Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kabut asap mulai merangsek ke sejumlah wilayah di Kota Samarinda seiring masih tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda pun mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak asap terhadap kesehatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Samarinda terkait dampak kabut asap yang mulai dirasakan masyarakat.
Koordinasi tersebut dilakukan menyusul adanya peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan yang diduga berkaitan dengan paparan asap.
“Sudah ada peningkatan sebaran penyakit gangguan saluran pernapasan akibat asap,” ujarnya.
Suwarso mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika berada di tempat umum. Warga juga diminta menghindari lokasi dengan tingkat kepekatan asap yang tinggi.
“Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah,” katanya.
Berdasarkan data Pusdalops-PB BPBD Kota Samarinda per 1 September 2026, tercatat 130 kejadian karhutla sejak Januari 2026. Total luas area yang terbakar mencapai 227,31 hektare.
Kecamatan Palaran menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 43 kejadian. Selanjutnya Sambutan 29 kejadian, Samarinda Utara 23 kejadian, dan Samarinda Ulu 19 kejadian.
Suwarso mengatakan seluruh kejadian tersebut telah tertangani. Meski demikian, BPBD tetap menyiagakan personel untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.
“Seluruh kejadian tersebut sudah tertangani. Namun, jika nanti muncul kebakaran baru, tentu akan kembali kita datangi dan tangani,” tuturnya.
Ia menjelaskan, penanganan karhutla dilakukan melalui kolaborasi antara TNI, Polri, relawan, BPBD Provinsi Kalimantan Timur, dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).
Jika kebakaran terjadi di sejumlah titik secara bersamaan, personel dan sumber daya akan dibagi berdasarkan kebutuhan di bawah komando posko siaga darurat.
“Kita bahu-membahu. Bahkan, apabila kebakaran terjadi di lebih dari satu titik secara bersamaan, kita langsung membagi personel dan sumber daya di bawah komando posko siaga darurat,” sebutnya.
Menurut Suwarso, salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla adalah medan yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika api berada di lahan gambut yang cukup dalam karena petugas harus menjangkau titik api yang berada di bawah permukaan tanah.
Keterbatasan sumber air juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman.
Terkait penyebab kebakaran, Suwarso menyebut sekitar 90 persen kasus karhutla di Samarinda diduga dipicu faktor manusia (human error), seperti pembakaran lahan yang tidak terkontrol.
Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api melalui layanan darurat 112 yang dapat diakses secara gratis selama 24 jam. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id