Pagi baru saja naik di pesisir Kelurahan Saloloang, Kabupaten Penajam Paser Utara, ketika Fajri mulai membersihkan kapalnya yang tertambat di bibir pantai.
Lap-lap kain basah ia usapkan perlahan ke badan kapal kayu yang telah seminggu tak menyentuh laut. Bukan karena tak ingin melaut, tetapi karena keadaan memaksanya mencari pekerjaan lain demi menutup kebutuhan hidup.
“Kadang angkut kayu juga,” katanya singkat kepada Akurasi.id, Rabu (6/5/2026).
Bagi Fajri (24), menjadi nelayan memang pekerjaan utama. Tetapi beberapa waktu terakhir, laut tak lagi selalu menjanjikan kepastian. Di tengah situasi global yang memanas pasca bombardir Amerika Serikat terhadap Iran—salah satu negara penghasil minyak mentah dunia—harga bahan bakar melonjak tajam. Indonesia pun ikut terdampak.
Per 4 Mei 2026, harga Pertamina Dex bahkan mencapai Rp29.100 per liter. Di daerah, gejolaknya mulai terasa hingga ke masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut.
Sebelumnya, dampak kenaikan dan antrean BBM telah lebih dulu dirasakan para sopir truk di PPU yang harus menghabiskan waktu hingga tiga hari untuk mengantre di SPBU. Kini, kegelisahan yang sama mulai menghampiri para nelayan.
Usai membersihkan kapal, Fajri duduk menepi sambil memandangi jejeran kapal lain yang terikat di sepanjang pesisir Saloloang. Ia mengaku keresahan soal harga dan kekhawatiran kelangkaan solar sudah dirasakan para nelayan dalam sekitar sebulan terakhir.
Setiap nelayan di wilayah itu memang memiliki barcode khusus untuk membeli solar subsidi. Barcode tersebut dibagikan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan PPU sebagai mekanisme distribusi bagi nelayan.
Dalam tiga hingga empat hari sekali, setiap nelayan hanya mendapat jatah maksimal 35 liter solar yang dibeli melalui penjual khusus nelayan dengan harga Rp8 ribu per liter.
“Biasanya kita cuma cari ikan ke bagang-bagang jadi bisa 3-4 hari, kalau jauh ya lebih banyak lagi butuhnya. Tapi maksimal setiap nelayan jatahnya 35 liter,” ungkap Fajri.
Untuk sementara, stok solar di wilayah mereka masih tersedia meski cepat habis. Jika pasokan mulai kosong, nelayan akan langsung melapor ke Dinas Perikanan karena distribusi BBM untuk nelayan di wilayah tersebut tidak boleh terputus.
“Kan di sini nggak boleh kosong. Jadi langsung dari perikanan,” jelasnya.
Sehari-hari, hasil tangkapan Fajri biasanya dibeli langsung oleh pedagang ikan di Pasar Induk Penajam. Ia umumnya menangkap ikan teri atau ikan tembang yang dijual sekitar Rp150 ribu per ember.
“Satu ember kisaran 17 sampai 20 kilo,” katanya.
Namun hasil yang didapat, menurutnya, masih jauh dari kata stabil. Pendapatan nelayan sangat bergantung pada cuaca dan kondisi laut. Sementara beberapa bulan ke depan, angin selatan mulai datang. Musim yang dikenal menyulitkan nelayan untuk melaut.
“Kalau angin selatan nanti kita berubah lagi cari udang. Karena kalau menangkap ikan di angin selatan, kencang sekali,” ujarnya.
Keresahan serupa juga dirasakan nelayan di wilayah lain. Di Kelurahan Pejala, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bunga Tanjung, Sahibe, mengaku para anggota kelompoknya mulai khawatir dengan kabar kenaikan harga solar.
Meski harga yang diterima nelayan saat ini masih Rp8 ribu per liter, mereka takut lonjakan harga bahan bakar akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
“Memang belum naik sih, tapi kudengar ada rencana naik. Kalau benar pasti mengeluh nelayan, kasihan,” kata Sahibe usai merintis jalan menuju pesisir Pejala sebagai akses para nelayan.
Ia juga mendengar kabar bahwa harga solar eceran di pinggir jalan sudah mencapai sekitar Rp15 ribu per liter.
Bagi nelayan kecil, kenaikan sekecil apa pun bisa sangat menentukan. Sahibe menjelaskan, lima liter solar biasanya cukup untuk dua kali melaut bagi nelayan rajungan yang lokasi tangkapnya tidak terlalu jauh dari pesisir. Berbeda dengan nelayan pancing yang harus pergi lebih jauh ke laut.
“Anggota KUB itu ada 14. Ada tiga orang nelayan pancing dan sisanya nelayan udang juga rajungan,” jelasnya.
Di tengah situasi itu, para nelayan menghadapi dilema yang tidak mudah. Ketika harga bahan bakar naik, biaya melaut ikut naik. Tetapi menaikkan harga jual hasil tangkapan pun bukan perkara sederhana.
Jika harga ikan terlalu mahal, pengepul enggan membeli karena kesulitan menjual kembali ke pasar.
“Masalahnya kalau mahal, siapa yang mau ambil ikannya,” kata Sahibe.
Beruntung, untuk komoditas rajungan, pasar ekspor masih cukup membantu menjaga harga. Rajungan dari wilayah tersebut diketahui diekspor hingga ke China dengan harga sekitar Rp70 ribu per kilogram.
Namun di luar itu, nelayan kecil tetap menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampak. “Akhirnya yang jadi korban ya nelayan lagi,” jelasnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id