Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur tidak hanya menyisakan tantangan dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga persoalan pengelolaan sampah. Dari 196 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di Kaltim, baru 137 unit atau sekitar 70 persen yang melaporkan data timbulan sampah kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim.
Dari 137 SPPG tersebut, tercatat rata-rata 9.815,54 kilogram atau sekitar 9,8 ton sampah organik dan 1.829,09 kilogram sampah anorganik dihasilkan setiap hari.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kaltim, Andi Sitti Asti Suriaty, mengatakan data tersebut dihimpun melalui pengisian Google Form oleh masing-masing SPPG berdasarkan hasil pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Penimbangan dilakukan selama lima hari, yakni pada 20–24 April 2026. Data tersebut kemudian digunakan sebagai gambaran awal mengenai volume sampah yang dihasilkan dari pelaksanaan program MBG di Kaltim.
“Data itu memang bukan pendataan menyeluruh selama satu tahun, tapi rata-rata dari penimbangan lima hari yang kami jadikan gambaran awal timbulan sampah dari program ini,” ujar Andi Sitti.
Kukar dan Samarinda Jadi Penyumbang Terbesar
Berdasarkan data DLH Kaltim, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kota Samarinda menjadi dua daerah dengan jumlah SPPG terbanyak sekaligus menghasilkan sampah organik terbesar.
Kukar memiliki 40 SPPG yang melayani 95.491 penerima manfaat. Dari jumlah tersebut, rata-rata timbulan sampah organik mencapai 2.769,18 kilogram per hari, sedangkan sampah anorganik mencapai 811,09 kilogram per hari.
Sementara itu, Samarinda memiliki 56 SPPG dengan 103.682 penerima manfaat. Timbulan sampah organik tercatat 2.714,44 kilogram per hari, sedangkan sampah anorganik mencapai 380,79 kilogram per hari.
Menariknya, meski jumlah SPPG di Samarinda lebih banyak, volume sampah organik yang dihasilkan Kukar justru lebih tinggi. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya variasi timbulan sampah antardaerah, meski data yang tersedia belum menjelaskan secara rinci faktor penyebabnya.
Di sisi lain, Kabupaten Paser dan Kutai Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah SPPG dan timbulan sampah paling rendah. Masing-masing daerah memiliki tiga SPPG dengan timbulan sampah organik sekitar 103–142 kilogram per hari.
Secara keseluruhan, 137 SPPG yang telah melaporkan data tersebut melayani 397.762 penerima manfaat.
Bukan Sisa Makanan, Mayoritas dari Proses Memasak
Andi menjelaskan, sampah organik yang tercatat dalam pendataan bukan berasal dari makanan yang telah disajikan kepada penerima manfaat. Sampah tersebut mayoritas berasal dari proses persiapan dan pengolahan bahan makanan sebelum dimasak.
Contohnya, potongan sayuran, kulit bahan pangan, hingga bagian ikan atau bahan protein lain yang tidak digunakan.
“Itu bukan sisa makanan siap saji, tapi sampah dari proses sebelum dimasak, seperti kulit sayur atau bagian ikan yang dibuang,” tuturnya.
Selain timbulan sampah, DLH Kaltim juga mencatat adanya sejumlah SPPG yang berinisiatif menyelamatkan makanan yang masih layak konsumsi dengan menyalurkannya melalui donasi.
Namun, data mengenai jumlah makanan layak konsumsi yang berhasil disalurkan tersebut belum tersedia secara menyeluruh karena tidak semua SPPG menyampaikan laporan.
“Idealnya memang semua makanan sisa yang masih layak itu harus diselamatkan, tapi datanya belum ada karena tidak semua yang bikin laporan,” bebernya.
Pengelolaan Sampah Jadi Tanggung Jawab SPPG
Terkait pengelolaan sampah dari dapur SPPG, Andi menegaskan DLH Kaltim tidak menangani sampah tersebut secara langsung.
Pengelolaan sampah diserahkan kepada masing-masing SPPG melalui mitra kebersihan atau pihak ketiga, termasuk pengumpul sampah. Sementara kewenangan DLH Kaltim lebih pada pembinaan dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait program MBG.
“Kalau kewenangan kami sesuai aturan, kami hanya di TPA dan TPST, ditambah pembinaan dan koordinasi. Pembinaannya itu untuk memaksimalkan peran-peran dalam pengelolaan sampah,” imbuhnya.
Data Timbulan Sampah MBG di Kaltim
Berikut data SPPG, penerima manfaat, serta timbulan sampah organik dan anorganik berdasarkan laporan 137 SPPG:
- Samarinda: 56 SPPG, 103.682 penerima manfaat, menghasilkan 2.714,44 kilogram sampah organik dan 380,79 kilogram sampah anorganik per hari.
- Kutai Kartanegara: 40 SPPG, 95.491 penerima manfaat, menghasilkan 2.769,18 kilogram sampah organik dan 811,09 kilogram sampah anorganik per hari.
- Bontang: 20 SPPG, 39.662 penerima manfaat, menghasilkan 1.232,25 kilogram sampah organik dan 208,82 kilogram sampah anorganik per hari.
- Balikpapan: 33 SPPG, 57.134 penerima manfaat, menghasilkan 837,64 kilogram sampah organik dan 147,70 kilogram sampah anorganik per hari.
- Kutai Timur: 16 SPPG, 45.153 penerima manfaat, menghasilkan 877,00 kilogram sampah organik dan 122,00 kilogram sampah anorganik per hari.
- Berau: 14 SPPG, 27.264 penerima manfaat, menghasilkan 657,53 kilogram sampah organik dan 79,82 kilogram sampah anorganik per hari.
- Penajam Paser Utara: 11 SPPG, 16.071 penerima manfaat, menghasilkan 482,48 kilogram sampah organik dan 50,26 kilogram sampah anorganik per hari.
- Kutai Barat: 3 SPPG, 8.224 penerima manfaat, menghasilkan 141,59 kilogram sampah organik dan 15,19 kilogram sampah anorganik per hari.
- Paser: 3 SPPG, 5.081 penerima manfaat, menghasilkan 103,43 kilogram sampah organik dan 13,43 kilogram sampah anorganik per hari. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id