Kaltim.akurasi.id, Balikpapan – Pagi di rumah Tri Wahyuni biasanya dimulai dengan pekerjaan yang akrab bagi seorang ibu rumah tangga. Menyiapkan sarapan, memastikan kebutuhan anaknya terpenuhi, lalu mengantar si kecil bersiap menjalani hari di sekolah. Anaknya kini berusia 11 tahun dan duduk di kelas VI sekolah dasar. Sementara suaminya, anggota TNI Angkatan Darat yang bertugas di Kodam VI/Mulawarman, biasanya sudah berangkat lebih pagi.
Setelah urusan rumah selesai, Tri punya tujuan lain. Perempuan berusia 38 tahun itu berjalan menuju sebuah kebun sayuran di lingkungan Posyandu Mawar Harum, RT 12, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan.
Jaraknya sekitar 200 meter dari rumahnya di RT 63. Tidak terlalu jauh. Di kebun itu, Tri tidak datang sekadar melihat-lihat. Ada air bernutrisi yang perlu diperiksa, ada tanaman yang harus diperhatikan, dan ada ranting-ranting kering yang mesti dipangkas. Ia melakukannya hampir setiap pagi. Sore hari, ia kembali lagi.
“Saya hanya menyalurkan hobi, Mas,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di balik kebiasaan yang berangkat dari kegemaran tersebut, ada pekerjaan bersama yang perlahan mengubah wajah sebuah lingkungan.
Kebun di sekitar Posyandu Mawar Harum itu tidak hanya diisi tanaman yang tumbuh di tanah. Di sana terdapat instalasi hidroponik yang memanfaatkan pipa-pipa PVC sebagai tempat tumbuh sayuran. Dua instalasi dibangun dengan rangkaian masing-masing tujuh pipa PVC sepanjang empat meter. Setiap pipa memiliki 20 lubang tanam.
Jika dihitung, terdapat 140 lubang tanam pada satu instalasi. Dua instalasi berarti tersedia 280 lubang untuk menumbuhkan sayuran.
Lubang-lubang tersebut menjadi tempat net pot diletakkan. Di dalamnya terdapat rockwool, serat yang digunakan sebagai media tanam untuk menyerap dan menyimpan air sekaligus menyediakan ruang udara bagi akar tanaman. Air bernutrisi ditampung dalam drum plastik, kemudian dialirkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Instalasi tersebut dilengkapi atap pelindung dengan rangka besi dan penutup plastik transparan. Susunannya membuat area hidroponik terlihat berbeda dari bedeng sayuran konvensional di sekitarnya. Pipa-pipa putih tersusun sejajar, sementara lubang tanam menjadi ruang bagi tanaman untuk tumbuh.
Di luar instalasi hidroponik, kebun juga memanfaatkan lahan untuk menanam sayuran langsung di tanah. Terdapat empat blok bedeng, masing-masing berukuran lebar satu meter dan panjang empat meter. Bagian tepinya diberi pembatas bambu agar tanah tetap berada pada petaknya.
Berbagai jenis tanaman tumbuh di sana. Pakcoy, selada, bayam Brasil, tomat, cabai, pare, hingga terong. Jenis tanaman yang dipilih tidak hanya mempertimbangkan kemudahan perawatan, tetapi juga kebutuhan dan kesepakatan warga.
Untuk sayuran seperti pakcoy, selada, dan bayam Brasil, waktu yang dibutuhkan hingga siap dipanen sekitar 30 hari. Sementara tomat, cabai, pare, dan terong membutuhkan waktu lebih panjang, kurang lebih tiga bulan.
Dari jenis-jenis tersebut, pakcoy, selada, dan bayam Brasil menjadi tanaman yang paling produktif. Hasil kebun dipanen hampir setiap hari, meskipun tidak semua jenis sayuran memiliki waktu panen yang sama.
Tri tidak mengurus kebun itu sendirian. Ada delapan perempuan dan satu lelaki tua yang ikut merawatnya. Mereka merupakan bagian dari sepuluh kader warga siaga sehat yang berasal dari lingkungan RT 12 dan RT 63.
Perawatan dilakukan secara bergantian. Dalam satu waktu, dua hingga empat orang bisa datang untuk memeriksa tanaman. Namun, Tri termasuk yang paling rutin berkunjung. Pagi dan sore, ia menyempatkan diri memastikan tanaman tetap terawat.
Kebun itu kemudian menjadi ruang kerja bersama bagi para warga. Mereka tidak hanya menanam dan memanen, tetapi juga mengelola hasilnya agar bisa dimanfaatkan warga sekitar.
Sayuran yang siap dipanen dijual kepada masyarakat dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar. Pakcoy, misalnya, dijual sekitar Rp10 ribu per ikat. Harga serupa berlaku untuk selada dan bayam Brasil, dengan isi empat batang yang masing-masing berukuran kurang lebih segenggam.
Sementara harga cabai, terong, pare, dan tomat disesuaikan dengan harga pasar, meski tetap ditawarkan lebih murah.
“Kondisi bahan pokok sekarang kan semakin mahal ya, Mas. Jadi kami kadang jual ke warga hanya sekitar Rp10 ribu satu ikat. Harga yang sama juga berlaku untuk selada dan bayam Brasil, isinya empat batang dengan ukuran segenggam setiap batangnya. Kalau cabai, terong, pare, dan tomat kami menyesuaikan harga pasar. Tapi kami pasti jual jauh lebih murah,” tutur Tri, saat ditemui wartawan Akurasi.id di kebun, Rabu (04/11/2026).
Penjualan tidak dilakukan setiap hari. Warga membeli ketika membutuhkan. Bibit tanaman pun sesekali dijual kepada warga yang ingin mencoba menanam sendiri, bahkan sebagian bisa memilih dan memetik sendiri sayuran yang mereka inginkan.
Uang hasil penjualan tidak langsung dibagikan sebagai penghasilan pribadi. Para kader menggunakannya kembali untuk membeli bibit, nutrisi tanaman, dan pupuk. Dengan begitu, kebun tetap memiliki modal untuk melanjutkan kegiatan tanam.
Ketika ditanya mengenai hasil yang diperoleh, Tri hanya menjawab, “Untuk kebutuhan harian cukuplah.”
Ia tidak merinci berapa nilai penjualan ataupun pendapatan yang dihasilkan. Bagi mereka, kebun ini bukan semata-mata tempat mencari uang. Ada kegembiraan tersendiri ketika tanaman yang dirawat tumbuh, bisa dipanen, lalu dibawa pulang atau dibeli oleh tetangga.
Kendati demikian, perubahan yang terjadi di lokasi tersebut tidak berhenti pada tanaman yang tumbuh di pipa dan bedeng.
Dari tempat sampah menjadi kebun
Sebelum menjadi kebun sayuran, lahan di sekitar Posyandu Mawar Harum, RT 12, merupakan tempat warga menumpuk sampah. Ruang yang kini dimanfaatkan untuk menanam itu sebelumnya belum memberikan fungsi produktif bagi lingkungan.
Perubahan tersebut menjadi salah satu bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan Pertamina RU V melalui program Kaliandra, kependekan dari Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang, menjelaskan Kaliandra bukan program yang sepenuhnya baru. Pertamina telah lebih dahulu menjalankannya di sejumlah RT di Kelurahan Baru Ilir.
Kaliandra tahap pertama dilaksanakan di RT 48, 49, 50, dan 51. Program itu mulai berjalan pada akhir 2022. Pengembangan berikutnya dilakukan melalui Kaliandra tahap kedua yang menyasar RT 12 dan RT 63.
“Ke depan, program ini rencananya akan diperluas ke RT 10, 11, dan 14. Dengan pengembangan itu, Kaliandra tahap kedua ditargetkan menjangkau lima RT baru di Kelurahan Baru Ilir,” katanya.
Pada tahap pengembangan di RT 12 dan RT 63, kegiatan diarahkan untuk memperkuat upaya warga dalam menjaga lingkungan melalui pendekatan Program Kampung Iklim atau Proklim. Kebun sayuran menjadi salah satu bentuk kegiatan yang dijalankan bersama masyarakat.
Menurut Dodi, pelaksanaan program diawali dengan proses pembinaan, pelatihan, pemetaan, dan penilaian kebutuhan warga. Tahapan tersebut dilakukan sebelum dukungan sarana dan prasarana diberikan.
Setelah proses awal itu, pada Mei 2026, dukungan fasilitas mulai diberikan dan kegiatan penanaman dijalankan. Bantuan tersebut mencakup sarana pengelolaan sampah serta kebutuhan untuk membangun kebun, termasuk instalasi hidroponik dan perlengkapan pendukung lainnya.
Bagi Pertamina, program tidak dirancang hanya dengan membawa paket bantuan yang kemudian diserahkan kepada warga. Perencanaan dilakukan bersama. Warga, pengelola program, dan tim CSR membicarakan kebutuhan lingkungan, menentukan jenis intervensi, hingga menyusun rancangan kegiatan yang dianggap sesuai.
Pemilihan tanaman pun dibicarakan dengan warga. Dengan cara itu, kebun diharapkan tidak menjadi fasilitas yang hanya ramai ketika baru dibangun, lalu terbengkalai setelah kegiatan pendampingan berakhir.
“Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam memperbaiki kondisi lingkungan. Kami berharap warga tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan ikut mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan yang sudah dimulai,” sambungnya.
Perubahan yang tumbuh dari rumah
Dampak program memang tidak seluruhnya bisa diukur dari jumlah tanaman yang tumbuh atau hasil panen yang dibawa pulang. Salah satu perubahan yang mulai terlihat justru berada di luar area kebun.
Beberapa warga mulai memilah sampah dari rumah masing-masing. Kebiasaan itu menjadi langkah awal untuk mengubah cara masyarakat memperlakukan sampah sebelum dibuang atau dikumpulkan.
Perubahan tersebut belum bisa disebut sebagai kebiasaan seluruh warga. Namun, munculnya inisiatif dari sebagian rumah tangga menunjukkan bahwa kegiatan lingkungan mulai bergerak melampaui batas lahan kebun.
Di satu sisi, warga melihat sayuran tumbuh dan bisa dipanen. Di sisi lain, mereka mulai mengenali bahwa urusan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kegiatan besar. Memisahkan sampah di rumah, menjaga kebersihan sekitar, dan merawat tanaman bisa menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Kebun pun memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat menghasilkan sayuran. Ia menjadi ruang belajar bagi warga untuk mengelola sesuatu secara bersama-sama.
Meski begitu, membangun kebiasaan kolektif bukan perkara mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam menjaga keberlanjutan kader yang menjalankan kegiatan.
Dodi mengungkapkan, kawasan tersebut merupakan lingkungan perumahan TNI AD. Kondisi itu membuat pergantian warga dan kader relatif sering terjadi. Hampir setiap tahun, susunan kader dapat berubah sehingga proses pembinaan perlu dilakukan berulang.
“Jadi hampir setiap tahun kader berganti. Itu yang menjadi kesulitan kami. Karena kami harus melakukan pembinaan berulang secara terus-menerus,” ujarnya.
Pergantian kader menjadi tantangan tersendiri. Pengetahuan tentang cara merawat tanaman, mengelola instalasi hidroponik, hingga mengatur kegiatan bersama tidak bisa hanya bergantung pada satu atau dua orang.
Ketika orang yang sebelumnya aktif berpindah, warga lain harus siap melanjutkan pekerjaan. Jika tidak, fasilitas yang sudah dibangun berisiko kehilangan orang-orang yang mampu mengelolanya.
Karena itu, Pertamina melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala, setidaknya satu kali dalam sebulan. Hasil evaluasi menjadi bahan untuk melihat perkembangan kegiatan sekaligus menentukan bentuk pendampingan berikutnya.
Dodi mengatakan, keberhasilan program tidak semestinya diukur dari seberapa banyak bantuan yang telah disalurkan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mampu menjalankan kegiatan secara mandiri.
Produktif, tetapi harus berkelanjutan
Keberhasilan kegiatan semacam ini tidak cukup diukur dari banyaknya tanaman yang tumbuh atau seberapa sering warga melakukan panen. Ada persoalan lain yang perlu diperhatikan. Bagaimana menjaga produktivitas kebun, memastikan pengetahuan budidaya tetap diwariskan, dan membuat kegiatan tersebut mampu bertahan ketika pendampingan perusahaan berakhir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih menilai, pemanfaatan lahan terbatas melalui pertanian perkotaan seperti yang dilakukan warga Kelurahan Baru Ilir merupakan langkah positif. Selain menyediakan sumber pangan di lingkungan permukiman, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal praktik budidaya sayuran secara langsung.
“Program seperti ini patut diapresiasi karena masyarakat mampu memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang budidaya. Apalagi jenis tanaman yang dikembangkan cukup beragam. Ini menunjukkan bahwa pertanian tidak selalu harus dilakukan di lahan yang luas. Dengan pengelolaan yang tepat, pekarangan maupun fasilitas umum bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan,” ujar perempuan yang akrab disapa Yuyun itu.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberadaan instalasi hidroponik dan bedeng tanaman harus diikuti pengetahuan teknis yang memadai. Warga perlu memahami kebutuhan nutrisi tanaman, pengaturan air, pengendalian hama, hingga perawatan media tanam. Tanpa pengetahuan tersebut, fasilitas yang telah dibangun berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
“Yang perlu dijaga adalah konsistensi produksinya. Hidroponik bukan hanya soal memasang pipa dan menanam sayuran. Ada pengetahuan teknis yang harus dikuasai, mulai dari takaran nutrisi, kualitas air, sampai penanganan tanaman. Karena itu, pendampingan dan kaderisasi menjadi penting, terlebih jika orang-orang yang mengelola kebun sering berganti,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi ekonomi, kebun tersebut juga menyimpan potensi yang perlu dihitung lebih jauh. Sayuran yang dijual dengan harga lebih rendah daripada harga pasar dapat membantu warga memperoleh bahan pangan dengan biaya lebih terjangkau. Sementara bagi kelompok pengelola, hasil penjualan yang diputar kembali untuk membeli bibit, nutrisi, dan pupuk menjadi modal agar kegiatan tetap berjalan.
Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo menilai kegiatan pertanian berbasis masyarakat seperti ini memiliki manfaat ekonomi yang tidak selalu terlihat dalam bentuk pendapatan tunai. Penghematan belanja rumah tangga, ketersediaan pangan di lingkungan sendiri, serta kemampuan kelompok membiayai sebagian kebutuhan operasional merupakan bagian dari nilai ekonomi yang perlu diperhitungkan.
“Jangan hanya melihat keberhasilan program dari berapa banyak sayuran yang terjual. Ada manfaat lain yang juga penting, misalnya penghematan pengeluaran rumah tangga karena warga bisa memperoleh sayuran dengan harga lebih terjangkau. Tetapi, manfaat tersebut tetap perlu dihitung agar kita bisa mengetahui seberapa besar kontribusi kebun terhadap ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, penjualan hasil panen yang selama ini digunakan kembali untuk membeli bibit, nutrisi, dan pupuk merupakan awal dari pengelolaan usaha yang baik. Namun, kelompok perlu memiliki pencatatan sederhana agar mengetahui jumlah produksi, biaya operasional, nilai penjualan, serta sisa hasil yang bisa digunakan untuk pengembangan kegiatan.
“Kalau hasil penjualan hanya diputar untuk memenuhi kebutuhan tanam berikutnya, itu sudah menjadi langkah awal yang baik. Tetapi, kelompok perlu mengetahui apakah hasil tersebut cukup untuk menutup seluruh biaya operasional. Dari situ bisa dilihat apakah kegiatan ini sudah mandiri secara ekonomi atau masih membutuhkan dukungan dari luar,” katanya.
Ia juga menilai, kelompok pengelola perlu mulai membangun sistem usaha sederhana. Pengaturan jadwal tanam dan panen, pencatatan keuangan, pengelolaan persediaan bibit, hingga pemasaran dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan warga. Tidak harus langsung berkembang menjadi usaha berskala besar.
“Yang penting jangan sampai kegiatan ini berhenti ketika bantuan perusahaan selesai. Masyarakat harus memiliki kemampuan mengelola produksi dan keuangannya sendiri. Kalau produksinya stabil dan pasarnya jelas, kebun seperti ini punya peluang untuk terus memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok maupun warga sekitar,” ujarnya.
Menanam kemandirian
Dalam pelaksanaannya, Pertamina juga menyiapkan strategi pengakhiran pendampingan atau exit strategy. Strategi ini diperlukan agar program tidak terus-menerus bergantung pada bantuan perusahaan.
Penilaian keberlanjutan dapat menghasilkan beberapa rekomendasi, mulai dari phase out, phase over, hingga phase down. Masing-masing menjadi pertimbangan untuk menentukan bagaimana pendampingan dikurangi, dialihkan, atau dihentikan secara bertahap.
Kemandirian menjadi ukuran penting dalam proses tersebut. Warga diharapkan tidak lagi bergantung pada perusahaan untuk menjalankan kegiatan, mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh, serta dapat menjaga operasional kebun dengan atau tanpa dukungan Pertamina.
Dengan kata lain, bantuan sarana dan fasilitas hanyalah salah satu bagian dari proses. Setelah itu, tanggung jawab menjaga keberlangsungan kegiatan berada di tangan masyarakat.
Tantangannya tentu tidak kecil. Tanaman membutuhkan perawatan, instalasi hidroponik perlu dijaga, kebutuhan bibit dan nutrisi harus dipenuhi, sementara kader yang menjalankan kegiatan bisa berganti sewaktu-waktu. Semua itu menuntut konsistensi yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
Namun, setidaknya ada sejumlah tanda perubahan yang mulai terlihat. Kebun yang sebelumnya berada di atas lahan tempat penumpukan sampah kini menghasilkan sayuran. Panen berlangsung hampir setiap hari, dan sebagian warga mulai memilah sampah dari rumah.
Bagi Tri, kegiatan itu mungkin tetap berawal dari kegemaran sederhana. Ia datang ke kebun, memeriksa air nutrisi, memangkas ranting yang mengering, lalu kembali ke rumah. Sore hari, ia mengulanginya lagi.
Dari rutinitas semacam itu, sesuatu yang lebih besar sedang diupayakan. Yakni membuat warga terbiasa merawat lingkungan tanpa harus selalu menunggu orang lain datang mengingatkan.
Sebab, kebun tidak akan bertahan hanya karena pipa hidroponik telah terpasang atau bedeng-bedeng telah dibangun. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia merawatnya, pengetahuan yang terus diwariskan, dan kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Di Kelurahan Baru Ilir, perubahan itu belum selesai. Tetapi di lahan yang dulu menjadi tempat sampah, kini ada sayuran yang tumbuh, hasil panen yang dinikmati warga, dan kesadaran baru yang mulai dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Harapan, rupanya, tidak selalu tumbuh dari sesuatu yang besar. Kadang ia bermula dari sebidang tanah yang dibersihkan, beberapa lubang tanam, dan seseorang yang memilih datang kembali ke kebun keesokan paginya. (*)
Penulis: Fajri Sunaryo