Merawat Tanah, Menjaga Dapur Tetap Menyala

Dari tangan yang pernah menjadi buruh bangunan hingga jemari yang kini merawat tanaman, Misdi dan Hadi menempuh jalan panjang untuk bertahan hidup. Di Kampung Hortikultura binaan Badak LNG, air yang dahulu sulit dijangkau kini mengalir lebih mudah. Namun, seperti tanaman yang mereka rawat, kemandirian membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Fajri
By
17.2K Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Pagi belum sepenuhnya terang ketika aktivitas di kawasan pertanian Kampung Hortikultura, Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara, mulai bergerak. Udara masih menyimpan sisa dingin malam. Suara burung bersahutan dari pepohonan, berpadu dengan bunyi serangga yang perlahan tenggelam oleh deru kendaraan yang melintas.

Di antara hamparan tanaman, ada aroma tanah dan dedaunan yang basah. Di beberapa sudut, pagi mungkin dimulai dengan secangkir kopi sebelum pekerjaan kembali menunggu. Sebab bagi para petani di tempat ini, matahari terbit bukan sekadar penanda pergantian hari. Ia adalah aba-aba untuk kembali merawat sesuatu yang menjadi sumber penghidupan.

Misdi, 48 tahun, termasuk salah satu yang sudah akrab dengan rutinitas itu.

Sekira pukul 05.30 Wita, ia berangkat dari rumahnya di kawasan Salebba. Jarak ke kebun hanya sekitar lima menit perjalanan. Ia mengendarai Yamaha Jupiter MX keluaran 2005, motor yang dibelinya tahun 2011, setahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di Bontang. Istrinya hampir selalu menemani perjalanan singkat itu.

Di kebun, tangan Misdi kembali bekerja. Tangan yang dahulu lebih sering menggenggam peralatan bangunan itu kini akrab dengan tanah, batang tanaman, dan peralatan pertanian. Usianya mungkin telah meninggalkan sejumlah kerutan di wajah dan tangannya, tetapi rutinitas pagi membuatnya tetap bergerak.

Jauh sebelum menjadi petani, Misdi datang ke Bontang dari Lumajang, Jawa Timur. Ia mengadu nasib sebagai buruh bangunan harian. Pekerjaan itu memberinya penghasilan, tetapi tidak selalu menjanjikan kepastian.

Pada 2010, ia bergabung dengan Kelompok Tani Karya Bersama. Awalnya, lahan yang digarap hanya sekitar 50 x 50 meter. Ia tetap bekerja sebagai buruh bangunan karena bertani membutuhkan modal, sementara hasil panen belum tentu bisa langsung menopang kebutuhan keluarga.

Ada masa ketika pekerjaan di kebun justru lebih banyak menguras tenaga daripada menghasilkan uang.

Salah satu kesulitan terbesarnya adalah air. Sebelum sumur bor tersedia, Misdi harus mengangkut air dari sungai menuju lahannya. Jaraknya sekitar 500 meter. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan tanaman itu mesti dipindahkan sedikit demi sedikit dengan tenaga dan waktu. Hal itu dilakukan untuk menjaga tanaman tetap hidup.

Pada 2021, setelah mengumpulkan modal, Misdi mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan pekerjaan bangunan dan memilih menekuni pertanian sepenuhnya. Lahan garapannya pun berkembang hingga hampir satu hektare.

Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Ada tiga anak yang harus ia hidupi. Anak sulungnya kini berada di semester akhir perguruan tinggi, anak keduanya duduk di kelas II SMK, sementara si bungsu masih berusia tiga tahun.

Dari kebun, Misdi mengaku bisa memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.

Ia menanam secara bergiliran. Ada masa ketika cabai menjadi pilihan, kemudian berganti terong atau tomat. Baginya, memilih satu jenis tanaman dalam satu periode membuat pengelolaan kebun lebih terarah. Tapi, pertanian tidak selalu memberi hasil sesuai harapan.

“Kan tidak semua tanaman berhasil, kadang kami juga mengalami gagal panen. Jadi kalau gagal biasanya langsung ganti tanaman lagi, bagusnya kalau musim hujan aja, hehe,” katanya, saat ditemui wartawan Akurasi.id di kebunnya, Sabtu (24/10/2026).

Misdi mengenang perubahan yang paling terasa setelah bantuan sumur bor dan pompa tersedia.

“Sekarang tinggal colok, mas. Pompa air kami nyalakan sehari dua kali, pagi dan sore. Itu buat ngisi penampungan air petani, kami bergantian,” ujarnya.

Perubahan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seseorang yang pernah mengangkut air sejauh setengah kilometer, kemudahan menyalakan pompa bukan perkara kecil. Air kini tidak lagi harus diperjuangkan dengan cara yang sama.

Di kebun yang sama, Hadi Supianto, 41 tahun, memiliki cerita yang berbeda. Sebelum bertani, ia mencari nafkah dengan berjualan makanan keliling. Pentol, donat, sosis, dan berbagai jajanan lain pernah menjadi barang dagangannya.

Penghasilan dari pekerjaan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya.

Anak sulung Hadi kini duduk di kelas III SMK, sedangkan anak bungsunya masih taman kanak-kanak. Di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan, ia membutuhkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih menjanjikan.

Hadi bergabung dengan Kelompok Tani Karya Bersama pada 2019. Dua tahun kemudian, tahun 2021, ia dipercaya menjadi ketua kelompok.

Lahan yang semula hanya sekitar seperempat hektare kini berkembang menjadi 1,5 hektare. Di atas tanah itu, ia menanam cabai rawit, cabai keriting, terong, pare, mentimun, kacang panjang, kacang tanah, dan sejumlah komoditas lain.

Berbeda dengan Misdi yang cenderung menanam satu jenis tanaman secara bergiliran, Hadi memilih membagi lahannya dengan berbagai jenis tanaman.

Strategi itu bukan semata-mata soal variasi. Ia ingin masa panen tidak datang bersamaan. Dengan begitu, ada tanaman yang bisa dipanen dalam waktu berbeda, sehingga pemasukan tidak hanya bergantung pada satu musim panen.

Dari pertanian, Hadi menyebut pendapatan bersihnya berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.

Ia tidak menutup mata bahwa perjalanan kelompoknya juga terbantu oleh perhatian dan pendampingan perusahaan.

“Keluhan kami didengarkan, kami juga difasilitasi. Sangat membantu CSR Badak LNG ini. Kami betul-betul merasa diperhatikan,” kata Hadi.

Baginya, perhatian itu tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan sarana. Ada fasilitas yang membuat petani bisa menghabiskan lebih banyak waktu di kebun tanpa harus terus-menerus kembali ke rumah.

Salah satunya musala kecil berukuran sekitar 3 x 4 meter. Tempat itu digunakan petani untuk menunaikan salat Zuhur dan Asar.

“Musala ini dipake petani buat sholat zuhur dan asar, mas, daripada kami pulang ke rumah lagi,” tuturnya.

Di kawasan itu pula Kelompok Tani Karya Bersama tumbuh. Kelompok yang dibentuk pada 2008 tersebut awalnya hanya beranggotakan sekitar tujuh orang. Kini jumlahnya mencapai 18 anggota.

Pada mulanya, pembentukan kelompok lebih didorong kebutuhan untuk memperoleh pupuk bersubsidi. Petani harus tergabung dalam kelompok tani agar bisa mengakses pupuk tersebut.

“Dulu itu kan, mas, kalau mau beli pupuk subsidi susah. Harus ada kelompok tani,” kata Misdi.

Seiring waktu, kelompok itu berkembang menjadi ruang bagi para petani untuk saling berkoordinasi dan mengelola aktivitas pertanian.

Lahan yang mereka garap berada di kawasan seluas 61 hektare milik Yayasan Badak LNG. Pemanfaatan lahan untuk pertanian telah berlangsung sejak dekade 1990-an, ketika yayasan memberikan kesempatan kepada warga sekitar untuk mengolah tanah tersebut.

Dari keseluruhan kawasan itu, sekitar 12 hektare saat ini dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Di atas lahan tersebut, petani menanam berbagai komoditas yang hasilnya menjadi sumber penghidupan keluarga. Tetapi, seperti halnya pertanian di banyak tempat, mereka berhadapan dengan persoalan yang tidak seluruhnya bisa diselesaikan melalui tenaga sendiri. Cuaca yang berubah, keterbatasan air saat kemarau, hama, hingga kebutuhan pupuk menjadi tantangan yang terus berulang.

Kampung Hortikultura, Kelurahan Gunung Elai
Foto: Hadi (jongkok) dan Misdi (berdiri) saat merawat lahan kebunnya di Kampung Hortikultura, Kelurahan Gunung Elai, Sabtu (24/10/2026). (Fajri/Akurasi.id)

 

Persoalan-persoalan itulah yang kemudian menjadi salah satu perhatian dalam program SEMAI BUMI dari Badak LNG.

SEMAI BUMI merupakan akronim dari Sejahterakan Masyarakat melalui Agribisnis Inovatif, Berdaya Unggul, dan Mandiri. Program ini mulai dirintis pada 2023-2024 melalui dialog dan pemetaan potensi serta persoalan kelompok.

Indra Maulana, Community Development Facilitator CSR Badak LNG, menjelaskan bahwa Karya Bersama dipilih berdasarkan hasil pemetaan sosial atau social mapping. Pemetaan itu melihat potensi, kerentanan, serta persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Program ini kami rancang bersama kelompok. Kami berdiskusi dan melakukan FGD (Diskusi Kelompok Terarah) untuk menentukan kebutuhan serta intervensi yang paling sesuai,” katanya, Kamis (29/10/2026).

Pendampingan kemudian diarahkan pada sejumlah persoalan utama, terutama ketergantungan terhadap kondisi iklim, keterbatasan irigasi, dan pengendalian hama.

Salah satu intervensi yang paling terasa bagi petani adalah pembangunan sumur bor dan sistem pompa air bertenaga surya.

Sebelumnya, sebagian petani di bagian atas lahan memilih tidak bercocok tanam ketika kemarau datang. Ketiadaan sumber air membuat mereka kesulitan mempertahankan tanaman. Sebagian bahkan kembali bekerja sebagai buruh bangunan untuk memperoleh penghasilan.

Kini, air dipompa dari sumur bor menuju penampungan yang digunakan secara bergantian oleh petani.

Sistem tersebut didukung panel surya berkapasitas 1.000 watt dan pompa 750 watt yang disediakan pada 2024. Sebelum sistem itu tersedia, kebutuhan pengairan juga mengandalkan mesin berbahan bakar.

Menurut perhitungan yang disampaikan pihak CSR, penggunaan pompa tenaga surya dapat menghemat biaya bahan bakar sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per petani pada setiap hari operasional pemompaan. Pada musim kemarau, penyiraman biasanya dilakukan tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Penghematan tersebut tentu tidak serta-merta membuat seluruh persoalan pertanian selesai. Namun, berkurangnya biaya operasional memberi ruang bagi petani untuk mengelola kebun dengan beban yang lebih ringan.

Selain sumur bor, program SEMAI BUMI juga menghadirkan sejumlah fasilitas pendukung. Di antaranya gudang penyimpanan, gazebo berbahan kayu ulin berukuran sekitar 6 x 8 meter, perangkap hama berbasis cahaya, serta rumah kompos.

Ada pula fasilitas belajar yang disebut Lentera, tempat petani dapat bertemu, berdiskusi, dan memperoleh pendampingan.

Dukungan lainnya mencakup pelatihan pembuatan kompos, pupuk organik cair, serta produk penguat tanaman berbasis asam amino. Badak LNG juga memperkenalkan pemanfaatan limbah kalsium silikat perusahaan sebagai alternatif pengganti dolomit.

Dalam pelaksanaannya, kelompok menerima bantuan pupuk sekitar 1,2 ton. Pendampingan teknis juga dilakukan melalui konsultan pertanian selama satu bulan secara intensif, dilanjutkan pendampingan rutin mingguan oleh tim CSR.

Salah satu hal yang mulai dikembangkan adalah pengolahan sisa tanaman menjadi kompos. Mesin pencacah berkapasitas 6 PK membantu petani mengolah limbah tanaman yang sebelumnya berpotensi terbuang.

“Jadi limbahnya gak terbuang,” kata Hadi.

Produksi kompos dalam skala lebih besar baru dimulai pada Oktober 2026, setelah kelompok menerima bantuan mesin pada bulan yang sama. Kompos yang dihasilkan mulai dipasarkan dengan harga sekitar Rp40 ribu per karung.

Bagi kelompok, pengolahan limbah bukan hanya tentang mengurangi sisa tanaman. Ada peluang ekonomi baru yang sedang mereka coba bangun dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak lagi berguna.

Meski begitu, pemanfaatan pupuk organik dan produk olahan lainnya masih terus dikembangkan. Petani telah mencoba sejumlah produk, tetapi peningkatan produktivitas tanaman tetap menjadi pekerjaan yang harus dibuktikan melalui hasil yang konsisten.

Di sisi lain, hasil panen juga harus menemukan jalan menuju pasar. Selama ini, hasil pertanian kelompok dibeli oleh seorang pengepul yang telah menjalin hubungan dengan petani sejak sebelum kelompok terbentuk. Pengepul tersebut mengambil hasil panen, baik ketika produksi sedang melimpah maupun ketika hasilnya terbatas.

Hubungan yang telah berlangsung lama itu menjadi salah satu penopang pemasaran hasil kebun.

Untuk cabai, misalnya, hasil panen dari beberapa petani dapat dikumpulkan hingga sekitar satu kuintal. Jumlah itu merupakan gabungan hasil panen sejumlah petani, bukan produksi satu orang dalam sehari.

Hadi menyebut harga cabai keriting saat ini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram. Namun, harga komoditas pertanian selalu bergerak mengikuti kondisi pasar dan waktu panen.

Tanaman cabai sendiri membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga panen pertama. Masa produktifnya berkisar lima bulan sebelum tanaman perlu diganti.

Di antara waktu tanam dan panen, petani harus menjaga tanaman dari serangan hama, perubahan cuaca, serta risiko gagal panen. Tidak semua benih tumbuh sesuai harapan. Pun, tidak semua tanaman menghasilkan buah yang bisa dijual.

Karena itu, diversifikasi tanaman yang dilakukan Hadi dan pola tanam bergiliran yang dipilih Misdi menjadi cara masing-masing untuk menghadapi ketidakpastian.

Indra Maulana menyebut, tujuan jangka panjang SEMAI BUMI bukan membuat kelompok terus bergantung pada bantuan perusahaan. Sebaliknya, program tersebut diarahkan agar petani mampu mengelola kegiatan pertanian secara mandiri.

Indikator kemandirian itu antara lain kemampuan kelompok menerapkan intervensi yang telah diberikan, menjalankan kegiatan tanpa ketergantungan pada perusahaan, serta mempertahankan aktivitas pertanian ketika pendampingan berakhir.

Pihak CSR juga menerapkan strategi pengakhiran program melalui pendekatan phase out, phase over, atau phase down, berdasarkan hasil kajian dan perkembangan kemandirian kelompok.

Meski sejumlah perubahan telah dirasakan, pekerjaan rumah masih tersisa. Produktivitas tanaman dinilai perlu terus ditingkatkan. Perubahan pola pikir petani agar lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri.

Sementara itu, kegiatan operasional pertanian sehari-hari tetap dibiayai oleh anggota kelompok. Bantuan CSR menjadi penopang fasilitas, peningkatan kapasitas, dan pendampingan, bukan sumber utama pembiayaan seluruh aktivitas kebun.

Apresiasi Pemerintah Kota Bontang

 

Wakil Walikota Bontang, Agus Haris bilang, Apa yang dilakukan Kelompok Tani Karya Bersama menunjukkan bahwa lahan yang tersedia bisa menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan baik dan didukung fasilitas yang memadai.

Kami berharap program seperti ini tidak berhenti pada bantuan infrastruktur atau sarana pertanian saja. Harus ada keberlanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas petani, pendampingan, hingga akses pemasaran hasil produksi.

“Kami tentu mengapresiasi program seperti ini. Sebab, pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan, tetapi harus membangun kemampuan masyarakat agar bisa mengelola potensi yang mereka miliki,” katanya saat dihubungi Akurasi.id, Kamis (29/10/2026).

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan petani lokal mendapatkan ruang berkembang. Apalagi, ketahanan pangan merupakan persoalan penting. Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada pasokan dari luar daerah jika potensi pertanian di Bontang sendiri masih bisa dikembangkan.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan kelompok masyarakat perlu diperkuat agar program pemberdayaan seperti ini bisa memberikan dampak yang lebih luas.

Catatan Ekonomi: Dari Kebun ke Kemandirian

 

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Unmul, Purwadi Purwoharsojo menilai program pemberdayaan petani seperti ini memiliki dua dampak penting. Pertama, menurunkan biaya produksi. Kedua, meningkatkan kemampuan masyarakat menghasilkan pendapatan secara mandiri.

“Ketersediaan air, misalnya, bukan sekadar persoalan teknis pertanian. Air merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan apakah petani bisa terus berusaha atau justru berhenti ketika musim kemarau tiba,” katanya.

Kata dia, ketika akses air menjadi lebih mudah dan penggunaan energi bisa ditekan melalui panel surya, petani memiliki peluang untuk mengurangi biaya operasional. Penghematan itu bisa memperbaiki margin usaha tani, meskipun besarnya tetap perlu dihitung berdasarkan keseluruhan biaya produksi dan hasil panen.

Namun, sambung dia, kita juga tidak boleh berhenti pada keberhasilan menyediakan fasilitas. Persoalan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas hasil panen, memperkuat posisi tawar petani, dan memperluas akses pasar.

Petani yang mampu menghasilkan produk dalam jumlah cukup belum tentu memperoleh keuntungan optimal apabila masih bergantung pada satu jalur pemasaran atau tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga.

“Karena itu, pengembangan kelompok tani perlu diarahkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Pengolahan limbah menjadi kompos, misalnya, bisa menjadi sumber nilai tambah. Tetapi perlu dipastikan ada kualitas produk, permintaan pasar, dan pengelolaan usaha yang baik,” tambahnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program pemberdayaan bukan berapa banyak bantuan yang diberikan, melainkan apakah setelah pendampingan berakhir petani mampu mempertahankan usaha, memperoleh keuntungan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Misdi pernah mengangkut air sejauh 500 meter untuk menyelamatkan tanaman. Hadi pernah berkeliling menjajakan makanan karena penghasilan yang diperoleh belum cukup untuk keluarga. Kini, keduanya menggantungkan hidup pada kebun dengan cara yang berbeda.

Satu memilih menanam bergiliran. Satu lagi membagi lahannya dengan berbagai komoditas. Keduanya sama-sama belajar bahwa pertanian tidak hanya membutuhkan tanah dan benih, tetapi juga ketekunan menghadapi musim yang tidak selalu bersahabat.

Di tempat itu, harapan tidak tumbuh dalam semalam. Ia dirawat lewat pekerjaan yang berulang; menyiram, memangkas, mengganti tanaman yang gagal, mengolah sisa panen, lalu kembali menunggu buah berikutnya.

Sebab bagi mereka (petani), kemandirian bukanlah ketika bantuan datang dan pekerjaan selesai. Kemandirian justru dimulai ketika mereka mampu melanjutkan pekerjaan itu, bahkan setelah bantuan tak lagi datang. (*)

Penulis: Fajri Sunaryo

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana