654 Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam, Petani di Samarinda Manfaatkan Void Eks Tambang

Kekeringan melanda Samarinda. Petani terpaksa manfaatkan void eks tambang untuk pengairan lahan pertanian.
Devi Nila Sari
2K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kekeringan yang melanda Samarinda mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Sekitar 654 hektare lahan persawahan dilaporkan mengalami kekeringan dan berpotensi gagal tanam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena petani tidak mendapatkan pasokan air yang cukup untuk memulai masa tanam.

“Sekitar 654 hektare lahan mengalami kekeringan, sehingga berpotensi mengalami gagal tanam,” kata Suwarso.

Ia menjelaskan, pada kondisi normal para petani seharusnya mulai melakukan pengolahan lahan dan penanaman pada awal September. Namun, kekeringan membuat aktivitas tersebut tertunda.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar, pemerintah mulai mencari sumber air alternatif. Salah satunya dengan memanfaatkan void eks tambang yang telah melalui pengujian kualitas air oleh dinas lingkungan hidup (DLH).

Air Void Layak untuk Pertanian, Tapi Belum Layak untuk MCK dan Konsumsi

Air dari sejumlah void kemudian dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan pengairan persawahan.

“Dari DLH sudah melakukan survei langsung dan menyatakan air tersebut layak untuk kepentingan pertanian, tetapi belum layak untuk kebutuhan MCK,” jelasnya.

Sejauh ini, salah satu lokasi yang telah mendapatkan suplai air berada di Makroman. Sekitar 42 hektare lahan di wilayah tersebut masuk dalam penanganan.

Selain Makroman, suplai air juga diarahkan ke sejumlah kawasan seperti Serayu, Betapos, Bukuan dan Bantuas.

Secara keseluruhan, Suwarso menyebut sekitar 207 hektare lahan telah berhasil mendapatkan penyiraman atau suplai air.

“Totalnya sekitar 207 hektare yang sudah berhasil kita lakukan penyiraman atau suplai air,” ungkapnya.

Untuk Makroman, terdapat dua lokasi void yang telah disurvei. Namun, baru satu lokasi yang dimanfaatkan karena baru satu kelompok tani yang menggunakannya, yakni Kelompok Tani Harapan Baru.

Selanjutnya, Kelompok Tani Karanganyar juga dipersiapkan untuk memanfaatkan sumber air tersebut.

Lokasi lainnya berada di Tanah Merah, tepatnya di belakang koramil, untuk membantu pengairan di wilayah Serayu.

Sementara di Betapos, pemenuhan kebutuhan air pertanian masih mengandalkan Sungai Karang Mumus. Air sungai dibendung, kemudian dipompa untuk dialirkan ke lahan pertanian.

BPBD juga telah menyiapkan dua unit mesin pompa air berkapasitas besar. Pompa tersebut akan disalurkan berdasarkan koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

“Kami tinggal menunggu koordinasi dengan dinas ketahanan pangan dan pertanian mengenai kelompok tani mana yang membutuhkan. Setelah itu akan segera kita distribusikan,” tuturnya.

Suwarso menegaskan, pemanfaatan air dari void eks tambang hanya ditujukan untuk kebutuhan pertanian berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air.

“Pemanfaatan air hanya untuk kebutuhan pertanian saja, bukan untuk dikonsumsi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana