Kerak telor merupakan jajanan khas Betawi yang menawarkan cita rasa unik. Tak heran, jajanan ini terus dilestarikan hingga sekarang.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Di tengah semarak Pasar Ramadan di GOR Segiri Samarinda, aroma khas kerak telor menyeruak diantara ratusan jajaran pedagang kuliner. Bau gurih dari ketan bakar, telur, dan serundeng yang berpadu dalam wajan panas menarik perhatian banyak pengunjung.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya sekadar jajanan unik, tetapi bagi Firman (20), kerak telor adalah bagian dari sejarah dan budaya yang harus terus diperkenalkan.
“Ini bukan cuma soal jualan atau cari untung, mas. Saya ingin memperkenalkan makanan khas Betawi kepada masyarakat Samarinda,” kata Firman sambil cekatan membalik kerak telor di atas bara arang.
Meski lahir dan besar di Samarinda, Firman berasal dari keluarga Betawi yang telah lama merantau. Sejak 2011, keluarganya sudah menjual kerak telor, dan kini ia melanjutkan usaha tersebut dengan semangat yang sama.
Bagi Firman, menjaga keaslian kerak telor adalah sebuah keharusan. Ia tetap mempertahankan metode memasak tradisional dengan tungku arang, meskipun saat ini banyak pedagang yang beralih ke kompor gas untuk efisiensi.
“Iya mas, saya masih pakai arang. Rasanya lebih otentik, aromanya juga lebih enak,” ujarnya sambil sesekali mengipasi bara api agar tetap menyala.
Proses pembuatan kerak telor memang membutuhkan kesabaran. Firman memulai dengan menuangkan ketan putih ke wajan, lalu mencampurnya dengan telur bebek atau ayam.
Setelah itu, ia membalik wajan sehingga kerak telor matang langsung di atas bara api, menciptakan tekstur yang renyah di bagian bawah. Sentuhan terakhir adalah taburan serundeng dan bawang goreng, yang semakin memperkaya cita rasa.
Meskipun mempertahankan cara tradisional, ia tetap beradaptasi dengan selera pelanggan yang beragam. Selain varian klasik, ia kini menawarkan beberapa rasa baru.
“Ada yang suka pedas, jadi saya tambahkan cabai bubuk. Ada juga yang minta keju atau suwiran daging,” jelasnya.
Saat ini, Firman menjual lima varian kerak telor. Diantaranya, Kerak Telor Ayam, Kerak Telor Bebek, Kerak Telor Pedas, Kerak Telor Keju dan Kerak Telor Daging,” sebutnya sambil menuangkan arang pada tungku.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung pilihan rasa dan topping.
Tantangan Jajanan Kerak Telor di Kota Tepian
Menjajakan kerak telor di Samarinda tentu bukan tanpa tantangan. Firman harus bersaing dengan makanan khas setempat yang lebih dikenal masyarakat.
Baca Juga
“Kalau di Jakarta, kerak telor masih sering dijual di tempat wisata atau acara budaya. Di sini, orang masih banyak yang belum tahu,” katanya.
Selain itu, mendapatkan bahan baku yang sesuai juga menjadi kendala. “Ebi dan serundeng harus saya pesan dari Jakarta. Di sini ada, tapi rasanya kurang pas,” ujarnya.
Ia juga menuturkan, menjajakan kerak telur di Samarinda juga tidak mudah, karena belum ada tempat yang pasti untuk menjual makanan khas betawi ini.
“Di Samarinda, saya hanya bisa jualan saat Ramadan atau event-event tertentu saja, selain itu tidak jual mas karena susah cari tempatnya,” ungkapnya.
Namun, Ramadan menjadi momen emas bagi Firman untuk memperkenalkan kerak telor kepada lebih banyak orang. Setiap tahunnya, ia selalu berjualan di Pasar Ramadan GOR Segiri, tempat yang ramai dikunjungi warga Samarinda yang mencari takjil dan makanan berbuka.
“Ini kesempatan bagus. Banyak yang baru pertama kali coba, terus kaget karena rasanya unik,” katanya sambil melayani seorang pelanggan yang penasaran dengan kerak telor.
Saat matahari mulai terbenam dan suasana Pasar Ramadan semakin ramai, kedai sederhana Firman terus dipenuhi pelanggan. Beberapa di antaranya datang karena penasaran, sementara yang lain merasa rindu akan cita rasa khas jajanan betawi ini.
Di tengah hiruk-pikuk pasar dan aroma makanan yang menggoda, Firman tetap bersemangat menjalankan usahanya.
“Selama masih ada yang mau mencoba, saya akan terus berjualan,” katanya penuh keyakinan.
Sejarah Kerak Telor
Kerak telor bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari sejarah masyarakat Betawi.
“Dulu, kerak telor lebih banyak dibuat untuk acara khusus. Bukan semua orang bisa makan,” ujar Firman.
Seiring waktu, kerak telor menjadi ikon kuliner Betawi, terutama dalam perhelatan besar seperti Pekan Raya Jakarta. Kini, makanan ini semakin langka di luar daerah asalnya, sehingga usaha Firman menjadi langkah kecil untuk melestarikan warisan kuliner ini.
Makanan ini dipercaya sudah ada sejak tahun 1920-an, ketika masyarakat Betawi di kawasan Menteng mulai mengolah kelapa dan beras ketan menjadi hidangan yang lezat dan mengenyangkan.
Di masa kolonial Belanda, kerak telor sempat menjadi makanan eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas. Namun, pada era 1970-an, para pedagang mulai menjajakan makanan ini di sekitar Monas, menjadikannya salah satu ikon kuliner Jakarta yang bisa dinikmati oleh semua orang.
“Orang tua saya selalu cerita, dulu kerak telor itu makanan mahal. Tapi sekarang, siapa saja bisa menikmatinya. Saya senang bisa melestarikan makanan ini, meskipun jauh dari kampung halaman,” ujar Firman dengan bangga. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari