Pembangunan Drainase Jalan Ahmad Yani Bontang Dikeluhkan, Bikin Pedagang Merugi?

Fajri
By
224 Views

Aktivitas pembangunan drainase di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Api-Api dikeluhkan sejumlah pedagang. Kondisi ini mengakibatkan aktivitas ekonomi dikawasan tersebut terganggu, yang berimbas pada menurunnya omzet  pedagang karena pembeli kesulitan mengakses lokasi ini.

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Pembangunan drainase di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, mendapatkan banyak keluhan dari para pedagang. Proyek pengentasan banjir itu dinilai berdampak pada sepinya para pembeli di kawasan tersebut.

Salah satu keluhan itu datang dari Nurhikmah. Perempuan 26 tahun yang bekerja sebagai karyawan Wong Potato di Kawasan itu berujar, bahwa sejak pembangunan drainase dilakukan. Jumlah pembeli di toko itu bisa dikatakan berkurang banyak.

Hal ini berdampak pada omzet yang disebut-sebut turun hingga 70 persen. “Kalau hari biasa, bisa sampai dua juta. Tapi sekarang, per harinya, hanya sekitar Rp500 ribu,” tuturnya saat dijumpai, beberapa waktu lalu.

Keluhan senada pun datang dari Purbasiem (53). Wanita berkerung penjual pecel itu mengaku, pendapatan yang ia miliki dari berjualan ikut terdampak proyek tersebut.

Bila di hari-hari biasa atau sebelum proyek drainase Jalan Ahmad Yani dilakukan, Purbasiem bisa mendapatkan omzet hingga Rp600 ribu dalam sehari.

“Kalau sekarang mbak, paling hanya bisa dapat Rp250 ribu sampai Rp300 ribu saja. Pendapatan saya berkurang banyak,” ujarnya.

Baik Purbasiem dan Nurhikmah berpendapat, anjloknya omzet mereka sebagai dampak dari lambatnya proyek pembangunan drainase di sepanjang toko yang mereka miliki. Kondisi itu diduga membuat para pembeli memilih beralih ke toko yang lain.

Penuturan kedua wanita ini sedikitnya memiliki alasan. Pasalnya, luas badan jalan yang dikeruk untuk pembangunan drainase turun memakan areal parkir. Kondisi ini berdampak pada menyempitnya areal parkir pembeli yang ingin ke kawasan itu.

Di sisi lain, ketika ada pembeli yang ingin turun, maka mereka harus melewati jembatan alternatif yang terbilang cukup kecil. Sehingga para pembeli diduga menjadi malas dan enggan untuk singgah.

Keluhan senada turut diperkuat oleh Yoyon (57) yang juga berjualan bubur kacang ijo (burjo) kompleks tersebut. Menurutnya, dampak proyek drainase itu, sudah layaknya pandemi Covid-19. Lantaran, sejak ada proyek itu, kini ia tidak dapat lagi berjualan sebagaimana biasanya.

“Ngalah-ngalahin corona. Kalau hari biasa, bisa terjual sampai 3 termos. Tapi sekarang paling banyak hanya satu termos saja,” keluhnya.

Kendati demikian, Yoyon sedikit banyaknya memahami dampak dari pembangunan drainase itu. Pasalnya, proyel itu sendiri memang diperlukan untuk mengurai persoalan banjir yang acap kali meresahkan warga di sekitar Kelurahan Api-Api tersebut. (*)

Penulis: Nuraini
Editor: Fajri Sunaryo

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana