Tanah Mulai Retak, 48 Hektare Sawah Samarinda Terancam Gagal Panen

Kemarau panjang mulai mengancam puluhan hektare lahan pertanian di Samarinda. Sekitar 48 hektare sawah di kawasan Betapus dilaporkan mulai kekeringan, sehingga Pemkot Samarinda menyiapkan langkah pemompaan air dari anak Sungai Karang Mumus agar tanaman tetap bisa dipanen.
Fajri
By
2.5K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kemarau panjang mulai mengancam lahan pertanian di Kota Samarinda. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mendorong percepatan penanganan kekeringan dengan menyuplai air dari anak Sungai Karang Mumus untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan penanganan perlu segera dilakukan oleh sejumlah perangkat daerah terkait untuk menyelamatkan puluhan hektare lahan yang terdampak kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino.

“Kita berhubung dengan adanya kemarau panjang ini, salah satunya kita melihat di lokasi. Moga-moga besok segera BPBD dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian memberikan solusi, salah satunya adalah memompa air dari anak Sungai Karang Mumus supaya bisa masuk ke saluran air yang ada di sini,” ujar Saefuddin Zuhri.

Menurutnya, kondisi tanah yang mulai retak menjadi salah satu indikator kekeringan yang cukup serius. Karena itu, suplai air ke lahan pertanian dinilai penting agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.

“Kalau kita lihat tanah ini sudah pecah-pecah. Tentunya nanti memerlukan waktu untuk mengisi di sini, karena tidak bisa langsung mengalir. Alirannya menutupi daerah-daerah yang pecah dulu, baru mengalir ke seterusnya,” jelasnya.

48 Hektare Lahan Berpotensi Terselamatkan

Saefuddin menyebut luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan diperkirakan mencapai 48 hektare. Menurutnya, lahan tersebut masih berpeluang diselamatkan hingga masa panen apabila pasokan air dapat segera dipenuhi.

“Ini sekitar lahan pertanian saja 48 hektare. Moga-moga kalau nanti Ketapang Tani bisa mengirim air ke sini, menyuplai air di persawahan ini, tidak puso, itu bisa masih dipanen,” katanya.

Ia memperkirakan potensi hasil panen dari lahan tersebut cukup besar. Dengan asumsi produktivitas sekitar 8 ton per hektare dalam satu kali panen, sekitar 384 ton hasil pertanian berpotensi diselamatkan apabila lahan tidak mengalami puso.

“Lumayan kalau masyarakat 48 hektare itu kalau satu hektarnya per panen 8 ton. Berapa yang harus diterima manfaatnya untuk masyarakat,” tuturnya.

Pemkot Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan

Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Saefuddin juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara luas.

Ia menegaskan pembakaran lahan untuk membuka area pertanian maupun tanah kaplingan tidak diperbolehkan secara sembarangan. Terlebih, kondisi cuaca panas dan angin kencang dapat membuat api sulit dikendalikan.

“Kalau pembakaran secara luas ini enggak boleh. Makanya masyarakat tolong jangan bakar-bakarlah. Saat ini jangan untuk membakar-bakar lahan, walaupun lahannya sendiri,” tegasnya.

Menurut Saefuddin, pembakaran yang semula ditujukan untuk membuka lahan dapat meluas apabila tidak mampu dikendalikan. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada lahan milik warga lain hingga permukiman di sekitarnya.

“Nanti kalau permasalahannya tidak bisa diselesaikan sendiri, akibatnya kan masyarakat yang lain yang berdampak bermasalah. Akhirnya tetangga dan lain sebagainya ikut kebakar, kasihan,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana