Kaltim.akurasi.id, Bontang – Di antara berbagai hewan khas Kalimantan Timur, burung enggang menjadi salah satu satwa yang paling dikenal sekaligus dihormati. Burung berparuh besar ini tidak hanya memiliki penampilan yang unik, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Dayak. Bahkan, bentuk burung enggang kerap dijadikan motif ukiran, hiasan rumah adat, hingga lambang berbagai lembaga di Kalimantan.
Secara umum, sebutan burung enggang mengacu pada kelompok burung rangkong atau hornbill yang termasuk dalam famili Bucerotidae. Pulau Kalimantan menjadi habitat bagi delapan spesies enggang, di antaranya Enggang Badak (Buceros rhinoceros), Enggang Gading (Rhinoplax vigil), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), dan Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus). Dari berbagai jenis tersebut, Enggang Badak paling sering dijadikan simbol budaya Kalimantan Timur.
Burung enggang mudah dikenali dari ukuran tubuhnya yang besar serta paruh panjang dengan tonjolan keras di bagian atas yang disebut casque. Pada Enggang Badak, tonjolan tersebut berwarna merah jingga dengan perpaduan kuning sehingga tampak mencolok ketika terbang. Burung dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 90 hingga 127 sentimeter, dengan bentang sayap mencapai lebih dari 1,5 meter. Warna bulunya didominasi hitam, sedangkan ekornya berwarna putih dengan pita hitam di bagian tengah.
Selain penampilannya yang khas, burung enggang memiliki suara kepakan sayap yang sangat keras. Bahkan suara tersebut dapat terdengar dari jarak ratusan meter ketika burung ini melintas di atas kanopi hutan.
Habitat utama burung enggang adalah hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan yang masih lebat. Di Kalimantan Timur, satwa ini dapat dijumpai di kawasan hutan primer seperti Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Wehea, Taman Nasional Kayan Mentarang, hingga sejumlah kawasan konservasi lainnya. Burung enggang sangat bergantung pada pohon-pohon besar sebagai tempat bersarang. Mereka umumnya memilih lubang alami pada batang pohon berusia puluhan hingga ratusan tahun. Karena itu, keberadaan hutan primer menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup spesies ini.
Burung enggang termasuk satwa omnivora. Makanan utamanya berupa buah-buahan hutan, terutama buah ara atau ficus, yang menjadi sumber energi utama. Selain itu, burung ini juga memangsa serangga, kadal, ular kecil, hingga mamalia berukuran kecil. Keberadaan burung enggang memiliki peran penting bagi ekosistem hutan. Satwa ini dikenal sebagai penyebar biji alami karena biji buah yang dimakannya akan tersebar ke berbagai lokasi melalui kotorannya. Peran tersebut membantu regenerasi pohon-pohon hutan sehingga enggang sering dijuluki sebagai penjaga hutan tropis.
Bagi masyarakat Dayak, burung enggang bukan sekadar satwa liar. Burung ini melambangkan keagungan, kebijaksanaan, keberanian, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Motif burung enggang banyak ditemukan pada ukiran rumah lamin, pakaian adat, hingga tarian tradisional. Dalam sejumlah tradisi, burung ini dipercaya sebagai pembawa pesan dari dunia atas sehingga keberadaannya sangat dihormati. Karena nilai budayanya yang tinggi, burung enggang juga ditetapkan sebagai maskot fauna Provinsi Kalimantan Timur.
Populasi burung enggang di alam mengalami penurunan akibat hilangnya habitat dan perburuan liar. Meskipun jumlah pastinya sulit dipastikan karena hidup menyebar di kawasan hutan yang luas, berbagai penelitian menunjukkan tren populasi yang terus menurun pada beberapa spesies. Status konservasi setiap jenis enggang berbeda-beda. Enggang Badak (Buceros rhinoceros) berstatus Rentan (Vulnerable) menurut IUCN karena populasinya terus berkurang akibat deforestasi dan perburuan.
Sementara itu, Enggang Gading (Rhinoplax vigil) menghadapi kondisi yang jauh lebih memprihatinkan. Spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) setelah mengalami penurunan populasi lebih dari 80 persen dalam tiga generasi terakhir, terutama akibat perburuan untuk mengambil casque atau “gading enggang” yang diperdagangkan secara ilegal. Di Indonesia, seluruh spesies burung enggang telah dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan sehingga dilarang untuk ditangkap, diperdagangkan, maupun dipelihara tanpa izin.
Pelestarian burung enggang tidak hanya dilakukan melalui perlindungan satwanya, tetapi juga dengan menjaga hutan tempat hidupnya. Berbagai program konservasi di Kalimantan Timur meliputi pemantauan populasi, patroli anti-perburuan, rehabilitasi habitat, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga satwa liar. Sebagai salah satu hewan khas Kalimantan Timur, burung enggang memiliki nilai ekologis sekaligus budaya yang sangat tinggi. Menjaga kelestariannya berarti ikut melindungi hutan hujan tropis Kalimantan beserta seluruh kehidupan yang bergantung di dalamnya. Burung enggang bukan hanya kebanggaan masyarakat Dayak, tetapi juga warisan alam Indonesia yang harus tetap lestari untuk generasi mendatang. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi