Kaltim.akurasi.id, Bontang – DPRD Bontang meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) meningkatkan intensitas sosialisasi di sekolah sebagai langkah preventif menekan tingginya kasus kehamilan pada usia remaja. Edukasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap risiko pergaulan bebas dan pentingnya menjaga masa depan mereka.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib, mengatakan meningkatnya kasus kehamilan remaja yang mencapai 59 kasus dalam periode Januari hingga Mei 2026 menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan perlu diperkuat. Menurutnya, pemerintah daerah harus hadir melalui program edukasi yang berkelanjutan dan menyasar langsung para pelajar.
“DP3A harus turun tangan. Dinas terkait harus rutin datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak kita. Jangan hanya dilakukan sekali, tetapi harus berkesinambungan,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Sahib menilai sosialisasi sebaiknya dilaksanakan secara berkala, minimal satu kali setiap bulan, dengan melibatkan tenaga kesehatan, psikolog, maupun pihak yang memiliki kompetensi dalam memberikan edukasi kepada remaja. Materi yang disampaikan tidak hanya mengenai kesehatan reproduksi, tetapi juga dampak sosial, psikologis, dan pendidikan yang dapat ditimbulkan akibat kehamilan di usia anak.
Menurutnya, pendidikan yang tepat akan membantu remaja memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil sehingga mereka memiliki bekal untuk menghindari perilaku berisiko.
Selain menyasar pelajar, ia menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pencegahan. Menurut Sahib, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran besar dalam membangun karakter dan mengawasi pergaulan anak.
“Orang tua juga harus lebih aktif. Mereka yang paling mengetahui aktivitas anak-anaknya. Jadi pemerintah, sekolah, dan keluarga harus berjalan bersama,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan kehamilan remaja tidak dapat dibebankan kepada satu instansi saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan DP3A, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, sekolah, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat agar upaya pencegahan berjalan lebih efektif.
Komisi C DPRD Bontang berharap penguatan edukasi di sekolah dapat menjadi langkah awal untuk menekan angka kehamilan usia anak sekaligus melindungi generasi muda dari berbagai risiko sosial yang mengancam masa depan mereka.
“Harapan kita, anak-anak mendapatkan pemahaman sejak dini tentang dampak dari perilaku berisiko. Kalau edukasi dilakukan secara konsisten, saya yakin kasus seperti ini bisa ditekan. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menjaga masa depan generasi muda Bontang,” tutup Sahib. (adv/dprdbontang/cha/uci)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi