Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Laju inflasi di Kalimantan Timur pada Juli 2026 menunjukkan tren melandai. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,18 persen, lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 0,70 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat 3,31 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 2,54 persen.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan tekanan inflasi pada Juli 2026 terutama berasal dari kelompok transportasi dan pendidikan.
Menurutnya, kelompok transportasi masih dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax pada Juni 2026 yang berdampak terhadap rata-rata harga bensin pada Juli. Selain itu, kenaikan harga pelumas atau oli mesin juga turut menyumbang inflasi.
Di sisi lain, kelompok pendidikan mengalami kenaikan seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
“Tekanan inflasi Juli 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi dan pendidikan,” ujar Jajang dalam keterangan resminya.
Meski demikian, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan nonpangan, seperti cabai rawit, bawang merah, tomat, emas perhiasan, serta cabai merah.
Secara spasial, Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi di Kalimantan Timur, yakni 0,28 persen (mtm). Posisi berikutnya ditempati Kota Balikpapan sebesar 0,25 persen (mtm) dan Kota Samarinda sebesar 0,20 persen (mtm).
Berbeda dengan daerah lainnya, Kabupaten Berau justru mengalami deflasi sebesar 0,18 persen (mtm).
Adapun komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Kalimantan Timur selama Juli 2026 meliputi bensin, daging ayam ras, pelumas atau oli mesin, ikan layang (benggol), dan beras.
Jajang mengatakan, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalimantan Timur dengan mengimplementasikan strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, TPID terus menggelar Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan berbagai program stabilisasi harga untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sementara pada aspek ketersediaan pasokan, TPID bersama Perum Bulog, organisasi perangkat daerah (OPD), dan para pemangku kepentingan terus memantau stok serta memastikan pasokan komoditas strategis, terutama beras, daging ayam ras, dan ikan, tetap terjaga.
“Pada aspek kelancaran distribusi, TPID terus memperkuat koordinasi antarwilayah untuk memastikan rantai pasok berjalan lancar sekaligus memitigasi potensi hambatan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga,” jelas Jajang.
Di sisi lain, melalui strategi komunikasi efektif, TPID terus meningkatkan koordinasi, pemantauan harga dan pasokan, serta penyampaian informasi kepada masyarakat agar ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Ke depan, BI bersama TPID akan terus memperkuat implementasi strategi 4K, termasuk melalui penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS).
“Dengan berbagai upaya tersebut, stabilitas harga di Kalimantan Timur diharapkan tetap terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, serta aktivitas ekonomi daerah dapat terus berjalan dengan baik,” kata Jajang. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id