Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk menangani infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), menjadi perhatian di tengah potensi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan kualitas udara di Samarinda saat ini masih berada dalam kategori waspada. Meski belum ada skenario terburuk yang ditetapkan, Dinkes tetap menyiapkan langkah antisipasi dari sisi kesehatan.
“Kalau dari kualitas udara, ini masih masuk kategori waspada,” kata Ismed.
Ismed menjelaskan, Dinkes merupakan bagian dari satuan tugas (satgas) penanganan bencana yang dikoordinasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda. Dalam rapat terpadu sebelumnya, Dinkes diminta menyiapkan kebutuhan kesehatan apabila dampak kabut asap meningkat.
Menurutnya, kesiapan tersebut terutama mencakup logistik dan ketersediaan obat-obatan. Dinkes juga akan terus menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dan melindungi diri dari paparan udara yang tidak sehat.
“Kalau dari sisi kesehatan, pasti kita menyiapkan logistik, terutama ketersediaan obat-obatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dinkes dapat memberikan masukan mengenai langkah perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak sekolah, apabila kualitas udara mengalami penurunan. Namun, pengaturan teknis terkait aktivitas sekolah berada pada kewenangan instansi lain yang tergabung dalam satgas.
Untuk sementara, Ismed memastikan stok logistik kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan masih mencukupi. Kesiapan tersebut mencakup jaringan puskesmas hingga rumah sakit di Samarinda.
“Untuk sementara ini stok logistik cukup,” bebernya.
Meski demikian, Ismed mengingatkan bahwa ISPA merupakan salah satu penyakit yang secara rutin masuk dalam 10 besar penyakit di Samarinda. Karena itu, ketersediaan obat ISPA tetap perlu dijaga, terlepas dari kondisi kemarau maupun adanya kabut asap.
Perbedaannya, kata dia, terletak pada potensi peningkatan kebutuhan obat apabila terjadi lonjakan kasus akibat memburuknya kualitas udara.
“ISPA itu, meskipun tidak ada kekeringan, tidak ada El Nino atau kabut asap, penyakit ISPA itu selalu mendominasi 10 besar penyakit,” jelasnya.
Karena itu, Dinkes akan menghitung kembali kebutuhan logistik apabila terjadi peningkatan kasus. Ismed mencontohkan, jika kasus ISPA meningkat hingga 22 persen, maka penyesuaian stok obat perlu dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan.
“Kalau misalkan terjadi peningkatan 22 persen, berarti stok obat harus ditambah,” katanya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id