Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Warga Perumahan Rapak Binuang dan Pondok Surya Indah mengeluhkan dampak aktivitas perluasan lahan di kawasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin. Pekerjaan pengurukan yang dilakukan di area rumah sakit tersebut dinilai memperparah banjir di lingkungan permukiman sekitar.
Sejumlah ketua RT menyebut, kondisi banjir yang sebelumnya relatif terkendali kini kembali memburuk, baik dari sisi ketinggian air maupun lamanya genangan yang bertahan.
Ketua RT 30 Pondok Surya Indah, Anang Rifani, mengatakan wilayahnya semula tergolong aman dari banjir. Namun sejak proses pengurukan lahan dilakukan, situasi berubah signifikan. Saat hujan dengan intensitas tinggi, air nyaris meluap ke badan jalan dan menghambat aktivitas warga.
“Kalau dulu air tidak sampai melimpah. Sekarang kalau hujan deras, Rapak Binuang bisa tergenang dan air sudah mendekati jalan. Jalur menuju SKM (Sungai Karang Mumus) juga ikut terdampak,” keluh Anang.
Keluhan serupa disampaikan Ketua RT 27 Rapak Binuang Indah, Kamaludin. Ia mengakui kawasan tersebut memang memiliki potensi banjir, namun kondisi yang terjadi belakangan jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya. Jika dulu genangan hanya setinggi lutut, kini air bisa mencapai pinggang orang dewasa dan masuk ke rumah warga.
“Banyak perabot rumah tangga rusak dan akhirnya dibuang. Ini sudah dampak nyata, bukan sekadar kekhawatiran. Padahal hampir dua tahun kami tidak mengalami banjir,” ujarnya.
Kamaludin menilai, hilangnya area resapan air menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, Rapak Binuang berada di wilayah cekungan yang menjadi muara aliran air dari sejumlah kawasan lain, seperti Batu Besaung, Batu Cermin, Wahid Hasyim, Jalan AW Sjahranie, hingga Perjuangan, sebelum mengalir ke Sungai Karang Mumus.
“Dengan kondisi sungai seperti sekarang, daya tampungnya tidak lagi memadai. Akhirnya air meluap ke permukiman,” jelasnya.
Baca Juga
Ia pun mendorong pemerintah kota untuk mengkaji solusi jangka panjang, salah satunya pembangunan sodetan di kawasan Bengkuring guna membagi aliran air agar tidak seluruhnya bermuara ke Rapak Binuang. Selain itu, warga meminta agar aktivitas pengurukan lahan dihentikan sementara.
“Pekerjaan ini sebaiknya dihentikan dulu. Kami minta pemerintah meninjau kemungkinan sodetan supaya limpasan air tidak semuanya masuk ke kawasan kami,” tegas Kamaludin.
Warga juga mencatat durasi genangan banjir kini semakin panjang. Air bisa bertahan antara 14 hingga 18 jam, bahkan mencapai satu hingga dua hari apabila bersamaan dengan pasang air laut. Lumpur yang tertinggal di dalam rumah pun semakin tebal.
Ketua RT 28 Rapak Binuang, Kuswanto, menambahkan bahwa banjir setinggi pinggang telah terjadi dua kali dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan sebelumnya, ketika ketinggian air hanya sebatas lutut.
“Sekarang banjir makin dalam dan kejadiannya juga semakin sering,” katanya.
Para ketua RT berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pengurukan lahan di kawasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin agar dampak lingkungan yang ditimbulkan tidak terus mengorbankan keselamatan dan kenyamanan warga sekitar. (*)
Baca Juga
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id
