Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Asap tebal mengepung berbagai kawasan dan mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari pembelajaran di sekolah, penerbangan, hingga penurunan kualitas udara yang berdampak pada kesehatan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat peningkatan titik panas atau hotspot yang signifikan sejak Juli 2026. Pemicunya musim kemarau panjang ditambah fenomena El Nino. Lahan gambut yang mengering dan mudah terbakar menjadi faktor utama, ditambah aktivitas pembukaan lahan saat cuaca panas dan berangin sehingga api cepat menjalar.
Berikut rangkuman data titik-titik karhutla di Kalimantan per Kamis (20/8/2026) yang dihimpun Akurasi.id dari berbagai sumber resmi.
Sebaran Karhutla di Kalimantan
1. Kalimantan Tengah: 767 Titik Panas, Kualitas Udara Memburuk
Kalimantan Tengah menjadi episentrum karhutla di Kalimantan karena 47 persen wilayahnya adalah lahan gambut. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadaman Kebakaran (BPBPK) Kalteng per 19 Agustus 2026 mencatat, total luasan karhutla sejak awal tahun telah mencapai 4.115 hektare.
Sementara itu, menurut pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 20 Agustus 2026, terdapat 767 titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.
“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya sebagaimana melansir detik, Kamis (20/8/2026).
Kawasan paling terdampak di Palangka Raya, Kapuas, Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur. Dampaknya, asap tebal akibat karhutla menyebabkan kualitas udara di daerah tersebut memburuk drastis hingga masuk kategori tidak sehat. Pekatnya asap juga berdampak langsung terhadap jarak pandang. Visibilitas di sejumlah wilayah dilaporkan hanya sekitar 1,4 kilometer.
ISPU di Palangka Raya, Sampit, dan Pontianak sempat di level “Tidak Sehat” sejak minggu lalu. Dampaknya, Dinkes Kalteng melaporkan kenaikan kasus ISPA hingga 39,2 persen atau 2.052 kasus rentang 7-14 Agustus 2026. Anak sekolah di 3 kabupaten Kalteng juga memberlakukan pembelajaran daring.
Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Tjilik Riwut tertunda karena jarak pandang <800 meter. Selain itu, habitat orangutan, bekantan, dan hutan penyangga IKN di Kaltim ikut terancam.
2. Kalimantan Barat: 560 Titik Panas, Kubu Raya dan Ketapang Paling
Kemarau panjang membuat Kalimantan Barat kembali dilanda karhutla. Berdasarkan pemantauan BNPB per 20 Agustus 2026, terdapat sebanyak 560 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat. Sementara berdasarkan data Kementerian Kehutanan dan BPBD Kalbar, luas lahan dan hutan yang terbakar di daerah ini mencapai 28.680,47 hektare. Adapun daerah paling terdampak antara lain Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, Sintang, dan Kapuas Hulu. Dengan status siaga darurat karhutla diperpanjang hingga September 2026.
Penyebab utama kondisi ini faktor cuaca ditambah aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan. Sekitar 20 persen wilayah Kalbar merupakan kawasan gambut, sehingga aktivitas pembukaan lahan ditambah angin akan menyebabkan kebakaran lebih mudah menyebar dan sulit dipadamkan.
Kondisi ini pun berdampak kepada kabut asap tebal dan penurunan kualitas udara di kawasan tersebut. Data terbaru menunjukkan AQI di Pontianak mencapai 129 dengan status buruk, dengan jarak pandang <1 KM. RSUD dan Puskesmas mencatat kenaikan pasien ISPA 30 persen, yang didominasi anak sekolah dan lansia. Sejumlah sekolah juga memberlakukan sekolah secara daring.
Selain itu, penerbangan di Bandara Supadio mengalami keterlambatan. Hasil kebun lada dan sawit turun karena asap. Habitat orangutan di Taman Nasional Gunung Palung dan Danau Sentarum terancam.
3. Kalimantan Selatan: 74 Titik Panas, Banjar dan Tanah Bumbu Rawan
Kalsel jadi provinsi ke-3 dengan hotspot terbanyak di Kalimantan. Menurut laporan BNPB per 20 Agustus 2026, terdapat sebanyak 74 titik panas di kawasan ini. Hingga 18 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat luasan lahan terbakar mencapai 6.029,67 hektare sejak awal tahun.
Adapun daerah paling terdampak diantaranya Kabupaten Banjar, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Utara (HSU), Tanah Laut. Penyebab utamanya kebun karet, sawit, dan area bekas tambang yang mengering. Kondisi ini menyebabkan banyak lahan gambut tipis di Banjar yang terbakar dan sulit dipadamkan.
Data terbaru menunjukkan AQI Kalsel di angka 59 atau sedang. Namun, kondisi yang sudah berlangsung beberapa pekan menyebabkan peningkatan angka ISPA. Puskesmas setempat melaporkan kenaikan ISPA 25%, terutama di kalangan anak dan pekerja luar ruangan.
4. Kalimantan Timur: 74 Titik Panas, Warga Diminta Waspada
Kaltim menjadi sorotan karena sebagian titik api berada di wilayah penyangga IKN Nusantara, dengan titik panas terdeteksi di Sepaku dan sekitarnya.
Menurut laporan BNPB, terdapat sebanyak 74 titik panas di kawasan ini. Hingga pertengahan Agustus 2026, BPBD Kaltim mencatat total luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 936,95 hektare.
Adapun kawasan paling terdampak yakni Kabupaten Kutai Kartanegara (penyangga IKN), Kutai Timur, Paser, dan Berau. Penyebabnya, pembukaan lahan sawit, ladang dan puntung rokok di hutan.
Untuk saat ini, asap di Tenggarong dan Samarinda masih kategori sedang. Namun, tidak menutup kemungkinan angin timur membawa asap dari Kalteng.
5. Kalimantan Utara: 3 Titik Panas, Masih Terkendali
Kaltara menjjadi provinsi paling sedikit hotspot di Kalimantan karena curah hujan masih lebih tinggi. Menurut laporan BNPB per 20 Agustus 2026, terdapat 3 titik panas di kawasan ini, dengan luasan lahan terbakar mencapai 12 hektare berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Kaltara.
Adapun daerah paling terdampak yakni Kabupaten Bulungan, Nunukan, dan Malinau. Penyebabnya pembukaan ladang masyarakat hingga pembakaran sampah kebun. Untuk sementara, dampak karhutla di Kaltara masih minim. Kualitas udara Tarakan dan Tanjung Selor “Baik”. Belum ada gangguan penerbangan.
Hingga saat ini BPBD, TNI hingga pihak terkait telah mengerahkan personel hingga pemberian water bombing untuk mengantisipasi meluasnya karhutla. Patroli juga terus diintensifkan untuk memantau titik panas. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, serta penggunaan masker untuk menjaga kesehatan. (*)
Penulis/Editor: Devi Nila Sari