Akibat Harga BBM Naik, Empat Armada DLH PPU Diistirahatkan

DLH PPU memilih mengistirahatkan empat armadanya lantaran kenaikan harga BBM non-subsidi. Meski demikian, DLH memastikan tetap memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.
Devi Nila Sari
1.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Penajam Paser Utara (PPU) membantah ada truk pengangkut sampah yang mangkrak di kawasan depan kantor DLH. Sejumlah kendaraan yang terlihat terparkir disebut hanya sedang diistirahatkan atau mengalami kerusakan berat. Sementara, empat armada lainnya diistirahatkan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH PPU, Kamaruddin menegaskan, operasional pengangkutan sampah tetap berjalan normal setiap hari.

“Enggak ada yang mangkrak. Sebagian sudah selesai kerja, sebagian yang rusak diistirahatkan,” kata Kamaruddin saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat 12 unit truk pengangkut sampah yang aktif beroperasi. Sementara empat unit lainnya diistirahatkan sebagai langkah efisiensi operasional akibat kenaikan harga bahan bakar.

“Sekarang kendaraan operasional ada 12 unit, empat diistirahatkan dulu karena kenaikan BBM,” ujarnya.

Menurutnya, pengurangan armada tidak mengganggu pelayanan pengangkutan sampah di wilayah PPU. DLH melakukan optimalisasi ritase angkutan dan memanfaatkan kendaraan roda tiga untuk kawasan tertentu.

“Efektif aja, enggak ada yang terganggu,” ucapnya.

Kamaruddin menerangkan, kendaraan roda tiga digunakan untuk pengangkutan di area perkantoran dan kawasan jarak dekat. Sampah kemudian dipindahkan ke bak besar sebelum diangkut menggunakan truk.

“DLH PPU saat ini mengoperasikan empat unit kendaraan roda tiga sebagai armada pendukung. Personel dari truk yang diistirahatkan juga dialihkan untuk membantu operasional kendaraan tersebut,” jelasnya.

Selain itu, Kamaruddin mengungkapkan, pihaknya tidak lagi memperbaiki beberapa armada yang sudah masuk kategori rusak berat. Lantaran rehabilitasi dinilai tidak ekonomis.

“Kalau rusak berat, rugi diperbaiki,” ujarnya.

Terkait mengapa harus menggunakan BBM non-subsidi, ia menjelaskan ,sebagian armada truk terbaru menggunakan bahan bakar Dexlite dan tidak dapat memakai Biosolar, karena berisiko merusak mesin kendaraan.

“Kalau pakai Biosolar, hancur mesinnya. Jadi memang penganggaran kami untuk Dexlite dan Pertamax. Nah, Pertamax kan tidak naik harganya, jadi lebih hemat,” jelasnya.

Meski dilakukan efisiensi, Kamaruddin memastikan, pelayanan pengangkutan sampah di wilayah Babulu tetap berjalan normal dan tidak mengalami pengurangan armada.

“Babulu tetap optimal, enggak termasuk yang dikurangi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana