Semester I 2026, Disdag Samarinda Sudah Habiskan Rp17,9 Miliar, Ini Pos Belanja Terbesarnya

Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda telah merealisasikan Rp17,94 miliar atau 54 persen dari total anggaran 2026. Sebagian besar anggaran terserap untuk belanja pegawai, operasional pasar rakyat, serta biaya listrik dan pemeliharaan Pasar Pagi.
Fajri
By
2.1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda mencatat realisasi anggaran hingga pertengahan tahun 2026 mencapai Rp17,94 miliar atau sekitar 54 persen dari total anggaran sebesar Rp33,77 miliar. Sebagian besar anggaran tersebut terserap untuk belanja pegawai, operasional pasar rakyat, dan penyelesaian kewajiban tahun sebelumnya.

Staf Program Disdag Samarinda, Kusnawan Anwar, menjelaskan bahwa pada APBD Murni 2026, Disdag memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp33,2 miliar. Nilai tersebut kemudian bertambah sekitar Rp553,8 juta melalui Pergeseran II untuk mendukung operasional truk sampah, genset Pasar Pagi, serta loader di TPS Pasar Segiri.

“Anggaran murni kami sebesar Rp33,2 miliar. Pada Pergeseran II ada tambahan sekitar Rp553 juta sehingga total anggaran menjadi Rp33,77 miliar. Sampai saat ini realisasinya mencapai Rp17,94 miliar,” ujar Kusnawan.

Menurut Kusnawan, komponen terbesar dalam penggunaan anggaran masih berasal dari belanja pegawai. Dari total anggaran yang tersedia, sekitar Rp13 miliar dialokasikan untuk pembayaran gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu.

“Hingga saat ini realisasi pembayaran gaji ASN sudah mencapai sekitar Rp8 miliar,” katanya.

Selain itu, Disdag juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp5,8 miliar untuk pembayaran gaji PPPK paruh waktu dan Pegawai Jasa Lainnya Perorangan (PJLP). Namun, kebutuhan riil untuk komponen tersebut diperkirakan mencapai Rp6,8 miliar.

Disdag juga telah menyelesaikan sebagian besar kewajiban pembayaran utang tahun sebelumnya. Dari total utang sekitar Rp536 juta, saat ini hanya tersisa satu pekerjaan yang belum dibayarkan, yakni retensi perencanaan Pasar Pagi senilai Rp98,9 juta.

“Alhamdulillah hampir seluruh utang sudah diselesaikan. Tinggal satu pekerjaan terkait perencanaan Pasar Pagi yang masih menyisakan retensi,” jelasnya.

Setelah belanja pegawai dan penyelesaian utang, porsi anggaran terbesar berikutnya digunakan untuk operasional pasar rakyat, khususnya Pasar Pagi Samarinda.

Kusnawan mengungkapkan kebutuhan listrik dan air untuk seluruh pasar yang dikelola Disdag mencapai lebih dari Rp2 miliar per tahun. Pasar Pagi menjadi penyumbang biaya operasional terbesar dengan kebutuhan listrik sekitar Rp100 juta hingga Rp120 juta setiap bulan.

Selain biaya utilitas, Disdag juga harus menyiapkan anggaran pemeliharaan berbagai fasilitas di Pasar Pagi, termasuk empat unit lift dan 22 unit eskalator yang memerlukan perawatan berkala.

“Kegiatan yang kami jalankan saat ini sebagian besar memang untuk layanan dasar dan operasional pasar,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana