Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Seorang warga Kutai Barat (Kubar), Nurhayati, rela menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor demi menyampaikan langsung keluhan soal infrastruktur jalan rusak kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (
Foto: Salah satu titik jalan rusak di Kutai Barat pada September 2025 lalu. (Yasinta/Akurasi.id)
).
Ia datang mengikuti aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (21/5/2026), dengan membawa satu tuntutan utama, yakni perbaikan jalan penghubung dari Kutai Barat menuju Kutai Kartanegara (Kukar) yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
“Saya hanya ingin mengeluhkan jalan kami yang rusak. Karena untuk membawa hasil bumi dan menuju kota, kami harus melewati jalan yang kondisinya sangat buruk,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Samarinda.
Nurhayati menjelaskan, kondisi jalan semakin parah saat musim hujan karena berubah menjadi lumpur dan sulit dilalui kendaraan. Sementara saat musim kemarau, debu tebal disebut mengganggu aktivitas warga maupun pengguna jalan.
“Kalau hujan jadi lumpur, kalau panas debunya luar biasa. Kondisi itu sangat menghambat aktivitas kami,” katanya.
Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses penting yang menghubungkan wilayah kabupaten dengan pusat aktivitas di provinsi. Namun hingga kini, kerusakan jalan disebut belum mendapat penanganan maksimal.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga bahkan memilih menggunakan jalur sungai meski waktu tempuhnya lebih lama dibanding jalur darat.
Ia mengatakan, perjalanan darat dari Kubar menuju Samarinda seharusnya dapat ditempuh sekitar tujuh hingga delapan jam. Namun karena kondisi jalan rusak, perjalanan kini bisa memakan waktu hingga 10 sampai 12 jam.
Sementara jika menggunakan transportasi air, waktu perjalanan mencapai sekitar 13 hingga 14 jam.
“Kalau jalannya bagus, sebenarnya satu hari sudah sampai. Tapi sekarang perjalanan jadi lama karena jalannya rusak,” ungkapnya.
Nurhayati menambahkan, buruknya infrastruktur jalan juga berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok di Kutai Barat. Distribusi barang menjadi lebih sulit sehingga harga kebutuhan masyarakat ikut melonjak.
“Belum lagi di sana susah bensin. Jadi itulah keluhan yang kami rasakan. Saya khusus datang ke sini untuk menyampaikan itu,” tegasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id