Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kalimantan Timur dikenal sebagai jantung industri pertambangan Indonesia. Kekayaan batu bara, minyak bumi, dan gas alam menjadikan provinsi ini sebagai salah satu penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional.
Selama puluhan tahun, sektor pertambangan menjadi motor penggerak pembangunan daerah melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, hingga penerimaan negara dari pajak, royalti, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Bahkan, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Timur dengan kontribusi sekitar 44–46 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Komoditas utama yang mendominasi adalah batu bara. Kalimantan Timur menghasilkan lebih dari sepertiga produksi batu bara nasional dengan cadangan yang tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Paser, dan Kutai Barat.
Batu bara di wilayah ini didominasi jenis sub-bituminus dan bituminus yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, industri semen, baja, hingga kebutuhan ekspor ke Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang beroperasi di Kabupaten Kutai Timur. Perusahaan ini mengelola area konsesi lebih dari 84.000 hektare dan memiliki kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton batu bara setiap tahun.
KPC menjadi salah satu pembayar pajak dan royalti terbesar di sektor pertambangan Indonesia serta mempekerjakan ribuan tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Selain aktivitas bisnisnya, perusahaan juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial melalui pembangunan sekolah, layanan kesehatan, pemberdayaan UMKM, hingga rehabilitasi lingkungan.
Perusahaan besar lainnya adalah PT Berau Coal Energy Tbk yang mengoperasikan sejumlah tambang di Kabupaten Berau. Berau Coal termasuk produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan produksi tahunan mencapai puluhan juta ton.
Kehadiran perusahaan ini memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, serta pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara, PT Indominco Mandiri, anak perusahaan Banpu Public Company Limited, juga menjadi salah satu perusahaan tambang yang berkontribusi besar terhadap produksi batu bara nasional. Perusahaan ini telah beroperasi sejak 1990-an dan menjadi salah satu penggerak ekonomi di wilayah Sangasanga dan sekitarnya melalui investasi, kesempatan kerja, serta pembayaran berbagai kewajiban kepada negara.
Selain batu bara, Kalimantan Timur memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil minyak bumi. Salah satu perusahaan yang berperan besar adalah PT Pertamina Hulu Mahakam, yang mengelola Wilayah Kerja Mahakam sejak 2018 setelah pengelolaannya dialihkan dari TotalEnergies dan INPEX.
Blok Mahakam merupakan salah satu lapangan minyak dan gas terbesar di Indonesia yang memasok kebutuhan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara.
Di sektor gas alam, PT Badak NGL di Kota Bontang menjadi perusahaan strategis yang mengoperasikan salah satu kilang gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Sejak beroperasi pada 1977, kilang ini telah mengekspor LNG ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok.
Selain menghasilkan devisa negara, keberadaan PT Badak NGL turut mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Bontang melalui penyerapan tenaga kerja, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai program sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) memang bukan perusahaan pertambangan, tetapi memiliki keterkaitan erat dengan pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku produksi pupuk dan amonia. Sebagai produsen pupuk terbesar di Asia Tenggara, perusahaan ini memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Kalimantan Timur melalui investasi, ekspor, serta pembayaran pajak dan dividen kepada negara.
Kontribusi terbesar sektor pertambangan terhadap daerah berasal dari Dana Bagi Hasil (DBH) mineral dan batu bara, DBH minyak dan gas bumi, pajak daerah, retribusi, serta efek berganda (multiplier effect) berupa penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan usaha lokal, dan pembangunan infrastruktur.
Nilai transfer DBH yang diterima Kalimantan Timur dari sektor sumber daya alam setiap tahunnya mencapai puluhan triliun rupiah, menjadikan provinsi ini sebagai salah satu penerima DBH terbesar di Indonesia.
Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur mulai mendorong transformasi ekonomi agar tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan. Meski demikian, keberadaan perusahaan-perusahaan besar seperti PT Kaltim Prima Coal, PT Berau Coal Energy, PT Indominco Mandiri, PT Pertamina Hulu Mahakam, dan PT Badak NGL masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan berbagai wilayah di Kalimantan Timur. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi