
Nilai Investasi Rp100 M Lebih, Pemkot Bakal Bangun Pabrik Bio Solar. Rencananya, Pemkot Bontang bakal menggandeng investor asal Australia, PT Geo Trash Management mendirikan mesin pengelolaan limbah sampah plastik untuk produksi Bio Solar di Bontang.
Akurasi.id, Bontang – Permasalahan sampah plastik di Kota Bontang memang menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan baik pencemaran tanah maupun laut. Sifat sampah plastik tidak mudah terurai, proses pengolahannya menimbulkan toksik dan bersifat karsinogenik, butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai secara alami.
Oleh karena itu, melihat perkembangan masalah sampah plastik, Pemkot Bontang melalui Dinas Lingkungan Hidup bakal melakukan mempercepat perbaikan sistem pengelolaan. Rencananya, Pemkot Bontang bakal menggandeng Investor asal Australia, PT Geo Trash Management bangun pabrik bio solar, dengan mesin pengelolaan limbah sampah plastik di Bontang.
Pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar solar yang ramah lingkungan tersebut menggunakan sistem Pirolisis. Sistem tersebut mampu memproduksi bahan bakar ramah lingkungan berupa solar dari pengolahan sampah plastik. Pun Bahan bakar yang dihasilkan setara Dexlite.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pengolahan Sampah DLH Bontang, Muhammad Taupan Kurnia menjelaskan, jika teknologi pengelolaan yang akan digunakan nanti sama seperti sistem yang kini sudah berjalan di Provinsi Nusa Tenggara Bara (NTB). Yang mana bahan baku produksi solar berasal dari plastik seperti sampah plastik mi instan atau makanan ringan yang selama ini dianggap tidak menguntungkan.
“Bulan Mei 2021 lalu, kami sudah melakukan pra feasibility study atau pra studi kelayakan di Lombok. Kami juga sudah mempresentasikan potensi Bontang untuk pembangunan pabrik itu,” ucapnya kepada Akurasi.id, Selasa (26/10/2021).
Nantinya, jika pabrik tersebut sudah beroperasi, akan membutuhkan 20 ton sampah plastik per hari. Dengan angka itu akan menghasilkan sebanyak 14 ribu liter solar per hari. Nilai jual jika dikalikan sebulan bisa mencapai Rp2 Miliar.
[irp]

“Nanti akan dibangun dua reaktor (mesin). Satu mesinnya menghabiskan sampah plastik 10 ton per hari,” jelasnya.
Kata dia, untuk mewujudkan teknologi itu pihaknya membutuhkan lahan seluas 4 hektare untuk membangun pusat industri guna mendukung pengelolaan sampah tersebut. Mengingat nilai investasi yang ditanamkan pun tidak sedikit di mana angkanya mencapai Rp100 miliar lebih.
Sejauh ini, lanjut Taupan, progres rencana pembangunan mesin Bio Solar tersebut sudah dalam tahap pengkajian. Dia berharap studi kelayakan sudah rampung pada akhir tahun 2021. “Setelah study kelayakan rampung. Tinggal kami sepakati skema investasinya. Apakah lahannya nanti disewa atau Pemkot ikut berinvestasi dalam penyertaan modalnya, itu dibahas nanti,” tukasnya.
Dia juga menjelaskan, program pengelolaan sampah yang ditawarkan oleh PT Geo Trash Management menjadi salah satu solusi pemerintah dalam mengatasi masalah sampah plastik di Bontang. Pasalnya, bahan baku yang digunakan berasal dari limbah plastik, seperti plastik kemasan, ban, kresek, dan lainnya.
[irp]
“Semoga saja pabrik itu bisa dibangun di Kota Bontang. Kalau sudah jadi, nanti bakal terserap sekitar 70 orang tenaga kerja,” ujarnya. (*)
Penulis: Fajri Sunaryo
Editor: Rachman