Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Penanganan dampak kekeringan di Samarinda tidak hanya berfokus pada pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah juga terus melakukan distribusi air bersih kepada masyarakat yang terdampak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, mengatakan distribusi air bersih menjadi salah satu fokus utama selama masa tanggap darurat kekeringan.
Hingga saat ini, BPBD bersama sejumlah pihak telah menyalurkan sekitar 880.100 liter air bersih ke masyarakat. Distribusi tersebut dilakukan di sekitar 180 titik dengan dukungan 16 armada tangki.
“Untuk distribusi air bersih, sampai hari ini sekitar 880.100 liter sudah didistribusikan dengan total sekitar 180 titik yang sudah didatangi,” kata Suwarso.
Wilayah yang menjadi prioritas adalah kawasan yang lebih dahulu terdampak intrusi air asin, diantaranya Kecamatan Sambutan dan Palaran.
Bahkan, distribusi air di sejumlah wilayah harus dilakukan hingga dini hari. Di Palaran, misalnya, penyaluran air disebut masih berlangsung hingga sekitar pukul 02.30 WITA.
“Di Palaran bahkan distribusi masih berlangsung sampai sekitar pukul 02.30 WITA dini hari. Di Sungai Kapih juga ada distribusi yang berlangsung sampai pagi,” ujarnya.
Suwarso menjelaskan, pemenuhan kebutuhan air bersih saat ini diprioritaskan untuk kebutuhan minum dan memasak. Sementara kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) belum seluruhnya dapat dipenuhi karena keterbatasan pasokan.
BPBD harus membagi distribusi untuk berbagai fasilitas publik seperti sekolah, masjid, tempat ibadah, puskesmas, rumah sakit hingga kebutuhan masyarakat di sejumlah titik terdampak.
“Untuk kebutuhan MCK belum semuanya bisa kami penuhi. Karena kami harus menyuplai banyak pihak,” jelasnya.
BPBD PPU Ingatkan Masyarakat Hemat Air
Untuk mempercepat distribusi, BPBD juga tengah menyiapkan tambahan tandon air yang akan dibawa menggunakan dump truck milik Dinas PUPR.
Sebanyak 10 dump truck disiapkan, dengan masing-masing kendaraan membawa dua tandon berkapasitas sekitar 2.200 liter. Dengan demikian, satu kendaraan dapat membawa sekitar 4.400 liter air dalam sekali pengiriman.
Suwarso menyebut, pengadaan tandon dilakukan secara bertahap karena ketersediaan barang di pasaran juga terbatas. BPBD bahkan telah bersurat kepada salah satu perusahaan di wilayah Tanah Merah untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kami sudah bersurat secara khusus agar kebutuhan kami, kurang lebih untuk 20 unit tandon, bisa dipenuhi,” katanya.
Suwarso juga mengingatkan masyarakat, agar menggunakan air secara hemat. Ia meminta masyarakat melaporkan apabila menemukan persoalan dalam distribusi air, termasuk dugaan penjualan kembali air atau harga air yang tidak wajar.
“Yang bisa kita kendalikan adalah distribusi yang dikoordinasikan oleh Satgas melalui Pos Komando Darurat Kekeringan,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari