Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti langit Kalimantan 2026. Tapi ini bukan kali pertama. Selama lebih dari 40 tahun, Pulau Borneo berulang kali terbakar dan menjadi langganan kabut asap di Asia Tenggara.
Polanya hampir sama, musim kemarau panjang disertai aktivitas manusia. Pulau Kalimantan dipenuhi gambut, sehingga ketika terjadi pembukaan lahan dengan cara dibakar, lahan gambut yang mengering akan membuat api cepat menyebar dan sulit dipadamkan.
Berikut rangkuman sejarah karhutla di Kalimantan, dirangkum Akurasi.id dari berbagai sumber resmi.
1. 1982-1983: Kebakaran Masif, Ancam Ekosistem Orangutan
Kebakaran hutan hebat pada 1982–1983 adalah salah satu bencana ekologis terbesar dalam sejarah Indonesia. Pada saat itu, dampak kebakaran atau asap bahkan sampai ke negeri tetangga, Malaysia dan Brunei. Akibatnya, banyak satwa liar, termasuk orangutan, mati. Akibat kehilangan sumber pakan, stress, dan peningkatan perburuan.
Tak hanya itu, sekira 3,6 juta hektare hutan terbakar di Kaltim dan Kalteng. Penyebabnya, El Nino sangat kuat ditambah adanya pembukaan lahan transmigrasi. Peristiwa ini jadi bukti lahan gambut Kalimantan sangat rentan terbakar.
2. Kebakaran 1997-1998: Asap Tutup 5 Negara
Bencana terparah dalam sejarah. Melansir BNPB dan World Bank, kurang lebih 9,7 juta hektare hutan dan lahan terbakar.
Tak hanya itu, kabut asap tebal menutupi seluruh Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Singapura, bahkan Thailand. Dampaknya, melumpuhkan aktivitas ekonomi, bandara ditutup, sekolah diliburkan 2 bulan, serta menyebabkan gangguan kesehatan massal bagi ratusan ribu warga.
Banyak flora dan fauna endemik Kalimantan kehilangan habitat asli atau mati terjebak api. Kejadian ini melahirkan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution tahun 2002.
3. 2006 dan 2009: Awal Ekspansi Sawit
Pada tahun ini, karhutla mulai menjadi bencana tahunan. Ditandai pembukaan lahan sawit yang menyasar lahan gambut dan konsesi.
Dampaknya, pada 2006 Palangka Raya tertutup asap selama 40 hari. Asap pekat menurunkan jarak pandang secara drastis di berbagai kota di Kalimantan, hingga mengganggu jadwal penerbangan di bandara lokal. Kualitas udara memburuk hingga ISPU tembus “Berbahaya”, kasus ISPA meningkat, iritasi mata, dan gangguan paru-paru meningkat tajam pada anak-anak dan lansia. Kalbar dan Kalsel jadi episentrum baru.
4. Kebakaran 2015: “Bencana Kemanusiaan” Versi PBB
Pada 2015 kembali terjadi bencana karhutla secara masif. Sedikitnya 1,1 juta hektare lahan di Kalimantan terbakar, akibat El Nino, ditambah kemarau panjang dan pembakaran lahan.
Dampaknya, asap tebal meracuni udara selama berbulan-bulan. Ratusan ribu orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit paru-paru, dan kardiovaskular akibat kualitas udara yang memburuk secara ekstrem di Sumatera, Kalimantan, hingga negara tetangga.
Sekolah dilibuarkan. Pemerintah tetapkan status darurat di 6 provinsi Kalimantan. PBB dan organisasi internasional pun menyebutnya sebagai ‘bencana kemanusiaan’.
5. Kebakaran 2019: Hotspot Nasional Tembus 32 Ribu
Bencana di 2019 menyebabkan sedikitnya 1,6 juta hektare terbakar dan hotspot tembus 32 ribu secara nasional. Sementara itu, menurut Sipongi lahan di Kalimantan terbakar mencapai 684.599 hektare. Penyebabnya masih sama, kemarau panjang disertai pembukaan lahan untuk kebun dengan cara dibakar.
Kalteng dan Kalbar menjadi provinsi paling terdampak. Bencana ini memicu kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas warga, menyebabkan ratusan ribu kasus ISPA, mengganggu transportasi darat, laut, dan udara, serta menghasilkan polusi lintas batas negara.
6. Kebakaran 2023-2024: Pola Baru, Lokasi Bergeser
Titik kebakaran mulai bergeser ke wilayah penyangga IKN dan Kaltim. Dengan Kaltim, Kalteng, dan Kalbar menjadi provinsi paling terdampak di Kalimantan.
Melansir Sipongi Kemenhut, luasan lahan terbakar di Kalimantan 2023 mencapai 508.430 hektare. Sementara di 2024, mencapai 65.608 hektare.
7. Kebakaran Juli – Agustus 2026: El Nino Kembali
Di tahun ini, kemarau panjang ditambah fenomena El Nino kembali terulang. Dampaknya, Kalteng kembali menjadi provinsi paling terdampak, karena menjadi provinsi dengan lahan gambut terluas di Kalimantan.
Berikut data karhutla yang dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 20 Agustus 2026.
– Kalteng: 767 titik panas, 4.115 hektare terbakar
– Kalbar: 560 titik panas, 28.680 hektare terbakar
– Kalsel: 74 titik panas, 6.029 hektare terbakar
– Kaltim: 74 titik panas, 936 hektare terbakar, sebagian di penyangga IKN
– Kaltara: 3 titik panas
Kenapa Kalimantan Gampang Terbakar?
Total luas lahan gambut di Pulau Kalimantan adalah sekitar 4,5 juta hingga 4,7 juta hektare. Sekitar 90 persen dari total luasan tersebut terkonsentrasi di dua provinsi utama, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Terluas di pulau ini, juga secara nasional. Dengan sebaran 47 persen Kalteng dan 20 persen di Kalbar.
Oleh karena itu, ketika musim kemarau, gambut akan kering, dan bisa menyebabkan lahan terbakar sampai 5 meter ke dalam tanah dan sulit dipadamkan.
Kondisi ini diperparah oleh tradisi bakar lahan untuk buka kebun, baik untuk ladang, sawit, hingga karet. Kemudian, angin bisa membawa asap hingga ke provinsi lain, bahkan negeri tetangga.
Upaya Penanganan Dari Masa ke Masa
Upaya penanganan kebakaran hutan dari masa ke masa terus berkembang. Berikut upaya pemerintah dalam penanganan karhutla.
– 1980-2000-an: Pemadaman manual, hujan buatan.
– 2015-sekarang: Water bombing, MPA Masyarakat Peduli Api, kanal sekat gambut, patroli 24 jam TNI-Polri-BPBD.
– 2022-sekarang: Fokus pencegahan di wilayah penyangga IKN karena dampaknya langsung ke proyek nasional.
Hingga saat ini pemerintah dan masyarakat terus bersinergi melakukan pencegahan dan penanganan bencana kebakaran di Kalimantan. (*)
Penulis/Editor: Devi Nila Sari