapat memengaruhi tekanan darah. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi penting untuk memastikan kondisi kesehatan seseorang.
Ia juga menjelaskan bahwa penurunan fungsi ginjal pada lansia dapat memengaruhi keseimbangan natrium dan cairan dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volume darah dan berkontribusi terhadap naiknya tekanan darah.
Hipertensi sendiri dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, jika tidak terkontrol, penyakit tersebut dapat memicu komplikasi serius, termasuk stroke dan gangguan organ lainnya.
“Maka itu pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, menjaga pola hidup sehat, serta tetap aktif melakukan aktivitas fisik dan olahraga,” tutupnya. (adv/kaltimdayamandiri/uci)