Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) mulai memperluas target pengembangan institusi dengan membidik sejumlah pemeringkatan perguruan tinggi tingkat internasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya UMKT meningkatkan reputasi kampus, baik di tingkat nasional maupun global.
Rektor UMKT, Muhammad Musiyam, mengatakan pihaknya menargetkan sedikitnya enam pemeringkatan institusi pada tahun akademik 2026/2027. Selain mempertahankan keterlibatan dalam sejumlah pemeringkatan yang telah diikuti, UMKT mulai membidik pemeringkatan yang memiliki cakupan internasional lebih luas.
“Target kita ada enam ranking institusi di 2026/2027. Ada UI GreenMetric, Webometrics, AppliedHE, dan untuk pertama kali kita juga menargetkan THE Impact Rankings dan QS Asia University Rankings,” kata Musiyam dalam rangkaian Dies Natalis ke-45 UMKT.
Pemeringkatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar posisi atau angka dalam daftar universitas. Melainkan, keterlibatan dalam pemeringkatan internasional menjadi bagian dari proses membangun reputasi dan mengukur kemampuan kampus dalam memenuhi standar pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Target tersebut juga ditopang sejumlah capaian UMKT dalam bidang akademik, penelitian, prestasi mahasiswa, hingga internasionalisasi.
Dalam bidang akademik, Musiyam menyampaikan UMKT saat ini memiliki delapan program studi dengan akreditasi Unggul. Jumlah tersebut disebut menjadi yang terbanyak di antara perguruan tinggi swasta di Kalimantan berdasarkan capaian yang diterima UMKT dari LLDIKTI Wilayah XI pada Mei 2026.
Dari 25 program studi yang telah dipetakan, sebanyak 20 di antaranya telah memperoleh Predikat Unggul atau Baik Sekali. Meski demikian, Musiyam mengakui masih terdapat sejumlah program studi yang harus terus diperkuat, terutama yang tengah menjalani proses reakreditasi.
Penguatan kualitas akademik juga dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia. Proporsi dosen bergelar doktor di UMKT meningkat dari 17,1 persen menjadi 22,8 persen. Saat ini, sebanyak 58 dosen UMKT masih menjalani pendidikan doktor.
Musiyam menyebut peningkatan jumlah dosen bergelar doktor menjadi salah satu modal penting bagi UMKT untuk meningkatkan kualitas akademik sekaligus mengejar akreditasi institusi dengan predikat Unggul.
“Kami berharap dengan kondisi ini, persyaratan untuk mengajukan akreditasi institusi Unggul sudah terpenuhi. Mudah-mudahan pada 2027 ada satu atau dua perguruan tinggi Muhammadiyah di Kalimantan yang bisa meraih Unggul,” ujarnya.
Tak hanya akademik, sektor penelitian juga menjadi salah satu kekuatan yang terus didorong UMKT. Pada 2026, sebanyak 72 proposal penelitian UMKT dinyatakan memenuhi syarat untuk diajukan melalui skema BIMA. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 34 proposal pada 2023.
UMKT juga telah membentuk 14 pusat penelitian. Selain itu, pendanaan penelitian eksternal pada 2026 mencapai Rp3,31 miliar. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi UMKT sejak pencatatan dimulai pada 2018.
Dari sisi publikasi, UMKT juga mencatat perkembangan dalam pemeringkatan SINTA. Dalam tiga tahun terakhir, UMKT berada di posisi pertama di antara perguruan tinggi swasta di Kalimantan dan menempati posisi kedua secara keseluruhan di Kalimantan Timur, setelah Universitas Mulawarman.
Capaian tersebut menjadi modal bagi UMKT untuk meningkatkan visibilitas penelitian dan publikasi di tingkat internasional.
Di sisi lain, UMKT terus memperkuat internasionalisasi kampus. Sebanyak 18 mahasiswa mengikuti program pertukaran ke Taiwan dan Malaysia. UMKT menerima enam mahasiswa internasional baru untuk tahun akademik 2026/2027, masing-masing berasal dari Pakistan, Thailand, dan Nigeria.
Musiyam mengatakan UMKT ingin membangun kampus yang tidak hanya unggul secara regional, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat nasional dan internasional.
“Visi kita yakni menjadi universitas berbasis teknologi informasi dan paperless, dengan reputasi yang terus tumbuh di tingkat regional, nasional, dan internasional,” tuturnya.
Kendati demikian, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur, Muhammad Jafron, mengingatkan agar UMKT tidak terjebak dalam rasa puas terhadap perkembangan yang telah dicapai.
Ia mengibaratkan perjalanan pengembangan UMKT seperti tugas seorang penggembala yang harus mampu menentukan arah, menjaga, sekaligus mengevaluasi kelompok yang dipimpinnya.
Jafron menyebut, seorang pemimpin harus mampu menemukan arah terbaik dan membawa orang-orang yang dipimpinnya menuju tempat yang baik. Setelah itu, pemimpin juga harus memberikan arahan yang jelas serta melakukan pengawasan terhadap berbagai potensi ancaman.
“Yang paling penting adalah terus melakukan monitoring dan evaluasi. Kalau ada masalah, segera ditangani. Kemudian dilakukan refleksi dan evaluasi lagi,” tegasnya.
Ia menilai capaian UMKT selama 45 tahun menunjukkan perkembangan yang patut diapresiasi. Namun, usia dan besarnya institusi tidak boleh menjadi alasan bagi kampus untuk berhenti melakukan pembenahan.
Jafron juga mengapresiasi berbagai program internasional yang mulai dijalankan UMKT, termasuk kesempatan mahasiswa mendapatkan pengalaman akademik maupun praktik di luar negeri.
“Jangan sampai karena sudah besar kemudian kita merasa sudah selesai. Tetap harus dievaluasi dan terus diperbaiki,” pungkasnya. (adv)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Suci Surya Dewi