ISPA Masih jadi Penyakit yang Banyak Diderita Warga Samarinda

ISPA masih menghantui warga Samarinda. Tren penyakit yang paling banyak dialami masyarakat Kota Tepian ini tidak mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun.
Devi Nila Sari
1.7k Views

Kaltim.akurasi.id, SamarindaInfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Kota Samarinda. Kondisi tersebut berdasarkan data surveilans penyakit yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda dari berbagai fasilitas layanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan tren penyakit yang dialami masyarakat tidak mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pihaknya, ISPA masih menempati urutan teratas dibandingkan penyakit lainnya.

“Kalau berdasarkan data surveilans penyakit, dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda. Penyakit yang paling dominan masih ISPA,” ungkapnya.

Menurut Ismed, tingginya kasus ISPA tidak terlepas dari pengaruh kondisi cuaca dan iklim yang terjadi di wilayah Samarinda. Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Ia menjelaskan, secara umum penyakit yang berkembang di masyarakat terbagi dalam dua kelompok besar, yakni penyakit menular dan penyakit tidak menular. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, baik melalui peningkatan kesehatan individu maupun lingkungan.

Untuk mencegah ISPA, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga asupan makanan bergizi, istirahat yang cukup, serta menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri seperti masker juga dapat dilakukan dalam kondisi tertentu untuk mengurangi risiko penularan penyakit.

“Lingkungan yang bersih juga sangat berpengaruh terhadap pencegahan berbagai penyakit. Karena itu, kegiatan gotong royong dan menjaga kebersihan lingkungan tidak boleh dianggap remeh,” k,atanya.

Terkait kasus kematian akibat ISPA, Ismed menegaskan setiap kasus harus dianalisis secara spesifik. Pasalnya, ISPA dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit paru kronis, paru-paru basah, maupun gangguan pernapasan berat yang berujung pada sesak napas.

Ia menambahkan, data surveilans penyakit menjadi instrumen penting bagi Dinkes dalam memantau perkembangan penyakit.

“Setiap pekan, laporan dari puskesmas dan rumah sakit dikumpulkan untuk menjadi dasar penyusunan langkah pencegahan dan penanganan kesehatan masyarakat di Samarinda,” tutupnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana