Tari Tradisional Kalimantan Timur: Hudoq, Festival Budaya Masyarakat Dayak yang Sarat Makna

Tarian Hudoq bukan sekadar gerak tubuh, namun ada permohonan dan doa panjang yang dipanjatkan bumi kepada langit untuk kedamaian semesta.
Ocha Ocha
4 Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Tari tradisional Kalimantan Timur punya banyak kisah yang indah. Setiap tariannya punya cerita sendiri, ada yang menceritakan kehidupan sehari-hari, ada yang menggambarkan adat istiadat, dan ada pula yang lahir dari kepercayaan leluhur.

 

 

Salah satu yang paling unik adalah tarian kisah tentang masyarakat Dayak dalam menghormati bumi dan Ibu Pertiwi. Tentang masyarakat adat yang percaya bahwa berkah leluhur adalah alasan utama tanah yang subur. Sebuah tarian persembahan kepada bumi dan permohonan ritual kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar hasil pertanian mereka berlimpah. Tarian ini kemudian dikenal sebagai Tari Hudoq.

 

 

Nama “Hudoq” berasal dari bahasa Dayak Modang, yang berarti “topeng.” Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tarian ini melibatkan penggunaan topeng dan kostum unik yang menyerupai makhluk gaib. Hudoq adalah manifestasi dari roh/dewa Hunyang Tenangan , dewa penjaga padi yang dikirim oleh Tuhan Apo Lagaan (Surga) bernama Ine Aya’.

 

 

Kedatangan roh dewa ke bumi adalah untuk menjawab doa-doa manusia yang melakukan Menugal, sebuah proses pemberitahuan kepada leluhur dan dewa bahwa suku Dayak akan mulai menanam padi, jagung, dan tebu di sawah mereka. Untuk mengharapkan berkah dari para dewa, tidak cukup hanya dengan Menugal, masyarakat Dayak Mahakam Ulu akan mempersiapkan tarian Hudoq yang merupakan warisan turun-temurun dalam keluarga mereka.

 

Menurut mitos, topeng Hudoq ini adalah ciptaan roh di luar manusia, dalam bahasa setempat disebut Tok Jeliwan Tok Hudoq. Jeliwan berarti ular kobra, tok berarti roh dan Hudoq berarti topeng. Topeng itu sendiri memiliki berbagai bentuk, tetapi sebagian besar topeng Hudoq menyerupai bentuk burung.

 

 

Biasanya setiap rumah memiliki topeng Hudoq untuk menyambut pesta. Topeng Hudoq terbuat dari kayu Jelutung dan akan disisipkan daun pisang segar untuk memperkuat kesan dewa yang memberkati kehidupan.

 

 

Karena roh-roh ini adalah makhluk agung dan mulia dengan berbagai bentuk dari wujud aslinya, untuk mencegah manusia di bumi terkejut ketika melihat wujud roh-roh tersebut, para penari Hudoq yang bertindak sebagai penjaga gerbang antara Surga dan Bumi membuat topeng untuk dikenakan oleh roh-roh ini ketika bertemu dengan manusia bumi.

 

 

Suku Dayak percaya bahwa roh-roh ini berasal dari air, ujung langit dan awan, ujung bumi, bawah tanah, dan sebagian dari surga. Jenis kebaikan yang mereka bawa bermacam-macam, beberapa dewa membawa roh padi agar padi tumbuh sehat dan berlimpah, beberapa membawa roh hewan buruan agar mudah diburu oleh manusia, dan beberapa membawa roh kekayaan, roh kesehatan, dan lain-lain.

 

 

Setiap tahun, masyarakat Dayak Mahakam Ulu yang tinggal di Desa Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai, sebuah desa yang terletak jauh di jantung Kalimantan Timur, mengadakan Festival Hudoq Pekayang yang wajib dihadiri oleh 11 desa di sana. Hudoq Pekayang merupakan bentuk ucapan syukur atas satu bulan tanam. Selain itu, masyarakat Dayak Wehea di Kutai Timur juga rutin menampilkan tarian Hudoq dalam festival nasional Lom Plai yang menjadi cagar budaya.

 

 

Tari Hudoq telah diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Pengakuan ini menggarisbawahi pentingnya tari ini dalam memperkaya kekayaan budaya bangsa dan melestarikan warisan leluhur. Di tingkat regional, Tari Hudoq juga telah mendapat pengakuan dari pemerintah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

 

 

Festival Hudoq telah menjadi acara tahunan yang diadakan di berbagai wilayah Kalimantan Timur, seperti Mahakam Ulu, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara, untuk mempromosikan kekayaan budaya lokal kepada wisatawan. Melalui Festival Hudoq, kita dapat menyaksikan kekayaan warisan budaya Indonesia dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. (*)

 

Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi

 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana