Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Keterbatasan daya tampung sekolah negeri, khususnya jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), masih menjadi tantangan di Kalimantan Timur. Padahal, sekolah negeri masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, mengakui kapasitas SMA negeri saat ini belum mampu menampung seluruh calon peserta didik yang mendaftar.
“Daya tampung sekolah negeri di Kalimantan Timur saat ini masih terbatas,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda, Senin (22/6/2026).
Menurut Armin, total daya tampung SMA dan SMK negeri di Kaltim saat ini berada di kisaran 70 ribu siswa. Kondisi tersebut membuat sebagian lulusan SMP harus melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta.
Armin menjelaskan, secara keseluruhan kebutuhan pendidikan menengah sebenarnya masih dapat ditopang oleh keberadaan sekolah swasta. Namun, tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri membuat persaingan masuk semakin ketat setiap tahun.
Kondisi ini paling terasa di sejumlah daerah dengan jumlah penduduk besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara, yang setiap tahun mencatat jumlah pendaftar jauh lebih tinggi dibandingkan kapasitas yang tersedia.
“Memang masih banyak masyarakat yang berharap anaknya dapat bersekolah di sekolah negeri,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus melakukan penambahan kapasitas dan membuka sekolah baru di sejumlah daerah.
Di Balikpapan, misalnya, tahun ini mulai beroperasi SMA Negeri 10 Balikpapan dan SMK Negeri 8 Balikpapan yang ikut menerima peserta didik baru.
Penambahan kapasitas juga dilakukan di Kabupaten Berau melalui pembukaan dua sekolah baru. Sementara di Sangatta, pemerintah turut menambah daya tampung guna mengakomodasi kebutuhan pendidikan masyarakat.
“Kami terus berupaya mencari solusi agar anak-anak Kaltim tetap memperoleh akses pendidikan yang layak,” jelasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id