Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kalimantan Timur akan segera mengadapi puncak kemarau. Puncak kemarau diprediksi akan terjadi jelang akhir Juli hingga Agustus 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim, Buyung Budi Purnomo, menjelaskan bahwa saat ini Kaltim tengah menghadapi anomali cuaca. Sehingga, meski telah memasuki kemarau, beberapa wilayah masih diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
“Ada transisi cuaca. Hingga kini, situasi ekstrem kemarau secara menyeluruh belum begitu dirasakan karena hujan masih kerap turun, meski intensitasnya lebih kecil dibanding musim penghujan normal. Kami memperkirakan puncak kemarau akan terjadi dari akhir Juli sampai Agustus nanti,” ujar Buyung saat menjadi pembicara dalam webinar pemaparan mitigasi Karhutla Kaltim.
4 Wilayah Rawan Karhutla
Berdasarkan data kompilasi Pusat Data dan Informasi (Pusdating) serta pemetaan dari BPBD di tingkat kabupaten/kota, terdapat empat wilayah yang masuk dalam zona merah rawan karhutla tertinggi di Kaltim, yaitu:
1. Kabupaten Berau
2. Kabupaten Kutai Timur (Kutim)
3. Kabupaten Kutai Barat (Kubar)
4. Kabupaten Paser
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan insiden kebakaran hampir terjadi setiap hari. Namun, BPBD memastikan situasi masih terkendali sehingga luasan kebakaran masih terjaga di bawah 5 hektare.
Kebakaran Dipicu Oleh Kelalaian Manusia
Buyung membeberkan, kejadian karhutla di Kaltim masih didominasi oleh faktor aktivitas manusia. Tiga kelalaian utama yang kerap ditemukan di lapangan antara lain, pembukaan lahan pertanian secara luas dengan metode pembakaran tanpa pengawasan ketat.
Pembakaran sampah rumah tangga yang ditinggalkan begitu saja dalam keadaan api masih menyala, dan karena puntung rokok yang dibuang sembarangan di area vegetasi kering.
Hal ini sangat disayangkan, sebab pada musim kemarau tingkat kekeringan lahan sangat tinggi, sehingga material di hutan sangat mudah tersulut.
“Kecerobohan sekecil apa pun bisa berdampak fatal dan membuat api meluas dengan cepat,” tegasnya.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati. BPBD Kaltim juga telah mengaktifkan Sistem Satu Komando dengan mengintegrasikan kekuatan dari BPBD kabupaten dan kota, instansi lintas sektoral, TNI-Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat, sebagai langkah antisipasi.
Selain itu, patroli lapangan terus digencarkan, terutama di kawasawan rawan karhutla. Termasuk, pemantauan berbasis satelit untuk mendeteksi hotspot (titik panas) guna memutus rantai penyebaran api sejak dini. (*)
Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari