
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menyoroti ketidaksinkronan antara aturan pembelajaran calistung di tingkat TK dengan kurikulum pembelajaran di sekolah dasar.
Menurutnya, saat ini TK tidak diperbolehkan mengajarkan baca, tulis, dan berhitung secara penuh kepada anak. Namun di sisi lain, materi pembelajaran kelas 1 SD justru sudah berbentuk cerita yang menuntut kemampuan membaca dasar.
“Di TK tidak boleh memberikan calistung secara penuh, hanya pengenalan. Tapi di kelas 1 SD, bukunya sudah berbentuk cerita. Ini yang membuat anak-anak kesulitan,” ujar Sri Puji Astuti.
Ia menilai kondisi tersebut membuat guru SD menghadapi tantangan besar, terutama ketika harus mengajar siswa dengan kemampuan dasar yang berbeda-beda. Dalam satu kelas dengan puluhan murid, guru dinilai akan kesulitan mendampingi anak yang belum bisa membaca.
Menurut Sri Puji, persoalan itu juga memicu menjamurnya tempat les bagi anak usia dini. Banyak orang tua akhirnya memilih memasukkan anak ke les tambahan agar mampu mengikuti pelajaran di sekolah dasar.
“Orang tua akhirnya memilih les karena merasa sistem yang ada sekarang tidak sinkron,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian pemerintah pusat, khususnya dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional yang baru. DPRD Samarinda sendiri telah menyampaikan persoalan itu kepada wakil rakyat di tingkat pusat agar menjadi bahan evaluasi.
Sri Puji mengatakan, kebijakan pendidikan seharusnya disusun selaras mulai dari tingkat TK hingga SD agar anak-anak tidak mengalami kebingungan dalam proses belajar.
“Saya berharap pemerintah pusat dapat segera melakukan evaluasi terhadap sistem pembelajaran dasar agar beban anak dan orang tua tidak semakin berat,” tutupnya. (adv/dprdsamarinda/zul/uci)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Suci Surya Dewi