Dari Tambang ke Panel Surya: Pekerjaan Masa Depan Anak Muda Kaltim

Perubahan prioritas industri turut berpengaruh kepada pekerjaan masa depan anak muda Kaltim. Jika dulu sektor pertambangan menjadi favorit, mungkin sekarang anak muda harus mulai melihat peluang lain.
Devi Nila Sari
2.3k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Selama bertahun-tahun, bekerja di sektor tambang menjadi impian banyak anak muda di Kalimantan Timur. Gaji yang tinggi dan kebutuhan tenaga kerja yang besar menjadikan industri batu bara sebagai pilihan karier utama. Namun, perubahan besar sedang terjadi di pasar tenaga kerja global.

Kementerian Ketenagakerjaan melalui Outlook Ketenagakerjaan 2026 memproyeksikan ekonomi hijau akan menciptakan sekitar 3,88 juta lapangan pekerjaan baru di Indonesia pada tahun ini. Pekerjaan tersebut muncul dari pengembangan energi baru terbarukan, ekonomi sirkular, elektrifikasi transportasi, hingga modernisasi industri nasional.

Sektor-sektor yang diperkirakan menyerap tenaga kerja terbesar antara lain:

– Pembangkit listrik tenaga surya

– Kendaraan listrik

– Pengelolaan limbah

– Efisiensi energi

– Rehabilitasi lingkungan

– Industri pengolahan berbasis teknologi rendah karbon.

Selama beberapa dekade terakhir, ekonomi daerah sangat bergantung pada batu bara. Namun perlambatan permintaan global mulai terlihat. Data Reuters menunjukkan ekspor batu bara Indonesia turun 12 persen pada awal 2025 akibat berkurangnya pembelian dari China dan India.

Di sisi lain, investasi pada energi bersih terus meningkat di berbagai negara. Hal tersebut mendorong munculnya profesi-profesi baru yang sebelumnya hampir tidak dikenal, seperti teknisi panel surya, analis karbon, auditor efisiensi energi, teknisi kendaraan listrik, ahli pengelolaan limbah industri, hingga spesialis keberlanjutan perusahaan.

Organisasi Buruh Internasional menilai keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kemampuan negara mempersiapkan tenaga kerja agar tidak tertinggal dalam perubahan teknologi. Peningkatan keterampilan dan pelatihan vokasi menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan proses tersebut.

Penelitian terbaru mengenai kebutuhan keterampilan hijau juga menunjukkan permintaan terbesar akan muncul pada kemampuan terkait energi terbarukan, daur ulang, efisiensi energi, dan teknologi hidrogen.

Bagi generasi muda Kaltim, perubahan ini sebenarnya membuka peluang besar. Pengalaman panjang daerah ini di sektor energi membuat tenaga kerja lokal memiliki fondasi yang kuat untuk beradaptasi menuju industri energi bersih.

Selain itu, keberadaan IKN diperkirakan akan mempercepat kebutuhan terhadap tenaga kerja di bidang konstruksi hijau, bangunan hemat energi, transportasi listrik, dan pengelolaan kota cerdas.

Jika sebelumnya keterampilan yang dicari adalah operator alat berat atau teknisi alat tambang, maka dalam beberapa tahun mendatang kebutuhan industri kemungkinan bergeser menuju kemampuan digital, otomasi industri, pemrograman, analisis data, serta penguasaan teknologi energi baru.

Pertanyaan bagi anak muda Kaltim di masa depan mungkin bukan lagi “ingin bekerja di tambang atau tidak”, melainkan “keterampilan apa yang harus dipelajari agar tetap relevan dalam ekonomi hijau?” (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana