Kaltim.akurasi.id, Bontang – Upaya menekan angka stunting tidak cukup hanya berfokus pada ibu dan anak. Peran ayah dalam mendampingi keluarga, memenuhi kebutuhan gizi, hingga menciptakan lingkungan yang sehat dinilai menjadi salah satu kunci lahirnya generasi yang berkualitas. Berangkat dari semangat tersebut, PT Kaltim Daya Mandiri (KDM) menggelar program KDM Peduli Stunting 2026 bertema “Peran Ayah untuk Generasi Bebas Stunting” di Hotel Grand Equator Bontang, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan itu melibatkan sekitar 100 ayah dari Kelurahan Guntung dan Loktuan. Peserta terdiri atas ayah dari keluarga berisiko stunting, suami ibu hamil, kepala keluarga, hingga tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi penyambung informasi mengenai pentingnya pencegahan stunting di lingkungan masing-masing.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan tenaga kesehatan, mulai dari dokter spesialis jantung, dokter spesialis anak, hingga fisioterapis. Berbagai materi diberikan, mulai dari pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola pengasuhan anak, kesehatan keluarga, hingga bahaya paparan asap rokok terhadap ibu hamil dan anak.
Manager SDM dan Umum PT Kaltim Daya Mandiri, Siswa Suyakti, mengatakan program ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan dalam mendukung program pemerintah menurunkan prevalensi stunting di Kota Bontang. Menurutnya, persoalan stunting bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik anak, tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
“Stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pencegahan dan penanganannya memerlukan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak,” ujarnya.
Ia menilai selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju kepada ibu dalam proses pengasuhan. Padahal, ayah memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menentukan tumbuh kembang anak.
“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kesadaran para ayah agar lebih aktif mendukung kesehatan keluarga, termasuk mulai mengurangi kebiasaan merokok yang berdampak pada kesehatan anak,” katanya.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Bambang Sri Mulyono. Ia menyebut kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha menjadi langkah strategis dalam mempercepat penurunan angka stunting.
Menurutnya, tingginya angka stunting masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, keterlibatan perusahaan melalui program edukasi seperti yang dilakukan KDM dinilai mampu memperkuat upaya pemerintah di lapangan.
“Kami sangat mengapresiasi KDM yang telah berkolaborasi bersama Dinas Kesehatan, puskesmas, dan seluruh stakeholder. Penanganan stunting tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dunia usaha, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga agar target penurunan stunting dapat tercapai,” ungkapnya.
Salah seorang peserta, Choliq Hidayah (27), mengaku mendapat banyak wawasan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ayah dari seorang anak berusia 10 bulan itu mengatakan dirinya sengaja hadir untuk memahami lebih jauh dampak asap rokok terhadap kesehatan keluarga, meski bukan seorang perokok aktif.
Ia berharap edukasi seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak ayah memahami perannya dalam mencegah stunting sejak dini.
“Peran ayah itu sama pentingnya dengan ibu. Kalau ingin anak tumbuh sehat dan terhindar dari stunting, ayah juga harus hadir, ikut mengasuh, menjaga kesehatan keluarga, dan mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat,” tutup Choliq. (adv/ptkaltimdayamandiri/cha/uci)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi