Semarak perayaan HUT ke-78 Republik Indonesia tak begitu dirasakan sebagian pedagang bendera musiman di Samarinda. Mereka mengibarkan bendera putih karena tahun ini sepi pembeli.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dari pinggir jalan sampai daerah pemukiman sudah semarak dengan dekorasi perayaan HUT ke-78 Republik Indonesia. Namun, semarak itu tak begitu dirasakan sebagian pedagang bendera musiman. Mereka mengibarkan bendera putih karena tahun ini sepi pembeli.
Hal itu dirasakan Erwin (41), pedagang bendera musiman asal Garut, Jawa Barat, yang berjualan di Jalan PM Noor, Sempaja Utara, Samarinda. Ia mengaku tahun ini lebih banyak buntung daripada untung. Pasalnya, masyarakat lebih memilih belanja online.
”Tahun ini lebih banyak apes. Capek iya, enggak dapat uang karena sepi,” ujar lelaki yang sudah 10 tahun jadi pedagang bendera musiman itu. Minggu (13/08/2023).
Kata dia, kecendrungan orang-orang beli online (daring) berdampak besar pada bisnisnya. Dia bilang, biasanya ia menjual bendera mulai dari harga Rp 30.000 untuk ukuran paling kecil. Dan yang paling besar dihargai Rp 180.000.
“Kalau online sepertinya lebih murah dari kita-kita (pedagang musiman). Makanya banyak masyarakat yang memilih belanja online,” kata Erwin sambil menatap sisa-sisa barang dagangan.
Pun dia bilang, rata-rata kenaikan harga bendera pertahunnya Rp 5.000 hingga Rp 7.000. Akan tetapi, karena pembeli sepi ia menjual bendera dengan harga yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Walaupun ada kenaikan harga. Kita tetap menjual sama seperti tahun-tahun kemarin. Karena pembeli sepi,” jelasnya.(*)
Penulis : Bintang Sabaruddin Syukur
Editor: Fajri Sunaryo