“Peran(G)tau”: Curhat Anak Rantau yang Diubah Jadi Stand Up Comedy

Dari makan mi instan di akhir bulan sampai ditanya “kapan pulang?”, semua keresahan anak rantau kini jadi bahan komedi. “Peran(G)tau” bukan sekadar hiburan, ini pengalaman hidup yang dipentaskan.
Fajri
By
2.1k Views

Kaltim.akurasi.id – Bayangkan sebuah koper yang dipaksa penuh, tiket pesawat sekali jalan, dan doa ibu yang masih terngiang saat pesawat lepas landas meninggalkan Kalimantan Timur.

Merantau sering kali dimulai dari hal-hal sederhana: keberanian yang setengah nekat, tabungan yang pas-pasan, bahkan kadang hanya bermodal tekad dan sedikit “give” dari platform media sosial demi melanjutkan pendidikan di tanah orang.

Di kota yang asing, hidup tidak selalu berjalan seperti unggahan media sosial. Ada hari-hari ketika langit malam justru mengingatkan pada rumah. Ada pagi-pagi yang dilalui sambil menahan lapar. Ada akhir bulan ketika obat pereda nyeri lambung lebih akrab daripada menu makan siang.

Namun bagi banyak perantau, pulang bukan sekadar soal kembali. Ada semacam janji diam-diam kepada diri sendiri: jalan pulang belum layak ditempuh sebelum sesuatu yang disebut keberhasilan benar-benar bisa dibawa pulang.

Merantau bukan cuma soal pindah alamat. Ini adalah peran, ketika seseorang harus terlihat kuat, bahkan saat isi dompet menipis. Tapi merantau juga adalah perang, melawan rindu masakan rumah, melawan ego di tanah yang terasa asing, hingga menghadapi pertanyaan yang tak pernah gagal menusuk dari grup WhatsApp keluarga: “Kapan pulang?”

Dari pengalaman itulah dua putra daerah Kalimantan Timur, Adam Aliansyah dengan nama panggung @damlieyy dan Rama Indrawan dengan nama panggung @tatakerama, mengumpulkan amunisi dari tiap tetes keringat, kecanggungan, dan tawa getir di tanah rantau.

Mereka tidak datang untuk mengeluh. Mereka datang untuk mengajak orang-orang menertawakan nasib yang sama.

Lewat pertunjukan “Peran(G)tau”, keduanya menghadirkan kisah tentang perjuangan, culture shock, strategi bertahan hidup yang kadang terasa di luar nalar, hingga absurditas hidup sebagai anak rantau.

Pertunjukan ini bukan sekadar komedi. Ia adalah surat cinta, sekaligus tamparan halus bagi mereka yang sedang mengadu nasib jauh dari kampung halaman.

Baik untuk perantau yang sudah lama hidup di kota orang, mereka yang baru bersiap berangkat, maupun yang masih menyimpan rencana merantau namun tertahan restu—atau saldo—“Peran(G)tau” ingin menjadi rumah sementara.

“Kami ingin membawa perspektif perantau Kaltim ke panggung. Bagaimana rasanya beradaptasi, menghadapi culture shock, sampai menemukan cara bertahan hidup. Ini juga jadi ruang temu bagi mereka yang merasa senasib,” ujar perwakilan penyelenggara.

Pertunjukan “Peran(G)tau” akan digelar di dua kota:

  • Kabupaten Penajam Paser Utara — 11 Juli 2026
  • Kabupaten Paser — 18 Juli 2026

Panitia menargetkan 100 hingga 150 penonton di setiap pertunjukan. Harga tiket dibanderol Rp50 ribu, dan saat ini telah dibuka penjualan early bird dengan harga spesial.

Karena kuota terbatas, penonton diimbau segera mengamankan kursi sebelum harga normal diberlakukan.

Panitia juga masih membuka ruang kolaborasi dan dukungan sponsorship bagi pihak yang ingin berpartisipasi dalam menyukseskan acara sekaligus mendukung perkembangan stand up comedy di Benuo Taka dan Daya Taka.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Adam Aliansyah (0895-6363-57841).

Mari berkumpul, melepas penat, dan menertawakan segala drama kehidupan di tanah rantau. (*)

Penulis/Editor: Redaksi Akurasi.id

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana