Tantangan Pertanian Organik di Kaltim: Tanah Asam dan Produksi Terbatas

Devi Nila Sari
325 Views

DPTPH Provinsi Kaltim ungkap sejumlah tantangan dalam upaya pengembangan pertanian organik di daerah.

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Sebagai provinsi yang kaya akan sumber daya alam (SDA), Kaltim terus mendorong pengembangan pertanian organik untuk meningkatkan kualitas pangan dan menjaga kelestarian lingkungan. Namun, tidak dipungkiri terdapat sejumlah tantangan yang membuat proses perkembangan ini tidak secepat daerah lain.

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur, Siti Farisya Yana menyampaikan, salah satu tantangan utama adalah kondisi tanah di Kaltim yang kurang subur dan memiliki tingkat keasaman yang tinggi.

“Tanah di Kaltim ini agak unik. Kalau di Jawa, mungkin komoditas tertentu bisa tumbuh dengan mudah, tapi di sini kita perlu treatment (penanganan) khusus,” tuturnya di Samarinda, Senin (23/12/2024).

Ia menjelaskan, tingkat keasaman tanah yang tinggi membuat akar tanaman sulit menyerap nutrisi.

“PH tanah yang asam ini seperti membuat akar tanaman sariawan, sehingga pupuk tidak bisa terserap dengan baik,” tambahnya.

Selain kondisi tanah, ketersediaan pupuk organik juga menjadi kendala. Pupuk organik memang bagus, tapi produksinya belum bisa memenuhi kebutuhan. Proses pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan mikroorganisme tertentu.

Meskipun menghadapi tantangan, ia optimis bahwa pertanian organik di Kaltim memiliki potensi besar.

“Jangan khawatir, meski butuh waktu yang lebih lama, pertanian organik akan memberikan keuntungan yang lebih besar di masa depan. Produk organik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sertifikasi organik untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian. “Dengan sertifikasi organik, produk kita bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu, kita juga harus meningkatkan kuantitas produksi agar bisa memenuhi permintaan pasar,” pungkasnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nla Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana