Kaltim.akurasi.id, Bontang – Di tengah belantara Kalimantan Timur, mengalir sebuah sungai yang sejak lama menjadi jalur kehidupan bagi masyarakat di sepanjang bantarannya. Sungai Belayan, anak sungai terbesar di bagian hulu Sungai Mahakam, membentang sepanjang sekitar 319 kilometer dengan luas daerah aliran sungai hampir 10.000 kilometer persegi. Sungai ini melewati tiga kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, yaitu Tabang, Kembang Janggut, dan Kenohan, sebelum akhirnya bermuara ke Mahakam di dekat Muhuran, Kotabangun, dan Bukit Tinjawang.
Hulu Sungai Belayan berada di kawasan pegunungan pedalaman dengan ketinggian mencapai 1.370 meter di atas permukaan laut. Dari sana, air mengalir deras menuju hilir, melewati desa-desa Dayak Kenyah seperti Ritan Baru di Kecamatan Tabang. Dulu, sebelum jalan darat dibangun, sungai ini menjadi satu-satunya akses menuju wilayah tersebut. Perjalanan dari Samarinda ke Tabang bisa memakan waktu satu hingga dua hari dengan perahu, sementara dari Tabang ke Tenggarong butuh dua hari semalam. Hingga kini, meski infrastruktur darat sudah berkembang, sungai tetap menjadi jalur penting bagi warga.
Lebar sungai di beberapa titik cukup mengesankan. Di Kecamatan Kenohan, lebarnya sekitar 120 meter dengan kedalaman hingga 16 meter, sementara di Kembang Janggut bisa mencapai 180 meter. Debit air rata-rata di dekat muara sekitar 556 meter kubik per detik, meski bisa melonjak jauh lebih tinggi saat musim hujan. Curah hujan di kawasan ini cukup tinggi, rata-rata 2.780 mm per tahun, dengan puncak di bulan Desember. Iklim hutan hujan tropis membuat suhu rata-rata tahunan berkisar 23 derajat Celsius.
Bagi masyarakat setempat, Sungai Belayan bukan sekadar aliran air. Ia menjadi sumber air sehari-hari, tempat mencari ikan, bahkan lokasi penambangan emas tradisional. Di sepanjang sungai, terutama di hilir, berdiri banyak dermaga yang digunakan untuk mengangkut batu bara dari tambang-tambang di Kutai Kartanegara menuju pelabuhan ekspor. Aktivitas pertambangan ini memang menjadi tulang punggung ekonomi daerah, tetapi di sisi lain menimbulkan tantangan sedimentasi. Aliran sungai perlu dikeruk secara berkala agar tetap lancar dan tidak mudah meluap saat banjir.
Secara ekologi, Sungai Belayan memiliki nilai penting. Sungai ini menjadi salah satu habitat Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik yang statusnya semakin terancam dan masuk daftar merah IUCN. Selain itu, burung kuntul atau bangau putih juga sering terlihat di sekitar perairan. Di hulu, khususnya di Desa Muara Ritan, terdapat pulau kecil di tengah sungai yang belakangan mulai dilirik sebagai potensi wisata alam. Warga setempat bahkan menyediakan feri penyeberangan dengan tarif terjangkau untuk pengunjung yang ingin menikmati keindahan pulau tersebut.
Masyarakat Dayak di sekitar hulu sungai dikenal mahir menyumpit dan mengukir kayu. Tradisi mereka masih hidup berdampingan dengan modernisasi yang datang melalui industri batubara dan infrastruktur baru, termasuk jembatan-jembatan yang dibangun di atas sungai. Namun, tantangan tetap ada. Erosi di bantaran sungai sering merusak rumah warga, dan banjir menjadi ancaman rutin di musim hujan.
Sungai Belayan mencerminkan wajah Kalimantan Timur yang kaya sekaligus rentan. Ia menyimpan sejarah panjang perjalanan suku Dayak dan Kutai, menjadi jalur ekonomi vital, sekaligus rumah bagi satwa langka. Menjaga kelestarian sungai ini berarti menjaga keseimbangan antara pembangunan dan warisan alam yang tak ternilai. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi