Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda memberi ultimatum kepada para pedagang Pasar Pagi yang hingga kini belum menempati lapak yang telah mereka terima. Pemerintah menetapkan batas waktu hingga akhir Agustus 2026. Jika tetap tidak ditempati, hak penggunaan lapak akan dicabut dan dialihkan kepada pedagang lain yang siap berjualan.
Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kebijakan tersebut diambil agar proses revitalisasi Pasar Pagi benar-benar memberikan manfaat dan aktivitas perdagangan segera kembali normal.
“Kami sudah memberikan ultimatum bahwa paling lambat akhir Agustus lapak tersebut harus sudah ditempati. Jika tidak, lapak akan dikembalikan kepada pemerintah daerah untuk kemudian diberikan kepada pedagang yang benar-benar siap dan ingin berjualan,” tegas wanita dengan sapaan Yama tersebut.
Disdag juga akan melakukan berbagai langkah pendukung agar pedagang segera menempati kiosnya. Salah satunya adalah pembenahan fasilitas penunjang seperti jaringan listrik serta kebutuhan dasar lainnya yang masih menjadi keluhan pedagang.
“Kami akan mengambil langkah-langkah agar para pedagang segera menempati lapak yang telah dibagikan. Selain itu, ada beberapa hal yang akan kami lakukan, termasuk pembenahan fasilitas seperti jaringan listrik dan kebutuhan lainnya agar aktivitas perdagangan di sana dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Berdasarkan data Disdag, jumlah lapak yang telah tersedia di Pasar Pagi mencapai sekitar 2.500 unit hasil revitalisasi yang dilakukan secara bertahap. Dari jumlah tersebut, hampir seluruh lapak telah dialokasikan kepada pedagang.
Yama menjelaskan, lapak yang benar-benar belum terdistribusi hanya berkisar 10 unit. Sementara itu, persoalan utama saat ini bukan kekurangan penerima lapak, melainkan masih banyak pedagang yang belum mulai berjualan.
“Kurang lebih seribuan lapak memang belum ditempati. Sebenarnya lapak-lapak tersebut sudah dibagikan, tetapi para pedagang belum menempatinya,” jelasnya.
Berdasarkan keterangan resmi Disdag, jumlahnya berada di kisaran sekitar 1.000 lapak yang belum terisi. Adapun hampir seluruh lapak telah memiliki penerima, sehingga pemerintah kini hanya berfokus mendorong percepatan pengisian.
Revitalisasi Pasar Pagi sendiri merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar yang dikerjakan Pemkot Samarinda dalam beberapa tahun terakhir dengan nilai anggaran mencapai sekitar Rp468,5 miliar. Proyek tersebut diharapkan menghadirkan pasar yang lebih modern, tertata, aman, dan nyaman bagi pedagang maupun masyarakat.
Meski pembangunan fisik telah rampung dan proses pembagian lapak hampir selesai, tingkat keterisian yang belum optimal menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan lapak kosong dalam waktu lama. Lapak yang tidak dimanfaatkan akan ditarik kembali dan dialokasikan kepada pedagang lain yang benar-benar siap berjualan. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Suci Surya Dewi