MBG Ramadan di Samarinda Dikeluhkan: Susu Hilang, Menu Kurang Menarik, Siswa Ogah Konsumsi

Menu MBG SD 003 Sungai Kunjang, Samarinda, diminta evaluasi. Soalnya menu dinilai kurang menarik sehingga membuat siswa kadang ogah konsumsi.
Devi Nila Sari
1.9k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Tidak adanya susu dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD 003 Sungai Kunjang, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, menuai tanda tanya. Padahal, susu dinilai sebagai salah satu pelengkap gizi penting bagi anak-anak usia sekolah.

Terlebih, anggaran yang digelontorkan untuk program unggulan pemerintah pusat ini cukup besar. Untuk itu, seharusnya penyelenggara program dinilai bisa lebih peka terhadap ketersediaan gizi dan kesehatan siswa, bukan hanya untuk mencari keuntungan semata.

Penanggung jawab MBG SD 003 Sungai Kunjang, Abdul Fajar, mengungkapkan pihaknya sempat mempertanyakan langsung ke pengelola SPPG terkait absennya susu dalam dua hari terakhir.

“Saya sempat langsung menghubungi pihak SPPG dan menanyakan kenapa susu tidak ada. Alasannya karena stok,” ungkapnya, Senin (2/3/2026).

- Advertisement -
Ad image

Ia menilai, jika memang stok susu menjadi kendala, pengelola seharusnya dapat mencari opsi lain seperti susu bubuk yang bisa diolah sendiri, atau sumber protein alternatif seperti kedelai. Menurutnya, alasan ketiadaan stok tanpa solusi yang jelas menjadi pertanyaan.

“Menurut saya, kalau memang kendalanya stok, seharusnya bisa disiapkan lebih awal atau diganti dengan alternatif lain,” ketusnya.

Fajar menjelaskan, biasanya pembagian susu dijadwalkan setiap Jumat. Namun, sempat ada informasi perubahan jadwal yang pada pelaksanaannya tidak sesuai dengan pemberitahuan awal. Kondisi ini juga memicu pertanyaan dari para siswa.

“Anak-anak juga sempat bertanya-tanya kenapa dua hari terakhir tidak ada susu. Dari dapur katanya itu bukan keputusan guru, melainkan kebijakan dari pengelola,” jelasnya.

Menu MBG Diminta Evaluasi: dari Menu hingga Penyajian

Menu MBG Ramadan di SD 003 Sungai Kunjang
Siswa SD 003 Sungai Kunjang, Samarinda, saat menyantap MBG. (Muhammad Zulkifli/Akurasi.id)

Dari sisi respons siswa, Abdul Fajar menyebut, tidak semua anak mengonsumsi menu yang disediakan. Ada yang memilih membawa pulang, bahkan ada yang tidak mengambil karena kurang sesuai selera. Penyajian pun dinilai masih perlu ditingkatkan.

“Penyajiannya menggunakan wadah kecil. Harapannya tentu porsi dan penyajian bisa lebih diperhatikan agar anak-anak lebih tertarik,” katanya.

Ia juga membandingkan dengan sekolah lain, yang dinilai memiliki variasi menu lebih beragam dan penyajian lebih menarik. Bahkan, ada sekolah yang menyajikan kolak dengan kemasan yang lebih baik.

“Jadi terasa ada perbedaan perhatian dalam pengelolaan,” tambahnya.

Fajar menerangkan, pihak sekolah sebenarnya diminta untuk memberikan masukan melalui formulir penilaian harian. Meski bisa saja memberikan nilai rendah, pihaknya tetap berusaha objektif dan menghargai program tersebut.

“Kami tetap berusaha objektif dan menghargai program ini. Untuk susu dan telur, misalnya, kami beri penilaian sesuai kondisi yang ada,” imbuhnya.

Menurutnya, evaluasi dan peningkatan kualitas dinilai perlu dilakukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan siswa.

“Sebenarnya harapan kami sederhana, agar lebih diperhatikan dan ditingkatkan lagi kualitasnya,” ucapnya.

Selain soal susu, menu juga menjadi perhatian. Abdul Fajar menyebut pernah ada hari di mana banyak anak tidak menghabiskan makanan, terutama saat menu seperti spaghetti goreng disajikan.

“Tidak semua anak terbiasa dengan menu seperti itu, jadi perlu penyesuaian dengan selera anak-anak,” terangnya.

Menurutnya, menu sederhana dan familiar justru lebih disukai siswa dibandingkan menu yang dianggap “asing”.

“Daripada menunya terlalu asing lalu banyak yang tidak dimakan, lebih baik yang sederhana tapi habis,” tambahnya.

SPPG Diminta Konsisten Soal Waktu Pengantaran MBG

Permasalahan lain yang disoroti adalah keterlambatan pengantaran makanan. Orang tua disebut dijanjikan makanan tiba pukul 08.00 Wita, namun pernah datang hampir pukul 09.20 Wita.

“Alasannya ada kendala di dapur, bahkan pernah disebut mobil bermasalah. Tapi kalau sampai terlambat satu setengah jam, tentu itu sulit diterima. Apalagi anak-anak sudah menunggu,” tegasnya.

Ia menyebut, kejadian tersebut sudah terjadi setidaknya dua kali dan berdampak pada jadwal belajar siswa.

“Kalau memang disepakati jam 08.00, ya datang tepat waktu. Karena kalau sudah lewat jam 10.00, jadwal belajar juga terganggu,” katanya.

Terkait anggaran, ia menyebut informasi yang beredar sekitar Rp15 ribu per porsi. Namun menurut perhitungannya, realisasi kemungkinan berkisar Rp12-13 ribu per porsi.

“Bahkan ada yang memperkirakan bisa sampai Rp20 ribu kalau benar-benar maksimal dengan bahan dan pengolahan yang baik. Artinya, secara teori anggarannya cukup untuk menu yang lebih baik dan variatif,” bebernya.

Selain itu, persoalan tas makanan juga sempat menjadi perhatian. Tas yang sama dikembalikan ke sekolah dan digunakan kembali keesokan harinya dinilai kurang ideal dari sisi kebersihan.

“Kami sempat memberi solusi, misalnya gunakan plastik saja agar lebih simpel. Tapi alasannya penggunaan plastik dilarang. Padahal roti dan kacang tetap dibungkus plastik. Jadi terkesan kurang konsisten,” katanya.

Secara keseluruhan, pihak sekolah mendukung pelaksanaan Program MBG. Namun, mereka berharap adanya peningkatan kualitas menu, ketepatan waktu distribusi, serta konsistensi pengelolaan agar program benar-benar memberi dampak positif bagi siswa.

“Intinya, kami mendukung program ini. Namun kami berharap ada evaluasi dan perbaikan agar manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }