Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur turut berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), meski kenaikannya disebut belum terlalu signifikan.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, pihaknya bersama sejumlah pihak telah melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi di lapangan, khususnya wilayah yang terdampak karhutla.
Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi kualitas udara sekaligus potensi peningkatan gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan asap karhutla.
“Kalau kemarin laporan secara langsung, ISPU-nya itu berbahaya, di atas 318,” kata Jaya Mualimin.
Kondisi kualitas udara saat dilakukan pemantauan telah mengalami perubahan. Nilai indeks standar pencemar udara (ISPU) yang sebelumnya berada di atas 318 telah turun hingga berada di bawah 200.
“Begitu sampai ke sana, ISPU-nya sudah berapa kemarin? Di bawah 200. Artinya, sudah bukan bahaya lagi,” bebernya.
Jaya menyebut, perubahan kondisi kualitas udara tersebut menjadi perkembangan positif. Terlebih apabila hujan segera turun, kondisi udara di wilayah terdampak asap karhutla diharapkan semakin membaik.
“Ini artinya sudah ada perubahan. Apalagi kalau cepat hujan, pasti akan berkurang,” jelasnya.
Warga Diingatkan Jaga Kesehatan dan Gunakan Masker
Meski kualitas udara mulai membaik, Dinkes Kaltim tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi gangguan kesehatan akibat asap karhutla. Salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah peningkatan kasus ISPA.
Jaya mengakui, terdapat peningkatan kasus ISPA di wilayah terdampak. Namun, peningkatan tersebut belum menunjukkan angka yang terlalu signifikan.
“ISPA-nya ada, tetapi enggak terlalu signifikan,” sebutnya.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Dinkes Kaltim juga menyiapkan bantuan logistik medis bagi masyarakat. Bantuan tersebut di antaranya berupa masker dan vitamin.
Selain bantuan, langkah pencegahan juga diarahkan melalui edukasi kepada masyarakat. Jaya meminta warga menjaga kondisi tubuh dengan memperkuat imunitas, memenuhi kebutuhan makan dan minum, serta menjaga kebersihan diri.
“Edukasinya yang pertama, menguatkan imunitas, kemudian makan dan minum yang cukup, cuci tangan, kemudian pakai masker kalau aktivitas di luar,” tuturnya.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, atau demam.
Penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara masih dipengaruhi asap karhutla.
“Kalau ada aktivitas di lapangan, harus pakai masker. Maskernya menggunakan masker standar, seperti N95 yang bisa menyaring debu-debu yang di bawah 2,5 mikron,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari